fbpx
GameFever ID
Review

[Review] The Last of Us Part 2 – Indah Sekaligus Mengerikan

Tidak terasa sudah hampir empat tahun sejak pertama kali diumumkan pada acara PlayStation Experience 2016, The Last of Us Part II akhirnya rampung dan siap membagikan pengalaman baru. Banyak perasaan yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata ketika menyelesaikan game ini. Seperti yang sudah saya jelaskan di preview mengenai beberapa hal, Naughty Dog berhasil mengingatkan masa kecil saya. Masa di mana saya menghabiskan seharian penuh untuk bermain game saja.

Mulai dari visual yang memukau, mekanik baru yang lebih nyata, dan juga detail kecil yang membuat saya sedikit tertawa kecil karena kemiripannya dengan aslinya membuat saya semakin yakin bahwa game ini sangat layak untuk dimainkan. Bahkan saya yakin The Last of Us Part II bisa saja penantang untuk meraih gelar Game of The Year untuk tahun ini.

Di artikel preview pun saya sudah membagikan pengalaman bermain selama kurang lebiih 5 jam permainan, dan di review kali ini saya ingin sedikit membahas lebih dalam. Apa yang mampu ditawarkan The Last of Us Part II untuk para penggemar setianya. Berikut ulasan The Last of Us Part II dari penilaian pribadi saya.

Catatan: Dalam review ini, kami menjamin tidak adanya spoiler cerita sama sekali agar para kalian bisa mendapatkan pengalaman bermain yang menakjubkan. GameFever ID juga mengucapkan terima kasih kepada Sony PlayStation Asia yang telah menyediakan review code untuk The Last of Us Part II.

Semua screenshot akan kami update ketika The Last of Us Part II rilis secara resmi pada 19 Juni mendatang.

 

Kombinasi Mekanik Lama dan Baru

Mulai dari trailer hingga State of Play, Naughty Dog benar-benar mampu menunjukkan betapa indah dan mengerikannya dunia The Last of Us Part II. Detail – detail seperti rumput yang tinggi bisa membantu kalian dalam menghadapi musuh-musuh, sama sekali tidak mengalami penurunan grafis sedikit pun. Menurut saya, Naughty Dog berhasil membuat hal kecil seperti rumput bisa memiliki peran sangat penting dalam sebuah permainan. Kalian tidak akan 100% aman ketika bersembunyi di balik rumput, baik kalian sedang dalam posisi jongkok maupun tiarap. Musuh pun bisa melihat keberadaan kalian bila sudah dalam jarak pandang mereka. Apalagi ketika kalian tiarap di rumput yang pendek.

Mekanik-mekanik di seri sebelumnya juga masih bisa kalian temui di The Last of Us Part II, seperti mengumpulkan obat-obatan suplemen untuk menaikkan status kalian dan juga part untuk meng-upgrade senjata. Tidak ketinggalan juga mekanik di mana kalian bisa membuat barang-barang yang bisa membantu seperti molotov dan smoke bomb yang kembali hadir di sini. Bagi saya, hal ini masih cukup membuat frustasi di beberapa titik tertentu. Apalagi bila sudah berada di sebuah lokasi dengan keberadaan musuh yang terlalu banyak dan juga sedikitnya sumber daya yang ada. Tapi, itulah kenikmatan The Last of Us Part II bagi. Pemain dipaksa untuk kreatif dan pintar dalam menggunakan sumber daya untuk menghadapi musuh.

Kembali lagi, ini tergantung selera tiap pemain dan bagaimana mereka menyikapinya. Buat saya pribadi justru lebih senang menghadapi sebuah tantangan dalam game. Dan sesuai ekspektasi saya, Naughty Dog mampu menghadirkan tantangan baru di The Last of Us Part II.

Naugthy Dog sukses meramu dan menggabungkan mekanik lama dan baru. Mekanik lama pun jelas mengalami peningkatan dan penyesuaian. Penggabungan membuat permainan semakin hidup dan seru. Pemain bisa mengasah kemampuan survival mereka di tengah keadaan dunia yang masih kacau.

 

Dua Faksi yang Menjadi Gangguan Utama

Sesuai perkataannya, Naughty Dog benar-benar mengubah sistem AI di The Last of Us Part II. Kehadiran dua faksi baru membawa kesegaran di dalam permainan. Keduanya juga hadir dengan masing-masing keunggulan. Seperi faksi Washington Liberation Front atau disingkat WLF yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap ala militer. WLF juga kerap membawa anjing pelacak ketika berpatroli yang siap mencari keberadaan Ellie. Dengan menonjolkan kekuatan indra penciuman, kehadiran anjing di The Last of Us Part II benar-benar akan membuat kalian kewalahan dalam menghadapi musuh.

