Kalau kamu lagi kangen RPG turn based yang rasanya modern, tapi tetap punya jiwa JRPG klasik, Clair Obscur: Expedition 33 itu tipe game yang bisa bikin kamu otomatis mikir, “Loh kok ini berani banget ya?” Ini bukan sekadar nostalgia, tapi game yang kelihatan niat dari arah kamera, desain dunia, sampai cara dia bikin pertarungan turn based terasa hidup. Dan yes, ini sudah rilis dan bisa dimainkan di PlayStation 5, Xbox Series, dan PC, bahkan masuk Game Pass dari hari pertama.
Sekilas dulu, Expedition 33 itu game tentang apa sih?
Sebelum ngomongin cocok tidaknya buat kamu, kita samain frekuensi dulu. Expedition 33 ini RPG single player dari Sandfall Interactive, dipublish Kepler Interactive, dibangun di Unreal Engine 5, dengan vibe dark fantasy yang inspirasinya Belle Époque Prancis. Jadi bayangin dunia elegan, romantis, tapi rasanya kayak ada kutukan yang bikin semua senyum terlihat “nanggung”.
Premis “Paintress” yang simpel, tapi nempel di kepala
Hook ceritanya itu soal Paintress, sosok misterius yang tiap tahun “melukis angka” dan bikin orang di usia tertentu lenyap. Tahun ini angkanya 33, dan kamu ikut rombongan Expedition 33 buat mutusin siklus itu. Premisnya terdengar lurus, tapi justru karena itu, semua yang terjadi di tengah jalan terasa tajam: siapa yang bohong, siapa yang pasrah, siapa yang ngotot hidup, dan kenapa dunia ini kayak punya aturan yang kejam banget.
GamePlay RPG Turn Based dari Clair Obscur: Expedition 33
Gameplay Clair Obscur: Expedition 33 itu intinya RPG turn based, tapi tiap turn tetap bikin kamu “melek” karena ada elemen timing real time buat nyerang dan bertahan. Jadi bukan pilih menu lalu santai nonton animasi doang.
1. Loop mainnya ngapain aja
Kamu bakal jalan jelajah The Continent, masuk area area buat cari jalan, loot, nyari rahasia, lalu ketemu musuh atau boss. Eksplorasi di sini lumayan rewarding karena banyak jalan buntu yang ujungnya item atau musuh opsional dengan hadiah bagus, plus ada platforming ringan jadi lompat lompat itu kepake.
Di perjalanan kamu bakal sering nemu Expedition Flag atau campsite buat istirahat. Ini berfungsi kayak checkpoint dan tempat beres beres sebelum lanjut.
2. Combat, turn based tapi tangan kamu tetep kerja
Saat battle, aksi dipilih dari menu (Attack, Skill, item, dll), tapi setelah kamu konfirmasi, sering ada timed button press buat maksimalin hasil. Bahkan ada skill yang high risk karena timing meleset bisa jadi bumerang.
Dodge, parry, counter
Pas musuh nyerang di turn mereka, kamu bisa:
- Dodge buat menghindar, timingnya lebih “ramah”
- Parry timingnya lebih ketat, tapi hadiahnya lebih gede: kamu bisa dapat AP tambahan dan kalau parry nya rapi bisa kebuka counterattack yang nyakitin
AP dan free aim: nembak titik lemah
Ada sistem Action Point (AP) buat pakai skill dan aksi tertentu. Salah satu ciri khasnya ada free aim (kayak nembak third person):
- Bisa dipakai buat narget weak point
- Biayanya 1 AP per tembakan, tapi tidak menghabiskan turn, jadi bisa nyicil dulu baru lanjut skill atau attack
Epic juga nyebut beberapa musuh tipe tertentu bisa ngehindar serangan biasa, dan lebih efektif kamu hajar pakai free aim ke weak point atau lewat counter.
Bonusnya, di luar battle kamu juga bisa free aim buat interaksi lingkungan, dan kamu bisa nembak musuh duluan buat stun supaya masuk battle dengan keuntungan first strike.
3. Build karakter dan progresnya
Kamu bisa ngebangun party dan naikin level enam karakter dengan kombinasi gear, stat, skill, dan sinergi antar karakter.
