Berita Gamefever.co.id – Dalam beberapa tahun terakhir nama Coach Nafari mulai mencuat di jagat esports Indonesia, khususnya di ranah Mobile Legends: Bang Bang (MLBB). Dari masa-masa dia sebagai pemain Dota 2 hingga beralih peran menjadi pelatih, perjalanan kariernya punya banyak liku menarik. Artikel ini akan membahas siapa Nafari, transformasi kariernya, gaya kepelatihan, tantangan yang dihadapi, hingga pandangan pribadi terhadap kiprahnya di dunia esports Indonesia.
Siapa sebenarnya “Nafari”?
Sebelum dikenal sebagai pelatih MLBB, Nafari adalah seorang pemain profesional Dota 2 bernama Azam Aljabar Nafari. Dalam catatan Liquipedia, dia aktif sebagai pemain terutama dalam tim-tim Dota 2 seperti Rex Regum QEON, The Prime, dan lain-lain. Prestasinya tidak melambung setinggi pemain tingkat dunia, namun pengalaman di skena kompetitif memberi landasan penting untuk kemudian beralih ke peran kepelatihan.
Ketika Dota 2 tak lagi menjadi arena utamanya, Nafari memutuskan untuk mengambil langkah baru: terjun ke dunia Mobile Legends. Dalam data Liquipedia MLBB, tercatat bahwa Azam “Nafari” Nafari kini aktif sebagai Coach yang bekerja untuk TODAK, dengan status “on loan” dari tim Alter Ego.
Artinya, dia tak secara langsung bergabung sebagai staf tetap di TODAK, melainkan dipinjam dari Alter Ego. Ini menunjukkan ada dinamika kontrak dan kolaborasi antar tim dalam ranah esports MLBB Indonesia. Status semacam ini relatif asing dibandingkan tim-skuad pemain, tapi mulai muncul ketika organisasi ingin fleksibilitas dalam formasi staf.
Karier kepelatihannya di scene MLBB sendiri dimulai sekitar tahun 2020, setelah masa-masa bermain Dota 2 ditinggalkan. Dari situ, ia melewati posisi asisten pelatih hingga akhirnya menjadi head coach.
Karir Dota 2 Nafari
Dalam catatan Liquipedia Dota 2, Azam “Nafari” Aljabar tercatat aktif sebagai pemain dari tahun 2011, kemudian periode lebih intens 2013 sampai 2019. Posisi utamanya adalah offlaner dan kadang-kadang juga menjabat sebagai kapten di tim-tim yang ia masuki.

Perannya sebagai offlaner berarti ia bertugas di jalur yang relatif sulit, sering harus mengorbankan lane sendiri, bertahan terhadap tekanan musuh, membentuk ruang bagi tim, serta sesekali melakukan rotasi ke tim atau mencuri penghargaan objektif kecil. Itu adalah posisi yang memerlukan ketahanan mental dan feel terhadap timing permainan.
Tim yang pernah dibela
Beberapa tim Dota 2 Indonesia yang pernah dibela Nafari antara lain:
- Rex Regum QEON (RRQ) – salah satu tim besar Indonesia, termasuk di fase awal karirnya.
- The Prime – tim yang sering menjadi afiliasi penting bagi Nafari. Ia beberapa kali berkiprah di The Prime dalam berbagai format.
- Nas Ne Dogonyat (NND) – namanya muncul di catatan sebagai tim perantara pada masa transisi.
Selama kariernya, ia mengalami beberapa perpindahan antar tim.
Prestasi dan pencapaian
Prestasi Nafari memang tidaklah seaglomeratif pemain top dunia, namun cukup menonjol di ranah lokal dan regional:
- Ia pernah menempati posisi runner up di ajang Asia Cyber Games Invitational: Best of the Best (2014) mewakili timnya.
- Ia juga pernah meraih gelar juara di South East Asia Dota 2 Championship bersama timnya, dengan kemenangan 3–2.
