Debat ini selalu muncul setiap kali turnamen dunia Mobile Legends digelar, apalagi kalau panggungnya berada di Indonesia. Ada yang full teriak Indopride buat dua wakil Tanah Air, ada juga yang memilih diam, bahkan terang terangan bilang tidak ingin dukung karena tim favoritnya tidak lolos. Lalu pertanyaannya jadi sensitif: kalau kamu tidak mendukung Alter Ego dan ONIC di M7, apakah itu otomatis berarti kamu tidak Indopride?
Kalau ditarik garis besar, Indopride itu bukan kartu identitas yang bisa dicabut hanya karena kamu tidak ikut chant di timeline. Tapi di komunitas esports yang panas, definisi Indopride sering bergeser jadi ukuran loyalitas, bahkan jadi alat untuk menghakimi pilihan orang lain. Di titik ini, obrolannya jadi lebih menarik daripada sekadar “dukung siapa” karena menyentuh budaya fans, rivalitas, dan cara kita memaknai kebanggaan sebagai penonton.
M7 di Jakarta dan Beban Ekspektasi Tim Indonesia
M7 World Championship digelar di Jakarta pada Januari 2026, membawa status event global dengan puluhan tim dari berbagai region dan rangkaian format kompetisi yang panjang. Data turnamen yang beredar menunjukkan M7 berlangsung 3 hingga 25 Januari 2026, dengan Indonesia sebagai tuan rumah dan partisipasi 22 tim.
Untuk fans MLBB Indonesia, momen seperti ini otomatis memunculkan ekspektasi besar. Bukan cuma ingin melihat gameplay kelas dunia, tapi juga berharap wakil Indonesia berbicara banyak di bracket. M7 jadi semacam ujian mental untuk komunitas, karena emosi penonton biasanya ikut naik turun mengikuti performa tim yang dibela.
AE dan ONIC sebagai simbol, bukan sekadar logo
Di M7, Alter Ego dan ONIC Indonesia membawa nama region yang sama, tapi dengan basis fans yang berbeda. Mereka bukan “sekadar dua tim Indonesia”, melainkan dua identitas besar dengan sejarah, gaya main, dan fanbase yang punya karakter masing masing.
Di satu sisi, ONIC punya branding “landak kuning” yang lekat dengan disiplin dan momentum kuat dari liga domestik. Di sisi lain, Alter Ego dikenal dengan warna permainan yang sering meledak ledak dan penuh kejutan. Ketika dua tim ini tampil di panggung dunia, sebagian orang melihatnya sebagai “misi negara”, sementara sebagian lain tetap memandangnya sebagai “misi klub”.
Ketika AE vs ONIC terjadi, emosi komunitas ikut pecah
Salah satu momen paling memancing obrolan adalah saat Alter Ego berhadapan langsung dengan ONIC di rangkaian M7 dan hasilnya memihak Alter Ego dengan skor 2 0.
Di titik ini, narasi Indopride bisa jadi rumit. Karena dua duanya tim Indonesia, yang menang disoraki, yang kalah dihibur. Tapi yang terjadi di komunitas sering tidak sesederhana itu. Ada yang tetap senang karena “yang penting Indonesia menang”, ada juga yang justru kecewa karena tim favoritnya tumbang, walaupun dikalahkan sesama wakil Indonesia.
Indopride Itu Apa Sih, Sebenarnya?
Kalau kita bicara jujur, Indopride itu istilah yang lahir dari kebiasaan komunitas untuk saling menyemangati wakil Indonesia di panggung internasional. Ia tumbuh dari rasa “ini tim dari negara kita” dan keinginan melihat Indonesia punya tempat di esports dunia.
Bahkan akun resmi komunitas MLBB Indonesia pun pernah mendorong dukungan untuk tim Indonesia dengan tagar #Indopride, jadi jelas istilah ini memang populer dan punya akar di budaya dukung tim nasional versi esports.

Indopride versi santai: dukung tanpa syarat
Versi paling sehat dari Indopride itu simpel. Kamu senang kalau tim Indonesia menang, kamu ikut bangga kalau ada pemain Indonesia bikin highlight, kamu ikut merayakan saat region kita diperhitungkan. Tidak ada aturan harus spam komentar, tidak ada kewajiban harus beli jersey, tidak ada “harus” yang mengikat.