Berkat indra penciuman yang tajam, kalian harus memikirkan strategi baru agar tidak terdeteksi. Saya pun kerap ketahuan akibat penciuman anjing milik WLF ini. Terasa sedikit sulit memang, tapi adrenalin saya justru terpacu ketika menghadapi situasi seperti ini. Saya justru lebih senang dan menikmati permainan ketika menghadapi musuh secara frontal.

Selain WLF, ada satu lagi faksi yang harus kalian waspadai, yaitu Seraphites. Faksi yang satu ini justru lebih menyeramkan karena dapat menyerang di tengah kesunyian. Mereka menggunakan siulan sebagai kode dan kalian harus waspada bila mendengarnya. Selain siulan, mereka juga lihai dalam menggunakan panah untuk menyerang kalian. Apabila anak menancap ditubuh Ellie, pastikan kalian mencabutnya dengan cepat. Sebab, selama lama anak panah itu tertancap di tubuh Eliie, HP kalian akan terkuras terus menerus dan dapat membunuh Ellie secara perlahan.

Infected yang Masih Setia Menemani di Permainan

Tidak hanya kedua faksi, tentu kehadiran Infected jelas membuat The Last of Us Part II makin terasa mencekam. Selain kehadiran Infected lama seperti Runner, Clicker, Stalker dan Bloater, kalian juga bakal menjumpai jenis Infected baru di The Last of Us Part II. Kehadiran Infected baru pastinya akan memaksa kalian untuk mempunyai strategi baru karena mereka memliki kemampuan yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Neil Druckmann sendiri sempat menjelaskan di The Last of Us Part II, mereka menambahkan Infected baru yang dipastikan akan membuat pemain menemui tantangan baru. Contohnya hadirnya Shamblers yang sempat muncul di trailer terbaru The Last of Us Part II beberapa waktu lalu. Shamblers benar-benar akan berusaha mendekati kalian dimanapun kalian berada. Sebesar apapun usaha kalian untuk menghindar, Shamblers akan berlari dan meng-Charge kalian dan mengeluarkan Acid Spore yang akan mengurangi HP kalian perlahan-lahan. Pilihan kalian hanya dua melawan atau melewatinya, tapi tidak semua bisa kalian lewati jadi semoga beruntung.

Naughty Dog juga menambahkan satu jenis baru yang tidak akan saya sebutkan namanya di sini. Tujuannya tentu agar kalian dapat merasakan pengalamannya langsung nanti. Jenis Infected baru ini benar-benar akan membuat kalian panik dan mau tidak mau harus melawannya. Apabila kalian menyukai tantangan dan ingin mencoba memainkan game ini dengan mode tersulit, saya berani jamin Infected ini akan membuat kalian stres yang teramat sangat karena sulit untuk ditaklukkan.

Tidak ketinggalan, Stalker yang menempel di dinding. Tidak seru bukan kalau game ini tidak ada elemen mengejutkannya sama sekali? Percayalah, Stalker akan menjadi salah satu Infected yang paling kalian benci ketika kalian memainkan game ini. Selain kemampuannya yang bisa menempel di dinding, mereka juga tidak bisa terdeteksi oleh Hearing Mode kalian. Menyebalkan bukan?

 

Mini game untuk Rileks Sejenak

Di tengah intensnya permainan, Naughty Dog menyisipkan sesuatu yang bisa membuat pemain rileks di The Last of Us Part II. Yup! Bermain gitar yang dibuat menjadi sebuah mini game. Hal ini juga sudah ada di trailer pertama, di mana Ellie terlihat memainkan gitar di sebuah ruangan. Naughty Dog menyiapkan beberapa tempat di mana kalian bisa melatih keterampilan Ellie dalam memainkan gitar. Tidak perlu repot merasa bingung, Naughty Dog juga sudah menyiapkan sistem yang mudah untuk kalian ketika bermain gitar. Hal yang kalian perlukan hanyalah kunci dari lagu tersebut. Cukup menarik ya? Apabila merasa lelah dalam menghadapi WLF, Seraphites atau Infected, kalian bisa memainkan gitar untuk sekedar beristirahat sejenak.

Berbicara seputar musik, The Last of Us Part II masih menggunakan komposer yang sama dari seri sebelumnya. Entah kenapa musik juga memiliiki peranan penting di permainan. Ketika memainkan The Last of Us Part II dengan headset di telinga, saya dapat merasakan suasana yang tegang ketika melawan WLF, Seraphites, dan Infected. Bahkan terasa jauh lebih menegangkan dibandingkan hanya mendengar dari speaker yang ada di TV. Sepertinya Naughty Dog tahu betul bahwa game ini membutuhkan headset agar kalian bisa mudah mengetahui lokasi musuh kalian. Maka dari itu mereka menawarkan konsol khusus The Last of Us Part II, lengkap dengan controller dan juga headset spesialnya. Good job Gustavo Santaolalla!

