ROG Chakram X Origin datang sebagai mouse gaming premium yang jelas punya identitas sendiri. Saat kebanyakan mouse kelas atas berlomba jadi seringan mungkin, Chakram X Origin justru menonjolkan kontrol ekstra lewat joystick 4 arah yang bisa dipakai analog atau digital, lalu dipadukan dengan sensor 36.000 DPI dan polling rate hingga 8000 Hz saat dipakai wired. Di atas kertas, ini kombinasi yang terdengar berlebihan. Di tangan gamer yang tepat, justru terasa seperti “shortcut” serius buat banyak genre.
Di artikel ini, saya bedah dari sisi desain, performa sensor, joystick, klik, konektivitas, baterai, sampai perbandingan dengan mouse lain di kelas harga mirip. Semua dibahas dengan gaya penggunaan nyata, bukan sekadar angka.
Spesifikasi Singkat ROG Chakram X Origin
Sebelum masuk ke rasa pakai dan fitur, ini ringkasan spesifikasi resminya supaya konteksnya jelas.
| Komponen | ROG Chakram X Origin |
|---|---|
| Sensor | ROG AimPoint |
| DPI | 100 sampai 36.000 DPI |
| Kecepatan tracking | 650 IPS |
| Akselerasi | 50 G |
| Polling rate USB | Hingga 8000 Hz (wired) |
| Konektivitas | Wired USB, RF 2.4 GHz, Bluetooth 5.2 |
| Tombol | 11 tombol programmable (di luar scroll up down, dan joystick digital) |
| Switch | ROG Micro Switch 70M, ada spare switch di paket |
| Baterai | Rechargeable polymer lithium ion |
| Daya tahan baterai | Hingga 150 jam |
| Kabel | 2 m ROG Paracord |
| Dimensi | 132,7 x 76,6 x 42,8 mm |
| Berat | 123 g (tanpa kabel) |
| Software | Armoury Crate |
| OS | Windows 10 dan Windows 11 |
Data di atas merujuk ke halaman Tech Specs resmi ROG Chakram X Origin.
Desain dan Grip: Ini Mouse “Berserat”, Bukan Mouse Minimalis
Begitu dipegang, Chakram X Origin langsung terasa sebagai mouse ergonomis tangan kanan yang fokus ke stabilitas. Badannya besar, punggungnya cukup tinggi, dan sisi kanan kiri dibuat untuk mengunci telapak. Ukurannya juga bukan kecil: 132,7 mm panjang dengan lebar 76,6 mm, jadi memang ditujukan untuk tangan yang suka palm grip, atau fingertip dengan mouse yang “mengisi” telapak.
Berat 123 gram, tapi ada alasannya
Bobot 123 gram terdengar berat buat standar FPS kompetitif yang sekarang ngetren di 60 sampai 80 gram. Tapi di Chakram X Origin, bobot itu punya fungsi: menjaga mouse tetap stabil saat kamu sering pakai tombol samping, joystick, dan scroll untuk kombo komando. Spek resminya menyebut 123 g tanpa kabel.
Di game yang banyak input, stabilitas sering lebih penting daripada sekadar “enteng”. Kalau kamu tipe yang main MMO, ARPG, MOBA, atau game open world yang sering memetakan banyak skill, mouse berat yang stabil justru bisa terasa lebih presisi.
Finishing dan detail yang terasa “ROG”
ROG juga menonjolkan konsep cover magnetik tanpa sekrup untuk akses lebih gampang ke area kustomisasi, termasuk bagian switch. Di halaman fitur, ROG menegaskan desain tombol dan cover magnetik untuk memudahkan bongkar pasang saat ingin ganti feel klik atau memasang badge logo.
Sensor ROG AimPoint 36.000 DPI: Angka Besar yang Dipakai untuk Konsistensi
ROG menempatkan AimPoint sebagai pusat cerita. Di materi resmi, ROG menyebut sensor 36.000 DPI dengan rentang 100 sampai 36.000, mendukung tracking hingga 650 IPS dan akselerasi sampai 50G.