Kalau kamu tipe penonton yang nonton senyap, lalu bilang “semoga yang terbaik untuk tim Indonesia”, itu juga Indopride. Tidak semua bentuk dukungan harus berisik.
Indopride versi keras: berubah jadi kewajiban sosial
Masalahnya, di timeline sering muncul versi Indopride yang lebih keras. Bentuknya seperti tuntutan moral, seolah kalau kamu tidak mendukung, kamu otomatis “bukan bagian dari komunitas”.
Biasanya pola ini muncul saat suasana turnamen sedang panas. Ketika wakil Indonesia tersisa sedikit, komunitas jadi gampang defensif. Mereka ingin semua orang satu suara, satu bendera, satu target. Niatnya bagus, tapi eksekusinya sering berubah jadi penghakiman.
Tidak Mendukung Tim Indonesia, Apa Alasannya Selalu Buruk?
Jawabannya tidak. Ada banyak alasan orang tidak mendukung AE atau ONIC di M7, dan tidak semuanya lahir dari kebencian pada Indonesia.
Di komunitas MPL Indonesia sendiri sempat ramai pernyataan fans yang memilih tidak mendukung tim mana pun di M7, terutama karena tim favoritnya tidak ada. Itu menggambarkan bahwa pilihan dukungan memang sering berangkat dari ikatan emosional, bukan sekadar paspor.
1. Loyalitas klub itu normal di esports
Esports bukan PON, bukan SEA Games, bukan event yang formatnya “negara vs negara” secara resmi. M7 adalah World Championship berbasis organisasi, brand, dan franchise tim. Jadi wajar kalau penonton membela klub favoritnya dengan total.
Kalau kamu fans RRQ misalnya, lalu RRQ tidak ada di M7, kamu bisa saja merasa “kosong”. Kamu tetap berharap Indonesia bagus, tapi kamu tidak punya alasan emosional untuk all in ke tim lain. Itu manusiawi.
2. Ada yang trauma dengan fanbase, bukan dengan timnya
Ini alasan yang sering dianggap “nyeleneh”, tapi sebenarnya nyata. Sebagian orang tidak nyaman mendukung tim tertentu karena pengalaman buruk di komunitas, entah pernah kena ejek, pernah kena doxing, atau pernah jadi sasaran toxic karena beda pendapat.
Akhirnya yang disalahkan bukan gameplay AE atau ONIC, melainkan atmosfer fanwar yang menempel di sekitarnya. Ini juga menjelaskan kenapa ada fans yang memilih netral demi waras.
3. Sebagian penonton murni ingin menikmati turnamen
Tidak semua orang nonton esports untuk jadi pendukung garis keras. Ada yang nonton karena ingin lihat meta terbaru, draft unik, atau sekadar menikmati match seru tanpa beban.
Tipe penonton seperti ini bisa jadi tidak peduli siapa tim Indonesia, siapa tim Filipina, siapa tim MENA. Mereka akan dukung permainan bagus. Kalau matchnya rapi, mereka tepuk tangan. Kalau blunder, mereka kritik. Dan itu juga valid.
4. Kritik keras pada performa tim bukan berarti anti Indonesia
Ada juga kelompok fans yang dianggap “tidak Indopride” padahal mereka cuma kritis. Misalnya mereka bilang rotasi lambat, draft kurang masuk akal, atau objektif control berantakan. Mereka terdengar tajam, tapi kadang niatnya adalah mendorong kualitas.
Di esports, kritik adalah bagian dari budaya kompetitif. Selama kritiknya tidak menghina personal, itu wajar. Dan kritik bukan lawan dari dukungan.
Jadi, Tidak Dukung AE dan ONIC Berarti Tidak Indopride?
Kalau definisi Indopride adalah “bangga pada Indonesia dan ingin wakil Indonesia tampil bagus”, maka tidak mendukung secara aktif tidak otomatis mencabut status itu. Yang penting, kamu tidak ikut menjatuhkan region sendiri dengan kebencian yang tidak perlu.
Yang sering keliru adalah menyamakan “tidak dukung” dengan “mendoakan kalah”. Ini dua hal berbeda.
Bedakan netral dengan nyinyir
Netral itu: kamu tidak ikut hype, tapi kamu tidak ikut menjelekkan.