 

Kualitas Grafis yang Sudah tak Diragukan Lagi

Grafis menjadi salah satu aspek yang ditonjolkan oleh Naughty Dog di The Last of Us Part II. Mengambil latar tempat kota Seattle pada tahun 2039, Naughty Dog berhasil mencapurkan gedung-gedung tinggi yang hancur dengan keindahan alam ketika ditinggalkan oleh manusia menjadi tempat yang ‘Instagram banget‘. Percayalah ketika saya menuliskan ini, kalian tidak akan bosan untuk mengambil foto di dalam permainan. Tidak sedikit juga foto-foto tersebut bisa digunakan sebagai wallpaper layar komputer. Pada awal permainan, Naughty Dog juga memberikan sedikit kebebasan bagi pemain menjelajahi kota Seattle untuk mendapatkan sumber daya untuk bisa membantu pemain. Gunakan kesempatan ini untuk menikmati keindahan dunia di The Last of Us Part II.

Berbicara soal dunia semi-linear yang sebentar, tidak sedikit saya merasa kebingungan menentukan arah tujuan karena besarnya map yang bisa dijelajahi. Walaupun ada pembatas dalam setiap daerah, Naughty Dog sama sekali tidak memberikan kalian arah tujuan. Jujur, ini membuat saya sedikit kesal karena ada beberapa daerah yang terlewatkan karena kalian tidak bisa kembali lagi ke daerah tersebut. Jadi sebagai saran, ketika memainkan The Last of Us Part II pastikan daerah tersebut sudah kalian jelajahi semua. Apalagi ketika kalian memainkan game ini dengan tingkat kesulitan yang tinggi, hal ini akan sangat membantu kalian.

Tanpa Multiplayernya

Berbeda dengan seri sebelumnya dan juga judul lainnya, kali ini Naughty Dog tidak membuat mode Multiplayer untuk The Last of Us Part II. Bagi yang penasaran, mode Multiplayer The Last of Us pertama mirip dengan Uncharted. Kalian akan dibagi menjadi dua kelompok dan saling mengeliminasi satu sama lain. Tidak menarik memang, tapi setidaknya hal ini bisa menjadi alasan untuk tetap memainkan The Last of Us bukan?

Bahkan Multiplayer di seri sebelumnya masih ramai oleh pemain hingga hari ini. Jadi menurut saya pribadi hal ini sangatlah disayangkan. Walaupun saya yakin keputusan ini diambil atas dasar perhitungan mereka sendiri. Semoga saja hilangnya mode Multiplayer ini tidak berpengaruh terhadap replayability atau kemampuan mengulang game ini ketika sudah menyelesaikan cerita utamanya.

 

Kesimpulan

Walaupun diterjang persolan cerita yang bocor, The Last of Us Part II masih layak untuk dimainkan. Apalagi buat kalian yang mengaku penggemar berat The Last of Us. Semasa permainan, The Last of Us Part II benar-benar membuat saya tidak bisa berkata apa-apa dan ikut hanyut bersama perasaan yang terbentuk dari keadaan di dalam permainan dan juga ceritanya yang emosional.

Grafis dan mekanik yang disediakan benar-benar membuat The Last of Us Part II wajib untuk dimainkan karena menghadirkan pengalaman yang luar biasa, apalagi keindahan kota-kotanya. Ketika memainkannya puluhan jam nanti, bisa dipastikan bakal membuat kalian penasaran dengan game ini dan juga jalan ceritanya. Di awal permainan, saya yakin bahwa kalian akan merasa bingung mengenai sebuah kejadian. Namun seiring berjalannya permainan, kalian akan mengetahui masalah yang terjadi di belakangnya. Jadi  cobalah untuk menikmati game ini di setiap momennya. Walaupun tidak ada mode Multiplayer, The Last of Us Part II masih menjadi pilihan solid untuk menjadi game yang harus kalian mainkan di tahun ini.

Berikut foto-foto dari The Last of Us Part II:

 

Related posts

Ubisoft Umumkan Tanggal Rilis Pasti untuk Watch Dogs: Legion

MongJi

Assassin’s Creed Valhalla Dapatkan Tanggal Rilis Pasti

MongJi

Ubisoft Akhirnya Resmi Umumkan Far Cry 6

MongJi