36.000 DPI itu untuk apa, kalau mainnya 800 atau 1600 DPI
Mayoritas gamer tetap bermain di DPI “manusiawi”. Tapi sensor kelas atas biasanya bukan soal dipakai di 36K, melainkan soal akurasi tracking, konsistensi, dan kontrol pada DPI favorit kamu.
ROG juga menyorot klaim deviasi CPI kurang dari 1 persen dan kemampuan polling tinggi untuk presisi.
Polling rate sampai 8000 Hz, tapi ada syaratnya
Di halaman fitur, ROG menegaskan bahwa polling rate 8000 Hz hanya tersedia saat wired.
Ini penting, karena sebagian calon pembeli sering mengira 8000 Hz berlaku juga di mode wireless. Jadi, kalau kamu ingin mengejar latency terendah, kamu akan lebih sering memakai kabel. Untungnya ROG juga menyertakan paracord yang fleksibel dan PTFE feet untuk glide yang mulus, jadi penggunaan kabel tidak terasa “mengikat”.
Joystick: Alasan Utama Mouse Ini Punya Penggemar Sendiri
Joystick adalah pembeda paling jelas. ROG menyebutnya “New Programmable Joystick” dan menjelaskan bahwa joystick bisa dipakai analog atau digital, posisinya lebih dekat ke telapak agar mudah dijangkau, plus ada dua ukuran joystick dan penutup socket jika tidak dipakai.
Mode analog: rasa seperti thumbstick gamepad di mouse
Dalam mode analog, joystick meniru thumbstick analog, cocok untuk gerak karakter yang lebih halus di game open world atau RPG. ROG menyebut analog mode memungkinkan kamu “roam” dengan satu tangan dan gerak halus lewat dorongan kecil jempol.
Ini menarik untuk gamer yang suka main game yang biasanya terasa enak di controller, tapi tetap mau aiming dengan mouse.
Mode digital: jadi 4 tombol ekstra yang bisa kamu “sulap”
Di mode digital, joystick berubah menjadi tombol 4 arah yang bisa diprogram untuk reload, ganti senjata, ping, map, push to talk, atau apa pun. ROG menekankan mode digital memang ditujukan untuk perintah cepat.
Kalau kamu main MOBA, joystick digital bisa jadi quick cast tambahan. Kalau main MMO, joystick bisa jadi skill cluster. Kalau main shooter taktis, joystick bisa jadi utilitas.
Praktik mapping yang paling terasa manfaatnya
Agar lebih kebayang, ini skenario mapping yang biasanya terasa “klik” di Chakram X Origin.
- MMO atau ARPG
Joystick atas bawah kiri kanan untuk 4 skill inti, tombol samping untuk potion, tombol DPI shift untuk mount, scroll klik untuk dodge. Di game seperti ini, mouse yang banyak tombol sering menang nyaman. - MOBA
Joystick untuk ping cepat, wheel click untuk item aktif, tombol samping untuk kamera atau skill tambahan. Tujuannya bukan menambah aksi rumit, tapi mengurangi gerak tangan kiri. - FPS dengan utilitas
Joystick untuk grenade, flash, smoke, dan melee. Kuncinya: jangan dipakai untuk semua hal, cukup utilitas yang sering dipakai.
ROG sendiri juga menulis bahwa kamu bisa memprogram sampai 11 fungsi dan menyimpan sampai 5 profil di onboard memory.
Switch dan Klik: Ada Rasa Mantap, dan Ada Jalan untuk Menghindari Drama Double Click
ROG membekali ROG Micro Switch 70M, dan di halaman Tech Specs disebut ada spare micro switches dalam paket.
Push fit Switch Socket II, salah satu fitur underrated
Ini fitur yang sering luput dari perhatian, padahal buat pemilik mouse mahal, ini penyelamat. ROG menjelaskan Push fit Switch Socket II mendukung 3 pin mechanical switches atau 5 pin optical micro switches, jadi kamu bisa ganti feel klik atau mengganti switch yang mulai bermasalah.
