Nama Dalvin Ramadhana Putra, publik Mobile Legends lebih akrab memanggilnya Hijumee. Posisi utamanya mid laner, tempat paling sibuk di map, tempat keputusan kecil bisa mengubah arah satu game. Kariernya juga terasa seperti itu: ada fase naik cepat, ada fase turun karena gesekan, lalu ada fase “dibekukan” yang bikin banyak orang mengira ceritanya selesai. Nyatanya, Hijumee justru menemukan ulang ritmenya di Alter Ego, sampai ikut membawa El Familia menembus puncak yang lama mereka cari.
Profil singkat Hijumee, otak di mid Alter Ego
Hijumee adalah mid laner Indonesia yang saat ini aktif bersama Alter Ego. Di data kompetitif, ia tercatat lahir 23 November 2002 dan dikenal punya kecenderungan bermain rapih, disiplin, dan mengutamakan kontrol tempo, bukan sekadar “adu mekanik” tiap menit. Jalur tim yang pernah ia lewati pun padat: EVOS Icon, EVOS Legends, balik lagi ke EVOS Icon, lalu Dewa United, sebelum akhirnya berlabuh di Alter Ego.
Di Alter Ego, perannya bukan sekadar “pemain tengah”. Mid laner modern itu seperti poros. Ia harus menjaga wave, buka map, bantu objektif, sekaligus jadi kompas saat teamfight pecah. Di banyak seri, Hijumee terlihat nyaman jadi pengatur napas tim: kapan menahan, kapan memaksa, kapan memancing musuh buang resource duluan.
Dari EVOS Icon ke EVOS Legends, jalur cepat yang memicu sorotan
Perjalanan Hijumee mulai dikenal luas ketika ia berada di ekosistem EVOS. Ia tercatat memperkuat EVOS Icon, lalu naik ke EVOS Legends, lalu sempat kembali ke EVOS Icon. Buat pemain muda, naik turun roster seperti ini bukan hal sepele. Itu artinya ia mengalami dua dunia yang beda: liga pengembangan yang menuntut pembuktian tiap minggu, dan panggung utama yang setiap kesalahan langsung jadi bahan pembicaraan.
Di fase ini, publik mulai melihat dua sisi Hijumee. Sisi pertama, ia punya bahan jadi mid papan atas karena membaca mapnya rapi dan hero poolnya kuat. Sisi kedua, dia tipe kompetitor yang emosinya bisa “kelihatan” saat tim kalah, sesuatu yang sering terjadi pada pemain muda yang ingin menang cepat.
“Dicap melawan Coach Age”, momen panas yang menempel lama
Label “problematik” yang sering disematkan ke Hijumee banyak berakar dari satu periode saat ia dan staf pelatih EVOS, Coach Age, sempat ramai dibahas publik. Ada momen setelah kekalahan EVOS di MPL ID Season 12 yang memantik perdebatan internal, lalu berujung Hijumee turun ke MDL. Di titik ini, internet melakukan hal favoritnya: menyederhanakan cerita jadi satu kalimat, seolah Hijumee “melawan” pelatih dan langsung kena hukuman.
Yang menarik, di berbagai klarifikasi, Hijumee menekankan bahwa cekcok di tim itu bukan hal eksklusif, dan tidak sesederhana potongan video yang beredar. Ia menilai publik sering salah menangkap situasi dapur tim setelah kalah. Di sisi lain, pemberitaan juga menyebut bahwa konflik itu bukan satu satunya alasan turun ke MDL, ada faktor lain yang lebih teknis terkait kebutuhan perbaikan dan penyesuaian.
Di dunia pro, terutama di tim besar, “turun kelas” bisa berarti dua hal: hukuman, atau terapi kompetitif. Untuk banyak pemain, MDL justru jadi tempat memperbaiki pola main, memperluas pilihan hero, dan melatih disiplin komunikasi. Kalau mentalnya kuat, dari sana bisa balik dengan versi yang lebih matang.
Babak Dewa United, start menjanjikan lalu mendadak hilang
Setelah fase EVOS, Hijumee sempat bergabung dengan Dewa United. Awalnya terlihat menjanjikan karena ia dimainkan di pekan pekan awal MPL ID Season 14. Namun setelah itu, namanya menghilang dan posisinya digantikan. Inilah periode yang membuat rumor beredar liar karena publik hanya melihat satu hal: pemainnya tidak tampil, tanpa penjelasan yang rapi.
Hijumee kemudian memberi klarifikasi bahwa dirinya tidak “kabur”. Ia mengatakan tim memasukkannya ke status inactive sejak Week 4, dan keputusan inactive itu tidak diumumkan secara resmi sehingga memicu salah paham. Dari sudut pandang pemain, situasi seperti ini menyiksa: kamu masih pro, masih latihan, tapi panggungnya seperti ditutup tanpa papan pengumuman.