- Beberapa tempat 2nd atau 3rd di turnamen tingkat lokal seperti ESL Indonesia Championship, Asia Pacific Predator League Indonesia Qualifier, dan liga-liga Indonesia lainnya tercatat dalam riwayatnya.
- Menurut situs EsportsEarnings, total pendapatan turnamennya di Dota 2 mendekati US$2.664,99 dari sekitar 8 turnamen besar yang tercatat.
- Dari catatan Liquipedia, dalam daftar “Results” ia pernah finish di posisi 3rd atau 4th dalam ESL Indonesia Championship dan kualifikasi Predator League.
Meskipun tidak menembus level internasional papan atas atau ke The International, konsistensinya di dalam lanskap esports Indonesia membuat namanya tetap dikenang di skena Dota lokal.
Alasan “dibilang jago”
Kenapa banyak penggemar dan rekan di scene menilai Nafari sebagai pemain yang “jago”? Ada beberapa faktor yang mendukung persepsi tersebut:
1. Konsistensi dan pengalaman jangka panjang
Bermain selama belasan tahun, melewati berbagai perubahan patch, meta, dan persaingan tim lokal, menjadikan dia salah satu figur veteran. Tak semua pemain mampu bertahan lama di scene kompetitif. Keberlangsungan ini sendiri menjadi poin plus besar, ia telah “menetap” di lingkungan kompetisi Indonesia Dota dan melewati banyak era.
2. Kepemimpinan dan peran kapten
Karena ia sering bermain juga sebagai kapten, artinya dia dipercaya oleh tim untuk memimpin strategi di dalam game, mengatur koordinasi antar pemain. Bukan sekadar menjalankan perintah, kapten harus bisa beradaptasi dengan opsi draft, keputusan di momen kritis, dan pemilihan rotasi.
3. Hero signature dan fleksibilitas
Dalam catatan Liquipedia, hero andalannya adalah Batrider. Batrider adalah hero yang punya kontrol, kemampuan menculik (lariat), mobilitas melalui Flame Break atau Firefly dan cocok sebagai alat tekanan atau inisiasi. Memiliki hero signature artinya pemain punya daya spesialisasi di hero yang butuh feel tinggi.
Selain itu, sebagai pemain offlaner, dia juga harus fleksibel dalam menghadapi hero musuh, menyesuaikan build item dengan keadaan, dan kadang-kadang membantu mid atau team fight ketika peluang muncul.
4. Ketahanan mental menghadapi tekanan
Posisi offlane dan kapten sering menerima tekanan lebih besar: ketika tim tertinggal, offlaner sering jadi target kritik karena dianggap “tidak memberi kontribusi.” Tetap bertahan selama bertahun-tahun di scene kompetitif lokal berarti dia mampu menghadapi kritik, tekanan moral, dan ketidakpastian, hal-hal yang berujung pada keputusan karier (termasuk akhirnya hijrah menjadi coach).
5. Basis nama dan pengaruh dalam skena lokal
Kadang “jago” bukan hanya soal statistik, tapi soal reputasi dan pengaruh. Nama Nafari cukup dikenal di kalangan komunitas Dota Indonesia, pada masa kejayaan Dota lokal, dia termasuk salah satu pemain yang diperhitungkan. Kehadirannya di berbagai tim mapan seperti RRQ dan The Prime turut membuat dirinya menjadi benchmark pemain lokal.
Transformasi dari pemain ke pelatih
Berpindah dari menjadi pemain ke pelatih adalah langkah besar, terutama ketika Anda datang dari game berbeda (Dota 2 ke MLBB). Namun, itu bukan hal yang mustahil bagi seseorang yang punya pemahaman mendalam soal game kompetitif, sistem draft, strategi tim, dan manajemen ego.
Beberapa poin transisi penting yang bisa diamati:
1. Pemahaman mekanisme game
Bermain Dota 2 dan MLBB jelas berbeda dalam mekanik, map, hero, timing, dan banyak aspek teknis lain. Tapi ada kesamaan di aspek strategis: kontrol peta, rotasi, prioritas objektif, dan koordinasi tim. Nafari bisa memanfaatkan pengalaman di Dota 2 untuk memahami mindset kompetitif, meski dia harus belajar ulang banyak detail spesifik MLBB (misalnya meta hero, build item, lane dynamics).