Di dunia nyata, ini berarti: umur mouse tidak berhenti ketika switch mulai tidak konsisten. Kamu bisa servis sendiri tanpa drama solder.
Feel klik untuk game kompetitif
ROG juga menyebut pivoted button mechanism untuk respons cepat dan konsisten.
Secara karakter, mouse seperti ini biasanya lebih cocok untuk gamer yang suka klik tegas dan stabil. Buat FPS murni yang butuh spam klik super ringan, feel ini mungkin tidak se “feather” mouse ultralight, tapi untuk kontrol yang banyak tombol, rasa klik yang tegas sering lebih disukai.
Konektivitas Tri mode: Wired, RF 2.4, dan Bluetooth 5.2
ROG menyebut tri mode connectivity sebagai pilihan: RF 2.4 GHz untuk latency rendah, Bluetooth untuk pairing hingga tiga perangkat, atau wired USB sambil charge.
RF 2.4 GHz untuk gaming utama, Bluetooth untuk produktivitas
Praktiknya begini: RF 2.4 GHz kamu pakai buat main, Bluetooth kamu pakai buat laptop kerja atau tablet, dan wired kamu pakai saat mau polling 8000 Hz atau saat baterai perlu diisi.
Dengan konsep ini, Chakram X Origin tidak hanya jadi “mouse gaming”, tapi juga mouse serbaguna yang tetap terasa premium di jam kerja.
Baterai dan Charging: Cepat, dan Cukup Tahan untuk Kelas Berat
Di halaman fitur, ROG menyebut fast charging yang memberi sampai 25 jam gameplay dari 15 menit charge, dan menyebut battery life “up to 114 hr” pada penjelasan fitur.
Sementara di halaman Tech Specs, ROG menuliskan battery life hingga 150 jam.
Cara membaca angka baterai agar tidak salah ekspektasi
Angka baterai biasanya tergantung lighting, mode koneksi, dan polling. Jadi wajar kalau ada angka yang berbeda di materi fitur dan halaman spesifikasi, karena konteksnya bisa berbeda.
Yang penting, untuk mouse premium dengan RGB dan fitur banyak tombol, baterai Chakram X Origin masuk kategori aman. Ditambah fast charging, kamu tidak perlu panik kalau lupa charge sebelum sesi main.
DPI On the Scroll dan kontrol cepat: Detail kecil yang sering jadi favorit
ROG juga punya fitur DPI On the Scroll untuk mengubah sensitivitas secara on the fly lewat scroll, atau cycle sampai empat level DPI dengan tombol.
Buat gamer yang suka ganti DPI saat sniping atau saat pindah dari tracking ke flick, fitur semacam ini terasa praktis. Bahkan untuk kreator konten, kadang enak buat switching presisi saat edit timeline atau cropping.
Armoury Crate dan profil: Mouse ini memang dibuat untuk banyak skenario
ROG mencantumkan Armoury Crate sebagai software resminya.
Kalau kamu tipe yang hanya pakai default, mouse ini sebenarnya tetap bisa jalan. Tapi nilai jual Chakram X Origin keluar saat kamu serius mapping tombol, mengatur mode joystick, menyimpan profil per game, dan menyesuaikan DPI stage sesuai kebiasaan.
ROG juga menulis kamu bisa menyimpan sampai lima profil di onboard memory.
Harga dan posisi pasar: Ini kelas premium yang mainnya rame
ROG Chakram X Origin bermain di segmen yang sama dengan mouse ergonomis premium lain. Untuk gambaran yang mudah diverifikasi, kita pakai harga retailer Australia per awal Januari 2026.
Di Mwave Australia, ROG Chakram X Origin tercatat AU$159 dengan label promo yang berakhir 4 Januari 2026.
Di kelas yang mirip, Mwave juga menaruh Razer Basilisk V3 Pro di AU$159 dan Logitech G502 X Plus di AU$165.