Dewa United sendiri pada awal 2025 mengumumkan pelepasan Hijumee jelang MPL ID Season 15. Ini menandai akhir fase yang singkat tapi berisik: ia sempat dianggap potongan penting, lalu mendadak tidak dipakai, lalu akhirnya berpisah.
Dipungut Alter Ego, tapi bukan untuk jadi cadangan
Hijumee resmi tercatat bergabung dengan Alter Ego pada Februari 2025. Ini bukan sekadar pindah tim, ini pindah ekosistem. Alter Ego punya kultur yang keras tapi kekeluargaan, sering disebut El Familia, dan mereka punya sejarah panjang sebagai tim yang bisa “membangun ulang” pemain, lalu meledak saat orang tidak menduga.
Di roster musim berikutnya, nama Hijumee juga tercantum sebagai midlane Alter Ego pada halaman roster MPL. Artinya, perannya bukan tempelan. Ia masuk sebagai bagian rencana utama.
Kalau kamu melihat pola Alter Ego dari dulu, mereka suka mid laner yang bukan cuma jago mekanik, tapi juga berani jadi “lem” yang menyatukan tiga lane. Hijumee cocok karena punya kecenderungan itu: mengatur, menahan, lalu menusuk di timing yang pas.
Gaya main Hijumee, rapi, dingin, dan bikin musuh kehabisan nafas
Hijumee dikenal punya signature heroes yang identik dengan mid kontrol dan teamfight. Di data kompetitif, beberapa hero yang sering diasosiasikan dengannya antara lain Yve, Pharsa, Valentina, dan Faramis. Ini bukan tipe hero “pamer”, ini hero yang mengunci ruang gerak lawan, memaksa musuh bermain di area sempit, dan memberi timnya jalur masuk yang jelas.
Dari sini kelihatan identitasnya: Hijumee suka membuat musuh tidak nyaman dulu, baru menang. Saat memakai Valentina, misalnya, value utamanya bukan cuma ult curian, tapi cara ia memilih momen untuk menukar tempo. Saat memakai Yve atau Pharsa, ia bukan sekadar pencetak damage, tapi pembuat pagar di teamfight.
Ada satu hal yang sering luput dibahas. Mid laner seperti Hijumee akan terlihat “biasa” kalau kamu hanya menonton highlight kill. Tapi saat kamu menonton ulang pergerakan awal game, kamu akan sadar: ia banyak menang di hal kecil. Rotasi yang setengah detik lebih cepat, posisi yang selalu satu langkah lebih aman, dan keberanian menahan skill sampai target kunci muncul.
Musim S15, start adaptasi lalu mulai terlihat bentuknya
Musim awal bersama Alter Ego adalah fase adaptasi. Di MPL Indonesia Season 15, Alter Ego finis di empat besar. Buat tim yang sedang meracik ulang, ini bukan hasil buruk, tapi jelas belum memuaskan fans El Familia yang sudah lama lapar final.
Di periode ini, Hijumee mulai menemukan chemistry barunya. Publik yang dulu melekatkan label “mid bermasalah” mulai pelan pelan digeser oleh satu fakta: di Alter Ego, dia terlihat lebih tenang. Lebih jarang terpancing momen, lebih fokus mengeksekusi rencana draft.
MPL ID S16, lompatan besar sampai final, dan tiket M7 terbuka
Di MPL Indonesia Season 16, Alter Ego melakukan lompatan yang lebih jelas. Mereka sampai Grand Final, tapi harus mengakui ONIC dengan skor seri 4 lawan 1. Yang penting dari musim ini bukan hanya runner up, tapi bukti bahwa Alter Ego kembali jadi tim yang mampu menembus puncak liga Indonesia.
Moonton juga menulis bahwa kemenangan ONIC di Grand Finals terjadi saat melawan Alter Ego, sekaligus menjadi panggung yang mengantar Indonesia menuju M7 di Jakarta. Dalam konteks ini, Hijumee ikut berada di tengah cerita besar: Alter Ego bukan sekadar “tim seru”, mereka tim yang sah secara hasil.
Di fase regular season juga terlihat bahwa Alter Ego tampil stabil untuk ukuran kompetisi seketat MPL ID. Angka menang kalah mereka cukup untuk membawa mereka ke jalur playoff yang kuat.