2. Kemampuan komunikasi dan manajemen tim
Sebagai pelatih, kemampuan menjelaskan strategi, mengarahkan latihan, dan menjaga moral pemain adalah kunci. Seorang mantan pemain bisa punya keunggulan karena bisa “merasakan sendiri” tekanan di dalam tim dan memahami bagaimana menganalisis kesalahan dari sudut teknis dan psikologis.
3. Adaptasi terhadap tren dan perubahan patch
MLBB adalah game yang terus berubah lewat pembaruan patch, penyesuaian hero, dan meta yang dinamis. Pelatih sukses harus selalu berada satu langkah di depan: memprediksi hero apa yang akan kuat, bagaimana tim lawan bermain, dan menyesuaikan gaya tim sendiri. Nafari, bergabung dengan tim besar seperti Alter Ego dan kemudian dipinjam ke TODAK, tampaknya menunjukkan bahwa organisasi percaya dia punya kemampuan adaptif ini.
4. Membangun reputasi sebagai pelatih
Tidak semua mantan pemain sukses sebagai pelatih. Kuncinya adalah hasil nyata bersama tim. Dalam catatan Liquipedia MLBB, Nafari telah membawa timnya ke berbagai kompetisi, termasuk MPL Indonesia, Johor All Star Esports Championship, dan lain-lain. Hasil tak selalu sempurna, tapi konsistensi dan eksposur kompetitif penting untuk membangun kredibilitas.
Kiprah dan rekam jejak sebagai pelatih
Melihat riwayat perolehan prestasi sebagai coach, beberapa momen penting muncul:
- Di MPL Indonesia Season 15, tim yang dipimpin Nafari menempati posisi 4 besar pada tingkatan A-tier kompetisi.
- Dia juga pernah memimpin tim meraih gelar juara di Johor All Star Esports Championship 2023, mengalahkan pesaing melalui hasil 3 : 2.
- Dalam kompetisi domestik Indonesia, catatannya adalah tetap berada di tingkat atas meski tidak selalu juara, beberapa season ia harus menembus babak grup atau semifinal.

Sementara itu, sebagai pelatih TODAK, Nafari menghadapi tantangan keras di MPL Malaysia Season 16, melawan lawan-lawan agresif dan roster kuat. Berdasarkan data dari situs pertarungan pertandingan, pertandingan-pertandingan melawan tim seperti CG Esports, Aero Esports, dan SRG OG memperlihatkan kerasnya kompetisi di liga regional.
Menarik bahwa meski dia “dipinjam” ke TODAK dari Alter Ego, tanggung jawab dan ekspektasi terhadap hasil tetap tinggi. Jika gagal tampil maksimal, kritik tentu akan diarahkan ke coach (dan tim manajemen) tanpa melihat status pinjaman.
Gaya dan filosofi kepelatihan Nafari
Bicara soal gaya kepelatihan, tidak ada institusi resmi yang mempublikasikan “metode Nafari” dengan detail rinci untuk publik. Namun dari observasi pertandingan, pernyataan pemain, dan dinamika tim, kita bisa menarik beberapa pola:
- Ia tampak mengutamakan keseimbangan antara persiapan taktis dan fleksibilitas in-game. Artinya, timnya punya rencana awal (draft, komposisi hero, rotasi) tapi tidak beku ketika situasi berubah di match.
- Fokus pada disiplin latihan dan review replay menjadi bagian yang sangat penting. Dalam tim esports modern, analisis pertandingan lawan dan simulasi sangat krusial, dan Nafari tampak memprioritaskan ini.
- Pengembangan mental pemain, menjaga mindset agar tetap stabil saat kekalahan beruntun atau tekanan publik, kemungkinan juga menjadi aspek yang ia pegang kuat. Karena banyak sekali kisah pelatih yang gagal bukan karena strategi, melainkan kegagalan menjaga semangat pasukan.