Setiap naik level, kamu dapat poin buat atribut (misalnya Vitality, Might, Luck, dan lain lain) plus poin buat skill tree, jadi kamu bisa arahkan style mainmu sendiri.
Pictos dan Lumina itu apa
Sistem build paling khasnya Pictos dan Lumina:
- Pictos itu aksesori yang kasih buff
- Kalau kamu menang 4 battle pakai Pictos itu, dia dianggap “mastered”
- Setelah mastered, buff nya bisa dipakai oleh semua anggota party lewat sistem Lumina points (poin Lumina naik tiap level, dan ada item konsumsi juga)
Intinya kamu bakal sering gonta ganti Pictos buat nambah koleksi buff, lalu mix and match Lumina biar build makin liar.
4. World map dan konten opsional
Game ini juga punya world map 3D model “RPG klasik” yang gede, isinya rahasia dan boss opsional. Jadi selain jalur cerita utama, kamu bisa wisata nyasar dulu buat cari tantangan dan reward.
5. Setting yang bikin lebih nyaman
Kalau kamu kesulitan timing, kamu bisa ubah difficulty kapan aja buat bikin window dodge dan parry lebih longgar. Bahkan ada opsi supaya game bantu input QTE biar kamu bisa fokus strategi dan nikmatin animasinya.
Perbandingan dengan 3 Game serupa dengan gameplay yang mirip !
Berikut 3 game pembanding yang paling nyambung buat ngebandingin gameplay Clair Obscur: Expedition 33, plus bedanya di bagian yang kerasa banget pas dimainkan.
1. Persona 5 Royal
Persona 5 Royal sama sama turn based, tapi “hook” utamanya beda.
Di Persona 5 Royal, inti serunya ada di eksploit weakness buat dapet One More, lalu oper turn lewat Baton Pass biar kombo makin panjang dan damage makin naik. Jadi rasanya kayak nyusun rantai giliran yang rapi dan efisien.
Sementara di Expedition 33, turn basednya dibikin lebih “aktif” lewat timing defense (dodge atau parry) pas musuh nyerang, jadi kamu gak cuma mikir strategi, tapi refleks juga kepake.
Kalau disederhanain:
- Persona 5 Royal: menang karena pintar baca weakness + rantai turn (lebih tactical di menu)
- Expedition 33: menang karena tactical + timing (parry/dodge) itu beneran ngaruh ke hasil
2. Sea of Stars
Sea of Stars itu pembanding yang paling dekat dari sisi “turn based tapi ada timing”.
Di Sea of Stars, banyak serangan dan skill bisa diperkuat lewat timed hits, dan kamu juga bisa timed block buat ngurangin damage. Jadi sensasinya bukan nunggu giliran doang, tapi ada ritme tombol yang bikin combat lebih hidup.
Bedanya, di Expedition 33, komponen real timenya yang paling kerasa biasanya datang dari defense (parry/dodge) yang jadi semacam “skill check” penting di banyak encounter.
Vibenya:
- Sea of Stars: timing itu bumbu yang bikin turn based lebih seru
- Expedition 33: timing, terutama defense, bisa jadi kunci utama biar kamu gak remuk
3. Like a Dragon: Infinite Wealth
Kalau kamu pengin pembanding dari turn based “modern” tapi beda rasa, Infinite Wealth cocok banget.
Di Infinite Wealth, kamu tetap turn based, tapi ada layer movement dan positioning: kamu boleh gerak dalam radius tertentu sebelum nyerang, dan posisi bisa ngasih bonus kayak lebih dekat atau nyerang dari belakang. Jadi strategi kamu bukan cuma “skill apa”, tapi juga “badan gue taruh di mana”.
Sementara di Expedition 33, fokusnya bukan positioning bebas, tapi lebih ke ketepatan timing (parry/dodge) dan pengelolaan aksi saat turn berjalan.
Ringkasnya:
- Infinite Wealth: turn based yang terasa “panggung”, kamu ngatur posisi buat bikin situasi ideal
- Expedition 33: turn based yang terasa “duel”, kamu baca pola lalu eksekusi timing buat selamat dan balas
Dunia dan vibesnya, cantik, muram, tapi susah dilupain
Game ini punya “rasa” yang beda. Banyak RPG yang cantik, tapi Clair Obscur itu cantiknya kayak lukisan museum yang kalau kamu tatap kelamaan malah bikin merinding. Kayak ada sesuatu yang salah di balik detail yang rapi.