Nyinyir itu: kamu tidak dukung, lalu memanfaatkan kekalahan tim Indonesia untuk pamer ego, seolah ingin membuktikan bahwa fanbase tim itu pantas dihukum.
Kalau kamu netral, kamu masih bisa punya Indopride. Kalau kamu nyinyir dan sengaja ingin Indonesia malu, baru obrolannya berubah.
Indopride bukan perlombaan siapa paling ribut
Ada momen ketika tagar dan komentar jadi parameter kebanggaan. Padahal dukungan itu bentuknya banyak.
- Nonton streaming resmi dan menaikkan angka penonton
- Membeli tiket venue kalau bisa datang
- Membeli item kolaborasi secara legal
- Memberi kritik yang masuk akal, bukan cacian
- Menjaga komunitas tetap asik untuk ditonton bareng
Hal hal seperti ini juga kontribusi. Tidak harus teriak “INI INDOPRIDE” setiap jam.
Rivalitas Lokal yang Kebawa ke Panggung Dunia
Ini faktor paling besar kenapa perdebatan Indopride selalu meledak. MPL Indonesia punya rivalitas panjang. Ketika turnamen dunia datang, rivalitas itu tidak hilang, hanya ganti latar.
Alter Ego dan ONIC bukan dua tim yang berdiri di ruang hampa. Mereka datang dengan sejarah match, drama roster, gaya main, dan fanbase yang punya “luka lama” masing masing.

Saat wakil Indonesia saling ketemu, Indopride diuji
Pertandingan AE vs ONIC di M7 jadi contoh paling nyata. Karena hasilnya tetap “Indonesia menang”, tapi komunitas terbelah di cara merayakannya.
Ada yang bilang “yang penting bendera merah putih masih hidup”, ada yang bilang “ya iyalah senang, tim gue yang menang”. Dua duanya wajar. Yang tidak wajar kalau kemenangan itu dipakai buat menghina sesama penonton Indonesia.
Fanwar bikin Indopride terasa seperti tekanan
Di banyak kasus, orang tidak dukung bukan karena benci timnya, tapi karena lelah dengan keributan yang mengiringinya. Fanwar membuat dukungan terasa seperti kewajiban yang rawan salah langkah.
Kalau kamu dukung AE, kamu bisa diserang fans tim lain. Kalau kamu dukung ONIC, kamu bisa dicap “glazer”. Kalau kamu netral, kamu dibilang “bukan Indopride”. Akhirnya orang memilih diam demi aman.
Cara Mendukung Tim Indonesia Tanpa Kehilangan Jati Diri sebagai Fans
Salah satu solusi paling realistis adalah mengubah cara pandang. Kamu bisa tetap fans klub tertentu, tapi juga tetap menjaga energi positif untuk region.
Kamu tidak harus memaksa diri mendukung AE atau ONIC seolah itu kewajiban, tapi kamu juga tidak perlu ikut menyulut kebencian.
Mode dukungan yang lebih dewasa untuk penonton MPL
Ada beberapa cara yang bisa bikin suasana lebih adem tanpa menghilangkan semangat kompetitif:
- Dukung gameplay, bukan semata logo : Kalau tim Indonesia main bagus, apresiasi. Kalau jelek, kritik dengan alasan.
- Pisahkan fans toxic dari tim yang kamu tonton : Tidak semua fans mewakili timnya. Jangan karena satu akun nyebelin, kamu doakan timnya kalah.
- Nikmati turnamen sebagai event global : M7 adalah panggung besar. Banyak tim kuat dari berbagai region. Kamu bisa belajar meta dan strategi tanpa harus fanatik buta.
- Kalau tidak ingin dukung, cukup netral : Tidak perlu cari panggung untuk “aku paling beda sendiri”. Netral adalah posisi aman dan sah.
Kamu boleh punya “tim utama”, dan itu tidak salah
Kalimat yang sering bikin orang tersinggung adalah: “Gue dukung Indonesia, tapi tim utama gue tetap X.”
Padahal ini paling normal. Di sepak bola pun orang bisa cinta tim klub, tapi tetap dukung tim nasional saat event negara.
Di esports, karena identitas tim itu kuat, fans jadi lebih protektif. Namun kalau kita akui dari awal bahwa tiap orang punya tim utama, konflik bisa lebih turun.