Di mata saya “jika sebuah tim tampak goyah ketika kalah 2 game beruntun, itu bukan soal hero atau skill saja, itu soal stabilitas mental dan kepercayaan bahwa tim bisa bangkit.”
Tantangan terbesar yang dihadapi
Menjadi pelatih esports terutama dalam skala tim profesional bukan hal mudah. Beberapa tantangan yang kelihatan pada perjalanan Nafari:
1. Tekanan ekspektasi
Organisasi besar seperti Alter Ego atau TODAK memiliki standar tinggi dari sponsor dan penggemar. Jika hasil kurang memuaskan, kritik terhadap pelatih sangat tajam. Status pinjaman pun tidak bisa jadi alasan manajemen atau fans menerimanya dengan lapang dada.
2. Roster dan konflik internal
Tantangan ini sering muncul: pemain cedera, konflik ego, ketidakcocokan internal. Sebagai coach, ia harus menjembatani konflik dan menjaga keharmonisan. Dalam scene MLBB Indonesia yang kompetitif, rotasi pemain pun cepat, kadang pelatih harus bekerja dengan pemain baru dalam waktu singkat.
3. Perubahan meta dan patch balancing
MLBB kerap menerima pembaruan hero, balancing, dan sistem baru. Pelatih harus cepat menganalisis kekuatan baru, memprediksi hero unggulan, dan mengatur tim agar tetap relevan. Jika terlambat merespons, tim bisa tertinggal jauh.
4. Sumber daya dan manajemen organisasi
Tak semua tim punya fasilitas ala tim internasional besar. Pelatih harus mengoptimalkan fasilitas yang ada: ruang latihan, server, waktu latihan, logistik turnamen, hingga aspek finansial. Koordinasi dengan manajemen tim sangat penting agar pelatih dan pemain bisa fokus secara penuh pada kompetisi.
Pengaruh dan signifikansi di scene MLBB Indonesia
Dengan munculnya pelatih seperti Nafari, kita melihat kematangan struktural dalam esports Indonesia. Dulu sering tim hanya mengandalkan pemain bintang, tanpa sistem dukungan pelatih teknis. Sekarang, posisi coach mulai diakui penting untuk pencapaian jangka panjang.

Kehadiran Nafari membawa beberapa dampak:
- Menunjukkan bahwa karier di esports tidak berhenti hanya sebagai pemain, ada jalur pelatih yang bisa diambil bagi mereka yang punya visi strategis dan komunikatif.
- Menjadi contoh bagi tim-tim baru bahwa investasi ke staf teknis sama pentingnya dengan rekrut pemain top.
- Membantu menaikkan kualitas kompetisi lokal. Dengan standar pelatihan yang lebih tinggi, kompetisi MPL dan liga lokal menjadi makin kompetitif dan menarik untuk disaksikan.
Dalam pengamatan saya “semakin banyak coach dengan mentalitas profesional dan visi jangka panjang, semakin sedikit tim yang mengandalkan momen keberuntungan saja.”
Apa yang bisa diharapkan di masa depan
Seiring dirinya terus mengasah kemampuan dan reputasi, beberapa kemungkinan menarik bisa terjadi:
- Jika Nafari sukses membawa TODAK (atau kembali ke Alter Ego) meraih gelar juara MPL atau internasional, namanya bisa semakin dikenal di skala Asia Tenggara atau bahkan dunia.
- Bisa jadi suatu hari dia akan dilirik organisasi esports internasional untuk menjadi coach MLBB di level global atau pindah ke mid-tier tim SEA.
- Selain itu, pengalaman melatih dapat membuka jalan bagi karyanya di bidang analisis pertandingan, commentary teknis, atau pelatihan akademi pemain muda.
Yang jelas, perjalanan Nafari masih jauh dari selesai dan setiap musim akan membawa tantangan baru.