M7 World Championship 2026, Hijumee ikut mengantar Alter Ego jadi runner up dunia
Lalu datang M7, panggung yang sering memisahkan “pemain liga” dan “pemain dunia”. Di Jakarta, Alter Ego melaju sampai Grand Final dan finis sebagai runner up setelah kalah dari Aurora Gaming PH dengan skor 4 lawan 0. Ini pencapaian besar untuk tim, dan juga pembuktian besar untuk Hijumee yang pernah melewati fase inactive.
Soal angka, hadiah runner up yang diterima Alter Ego juga diberitakan sebesar 150.000 dolar Amerika. Ini bukan cuma angka, ini penanda bahwa mereka benar benar sampai titik tertinggi kompetisi M Series.
Kalau kamu tarik garis lurus, perjalanan Hijumee dari “turun MDL” lalu “inactive” lalu “dilepas” sampai akhirnya berdiri di panggung final M7 itu terasa seperti plot film. Bedanya, ini terjadi di arena yang tiap patch bisa mengubah karier seseorang.
“Ada masa ketika kamu merasa semua pintu ditutup. Tapi di esports, pintu kadang terbuka bukan karena kamu minta, melainkan karena kamu tetap latihan saat tak ada yang menonton.”
Pencapaian dan prestasi Hijumee dalam angka
Bagian ini merangkum prestasi yang paling mudah dilacak dari rekam kompetitif dan laporan turnamen. Untuk beberapa event, angka hadiah mengikuti catatan turnamen yang tercantum di basis data kompetitif.
| Tahun | Turnamen | Tim | Hasil |
|---|---|---|---|
| 2022 | IESF World Esports Championship 2022 | Indonesia | Juara 1 |
| 2023 | MPL Indonesia Season 11 | EVOS Legends | Runner up |
| 2023 | MLBB Southeast Asia Cup 2023 | EVOS Legends | Peringkat 5 sampai 8 |
| 2023 | MPL Indonesia Season 12 | EVOS Legends | Peringkat 7 |
| 2023 | Piala Ketum Kadin Esports 2023 | EVOS Icon | Runner up |
| 2024 | Galaxy Gaming Academy Campus Series 2024 | EVOS | Juara 1 |
| 2024 | MPL Indonesia Season 14 | Dewa United | Peringkat 7 |
| 2025 | MPL Indonesia Season 15 | Alter Ego | Peringkat 4 |
| 2025 | MPL Indonesia Season 16 | Alter Ego | Runner up |
| 2026 | M7 World Championship | Alter Ego | Runner up |
Kenapa Hijumee bisa “hidup” di Alter Ego
Ada beberapa alasan yang terasa logis jika kamu melihat kecocokan gaya main dan kultur tim.
Pertama, Alter Ego butuh mid yang mampu bermain untuk sistem. Banyak tim punya mid jago mekanik, tapi tidak semua mid bisa menahan ego saat draft mengharuskan dia jadi penyangga. Hero signature Hijumee menunjukkan dia nyaman di peran itu.
Kedua, Alter Ego memberi ruang untuk restart. Setelah fase inactive dan pelepasan, yang dibutuhkan pemain seperti Hijumee bukan sekadar tim baru, tapi panggung yang mempercayakan menit bermain. Masuk roster utama MPL Season 16 menunjukkan kepercayaan itu nyata.
Ketiga, panggung besar mengubah cara orang menilai. Runner up MPL ID S16 lalu runner up M7 membuat label lama kehilangan tenaga. Publik boleh mengingat masa sulit, tapi hasil membuat cerita baru lebih keras suaranya.
Satu bab yang sering dilupakan, soal “problematik” yang sebenarnya
Istilah “mid problematik” sering dipakai terlalu mudah. Di ruang latihan, perdebatan itu lazim, terutama setelah kalah. Beberapa sumber yang mengulas kisah Hijumee menekankan bahwa yang terlihat publik sering tidak mewakili kompleksitas alasan internal, dan Hijumee sendiri menolak penggambaran seolah itu hanya soal ribut dengan pelatih.
Yang lebih penting adalah bagaimana dia meresponsnya. Turun ke MDL, lalu sempat menghilang di Dewa United karena status inactive, lalu bangkit di Alter Ego. Rangkaian ini menunjukkan satu hal yang tidak bisa dipalsukan di esports: kamu tidak bisa kembali ke panggung besar hanya dengan “nama”. Kamu kembali karena kamu masih cukup kuat untuk menang di scrim, cukup konsisten di panggung, dan cukup cocok dengan rencana tim.
Kalau kamu mau, aku bisa lanjutkan dengan versi yang lebih “tajam” ala liputan match day, termasuk rekonstruksi gaya rotasi Hijumee di Alter Ego, contoh pattern rotasi menit 2 sampai 5, dan cara dia biasanya mengubah teamfight lewat zoning.