Belle Époque versi dark fantasy, detailnya niat banget
Arsitektur, kostum, lighting, dan komposisinya beneran main di konsep clair obscur, kontras terang dan gelap. Ini bukan cuma gaya doang, tapi dipakai buat ngasih mood. Ada area yang keliatan megah, tapi kamu tetap ngerasa kecil. Ada tempat yang keliatan “hangat”, tapi atmosfernya kayak menipu. Di titik ini, art direction mereka jadi salah satu senjata utama.
Desain lokasi bikin kamu pengin foto, tapi juga pengin cepat cabut
Yang unik, banyak environment yang indahnya “tidak aman”. Kamu kadang pengin berhenti buat menikmati pemandangan, terus tiba tiba ngerasa, “Oke, ini bagus, tapi kok kayak mau ada yang nyergap ya?” Itu efek gabungan dari tata cahaya, warna, dan cara game nempatinnya. Jadi eksplorasi bukan cuma soal loot, tapi soal nyerap atmosfer.
Cerita dan karakternya, bukan sekadar drama, tapi ada “beban” yang kerasa
Kalau kamu suka RPG yang ceritanya bukan cuma dunia diselametin, tapi juga ada rasa kehilangan yang konsisten, Expedition 33 lumayan jago di bagian ini. Game ini sering bikin kamu inget kalau ekspedisi ini bukan liburan, ini orang orang yang jalan sambil sadar mereka mungkin tidak pulang.
Pacingnya enak, misterinya ditaruh rapi, tidak asal dilempar
Yang aku suka, banyak informasi dikasih pelan pelan. Kamu dijelasin secukupnya biar penasaran, tapi tidak bikin pusing. Lalu pas kamu mulai ngerasa paham, game ngasih twist kecil yang bikin kamu mikir ulang. Bukan tipe twist buat gaya gayaan, lebih ke “oh, ternyata selama ini aku salah nangkep niatnya”.
Voice acting dan delivery dialog terasa “mahal”
Performanya juga ikut ngangkat emosi. Saat karakter lagi marah, kamu bisa ngerasain marahnya bukan marah sinetron, tapi marah orang yang capek dan ketakutan. Saat karakter bercanda, bercandanya bukan buat menghibur pemain saja, tapi kayak mekanisme bertahan hidup. Banyak review juga muji voice acting sebagai salah satu poin kuat game ini.
Combat turn basednya, ini yang bikin orang kaget
Oke ini bagian yang paling sering bikin orang akhirnya “klik”. Expedition 33 itu turn based, tapi tidak pasif. Kamu tetap mikir taktik, tapi tangan kamu juga ikut kerja. Jadi bukan cuma pilih skill lalu nunggu animasi.
Turn based, tapi ada real time yang bikin deg degan
Saat nyerang atau bertahan, ada elemen timing, semacam timed action atau quick time style. Kalau kamu pas, damage bisa lebih mantap atau kamu bisa ngeblok sempurna. Kalau kamu miss, ya sakitnya kerasa. Ini bikin pertarungan jadi lebih hidup, karena kamu tidak cuma mikir di menu, kamu juga fokus di momen. Sistem ini memang jadi salah satu identitas gameplay mereka.
Build party, skill, dan sinerginya bikin nagih eksperimen
Kalau kamu tipe yang suka ngulik build, kamu bakal betah. Ada rasa “aku pengin coba kombinasi lain” karena game ngasih ruang buat eksperimen. Kadang kamu nemu musuh yang bikin strategi lama jadi tidak relevan, dan kamu dipaksa kreatif. Ini yang bikin combatnya tidak gampang basi.
Boss fightnya bukan cuma tebal darah, tapi punya gimmick yang niat
Boss di sini sering punya pola yang harus kamu baca. Ada yang ngelatih refleks kamu buat timing defense, ada yang bikin kamu mikir urutan siapa yang harus disikat duluan, ada juga yang kelihatan mustahil sampai kamu sadar ada trik tertentu. Dan pas kamu menang, itu bukan menang karena level doang, tapi karena kamu paham permainannya.