Saat Indopride Dipakai untuk Mengukur Moral Orang
Di titik tertentu, perdebatan “Indopride atau tidak” berubah jadi penilaian moral. Ada yang merasa lebih nasionalis hanya karena dukung tim Indonesia, lalu menganggap yang tidak dukung sebagai “pengkhianat”.
Padahal esports itu hiburan kompetitif. Membawa moralitas berlebihan justru bikin komunitas tidak sehat.
Nasionalisme di esports itu bentuknya fleksibel
Indopride bukan bendera yang harus kamu kibarkan 24 jam. Ia bisa muncul di momen tertentu. Misalnya saat tim Indonesia melawan tim luar negeri, kamu tiba tiba ikut deg degan, ikut berdoa dalam hati, ikut bangga kalau menang.
Itu pun sudah cukup untuk disebut peduli pada region.
Yang penting, kamu tidak ikut jadi “penonton yang senang saat Indonesia kalah” hanya demi pembuktian ego fandom.
Ada ruang untuk fans yang tidak ingin terlibat drama
Sebagian fans itu “silent watcher”. Mereka nonton di YouTube, mereka mengikuti update bracket, tapi mereka tidak pernah komentar.
Jadi kalau kamu tipe yang cuma nonton dan menikmati, kamu bukan kurang cinta. Kamu cuma memilih waras.
Komunitas Butuh Standar yang Sama untuk Menang dan Kalah
Kalau kita mau Indopride jadi budaya yang sehat, harus ada standar sikap yang sama saat menang dan kalah.
Bukan cuma berisik saat menang, lalu hilang saat kalah. Bukan cuma merayakan kemenangan tim tertentu, lalu menghina tim Indonesia lain saat tumbang.
Menang itu euforia, tapi jangan menginjak
Esports penuh adrenalin. Wajar kalau fans meledak saat menang. Tapi batasnya jelas: jangan merendahkan pemain, jangan menghina keluarga, jangan menghalalkan ejekan personal.
Kalau tim Indonesia menang di turnamen dunia, itu prestasi region. Nikmati. Tapi jangan jadikan itu senjata untuk membuat fans lain merasa bodoh.
Kalah itu bahan evaluasi, bukan bahan serangan
Ketika tim Indonesia kalah, kritik boleh keras, tapi tetap fokus ke permainan. Draft, rotasi, objektif, komunikasi, semua itu topik yang menarik untuk dibahas.
Yang tidak perlu adalah membuat kekalahan sebagai ajang “tuh kan, pantas kalah”. Itu bukan analisis. Itu dendam fandom.
Indopride yang Paling Realistis di M7: Bersama Saat Perlu, Bebas Saat Mau
Kalau harus dirangkum tanpa menjadikannya slogan, Indopride paling realistis adalah begini:
Kamu boleh tidak mendukung AE dan ONIC secara aktif di M7. Itu tidak otomatis membuat kamu kehilangan rasa bangga sebagai penonton Indonesia. Yang menentukan adalah sikap kamu saat berbicara, bereaksi, dan memperlakukan sesama penonton.
M7 adalah turnamen global yang kebetulan digelar di rumah kita, dengan dua wakil Indonesia yang membawa cerita masing masing. Pada akhirnya, kebanggaan region tidak harus dibangun lewat tekanan sosial, tapi lewat budaya nonton yang lebih dewasa.
Kalau kamu masih bingung, pakai patokan ini
Kalau kamu tidak mendukung tim Indonesia, tanya ke diri sendiri:
- Apakah aku netral, atau aku memang ingin mereka kalah?
- Apakah aku menolak karena alasan pribadi yang sehat, atau karena fanwar semata?
- Apakah aku masih bisa menghargai pemain Indonesia yang tampil bagus, meski bukan tim favoritku?
Kalau jawaban kamu condong ke penghargaan dan netral, kamu tidak sedang “anti Indopride”. Kamu cuma punya cara dukung yang berbeda.
Timeline akan selalu ribut, tapi pilihanmu tetap milikmu
Komunitas MLBB Indonesia tidak akan kehabisan drama, apalagi saat panggungnya M Series. Tapi di tengah itu semua, satu hal yang seharusnya tetap kita pegang adalah: dukungan tidak bisa dipaksa.
Indopride yang paling keren bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling tenang saat menang, dan paling dewasa saat kalah.