Eksplorasi dan aktivitas sampingannya, lumayan padat tanpa bikin capek
RPG kadang penyakitnya dua: terlalu linear atau kebanyakan kerjaan receh. Expedition 33 cukup pintar menyeimbangkan. Kamu dapat ruang buat jalan jalan, tapi tetap kerasa ada arah.
Level designnya kasih rasa petualangan, bukan checklist
Eksplorasi di sini lebih enak kalau kamu main dengan rasa penasaran, bukan dengan mindset “harus bersihin map”. Ada tempat yang kelihatan “kayaknya ada sesuatu”, dan sering beneran ada. Jadi rewardnya terasa kayak hadiah karena kamu peka, bukan karena kamu rajin nyapu ikon.
Side contentnya terasa nyambung sama dunia
Banyak aktivitas tambahan yang bukan sekadar filler. Minimal, dia nambah konteks soal dunia dan tragedinya. Jadi saat kamu ngelakuin hal sampingan, kamu tidak merasa lagi buang waktu, malah kayak lagi ngumpulin potongan puzzle.
Musik dan audio, ini yang bikin suasana makin nancep
Aku jarang bilang gini, tapi soundtrack di game ini punya “wajah”. Ada momen yang kamu cuma jalan pelan, tapi musiknya bikin dada kamu agak sesak, kayak lagi inget sesuatu yang tidak bisa diulang. Musiknya juga sering dipuji sebagai salah satu highlight.
Soundtracknya tahu kapan harus pamer, kapan harus diem
Ada game yang musiknya pengin jadi bintang terus. Expedition 33 tahu kapan harus turun volume dan ngasih ruang buat ambience. Lalu pas momen penting, musiknya naik tepat waktu. Efeknya bikin adegan terasa lebih “berat” tanpa harus banyak dialog.
Efek suara dan atmosfir bikin dunia terasa dekat
Mulai dari suara langkah, denting kecil, sampai efek serangan, banyak yang terasa presisi. Ini penting banget buat sistem combat yang butuh timing, karena audio cue sering jadi penolong saat layar lagi ramai.
Sisi teknis, platform, dan akses mainnya
Kalau ngomongin worth it, akses itu faktor besar. Game ini rilis 24 April 2025 untuk PlayStation 5, Windows, dan Xbox Series X dan S, dan tersedia day one di Xbox Game Pass.
Di PC dan console, ini game yang memang dibuat “generasi sekarang”
Karena basisnya Unreal Engine 5, secara presentasi dia memang ngejar kualitas visual yang tinggi.
Kalau kamu main di PC, biasanya pengalaman akan sangat tergantung setting dan spek kamu, tapi secara arah teknis, ini jelas bukan game yang “setengah niat”.
Soal reputasi, game ini bukan yang lewat doang
Buat ukuran studio yang relatif baru, respons terhadap game ini gede banget. Bahkan ada laporan penjualan sudah tembus jutaan dan dia juga menyapu beberapa penghargaan besar, yang cukup gila untuk IP baru.
Oke, sekarang pertanyaan intinya, worth it tidak?
Jawaban jujurnya, worth it kalau kamu cari RPG yang punya identitas kuat dan berani beda. Expedition 33 itu bukan game yang pengin menyenangkan semua orang. Dia tahu mau jadi apa: turn based yang tetap menuntut skill, dunia yang indah tapi muram, dan cerita yang ngajak kamu mikir tanpa sok puitis.
Kalau kamu suka JRPG klasik, tapi pengin rasa modern
Kalau kamu tumbuh bareng Final Fantasy era lama atau Persona, biasanya kamu bakal senyum ngeliat betapa game ini “paham” kenapa orang cinta format turn based, tapi juga sadar pemain sekarang butuh tempo yang lebih aktif.
Kalau kamu tim “aku tidak mau turn based yang cuma nunggu”
Nah ini target paling pas. Sistem real time di dalam turn basednya bikin kamu tetap pegang kontrol, bukan cuma jadi operator menu. Ini salah satu alasan kenapa banyak orang yang biasanya alergi turn based akhirnya bisa masuk.
Kalau kamu pengin hemat, opsi Game Pass itu deal yang susah ditolak
Karena tersedia di Game Pass, kamu bisa coba tanpa harus langsung commit beli full price. Buat banyak orang, ini cara paling aman buat ngetes apakah kamu klik sama ritmenya.