Kalau kamu membidik alternatif yang lebih ringan, SteelSeries Aerox 5 Wireless di halaman yang sama tercatat AU$239 dan bobotnya 74 g, jauh lebih ringan dari Chakram X Origin.
Catatan penting: harga tiap negara bisa beda jauh, tapi perbandingan ini cukup adil untuk melihat posisi kelasnya.
Perbandingan dengan mouse seharga mirip: Pilih yang cocok gaya main, bukan sekadar brand
Di rentang harga premium, perbedaan utamanya bukan lagi “bisa atau tidak buat main”, tapi gaya ergonomi, jumlah kontrol, bobot, dan ekosistem.
Tabel perbandingan cepat: Chakram X Origin vs rival sekelas
Saya pilih tiga model yang sering masuk keranjang di kelas premium ergonomis wireless.
| Model | Ciri paling menonjol | Bobot | Tombol | Sensor | Konektivitas | Harga contoh retailer |
|---|---|---|---|---|---|---|
| ROG Chakram X Origin | Joystick analog digital + polling 8000 Hz wired | 123 g | 11 | ROG AimPoint, 36.000 DPI | Wired, RF 2.4, BT 5.2 | AU$159 |
| Razer Basilisk V3 Pro | Scroll wheel hyper scroll tilt + ergonomi Basilisk | 112 g | 11 programmable | Focus Pro 30K | Wireless + USB C | AU$159 |
| Logitech G502 X Plus | LIGHTFORCE switches + G502 layout klasik | 106 g | 13 programmable | HERO 25K | LIGHTSPEED wireless + USB C | AU$165 |
| SteelSeries Aerox 5 Wireless | Super ringan + banyak side buttons | 74 g | 9 | TrueMove Air 18K | 2.4 + BT 5.0 | AU$239 |
Kalau fokus kamu MMO dan game yang butuh banyak input
ROG Chakram X Origin terasa paling “berbeda” karena joystick. Tidak semua orang butuh, tapi buat yang butuh, rasanya susah balik ke mouse biasa. ROG juga jelas menempatkan mouse ini untuk MOBA dan MMO di halaman spesifikasi.
Logitech G502 X Plus juga kuat untuk genre ini karena 13 kontrol programmable, bobot lebih ringan, dan layout G502 yang sudah terkenal.
Kalau fokus kamu FPS dan kamu sensitif soal bobot
Di sini, Chakram X Origin bukan pilihan “meta” untuk semua orang, karena 123 g itu tetap 123 g.
Kalau kamu main FPS kompetitif dan suka mouse ringan, Aerox 5 Wireless jauh lebih lincah secara bobot di 74 g, walau sensor dan karakter mouse-nya beda.
Namun, kalau kamu FPS tapi juga main banyak game lain, Chakram X Origin tetap menarik karena bisa jadi mouse serba bisa dengan tombol ekstra dan profil onboard.
Kalau kamu suka scroll wheel sebagai senjata utama
Razer Basilisk V3 Pro dikenal dengan konsep scroll yang fleksibel, dan pada listing retailer terlihat jelas penekanannya di HyperScroll tilt wheel dan banyak zona RGB.
Di sisi lain, Chakram X Origin lebih menonjolkan joystick dan kontrol samping sebagai “alat utama”, bukan scroll.
Hal yang perlu kamu tahu sebelum beli
Mouse premium itu mahal, jadi bagian ini saya tulis supaya kamu tidak kaget setelah checkout.
Polling 8000 Hz itu wired only
ROG menuliskan langsung bahwa 8000 Hz hanya tersedia saat wired.
Kalau kamu niat beli karena 8000 Hz, pastikan kamu nyaman main pakai kabel di sesi kompetitif.
Varian Origin dan isu wireless charging
Pada halaman spesifikasi resmi, varian Chakram X (non Origin) mencantumkan dukungan Qi wireless charging.
Sementara halaman spesifikasi Chakram X Origin tidak mencantumkan bagian wireless charging, jadi jangan mengasumsikan fitur Qi ada di varian Origin.
Ini mouse untuk tangan kanan dan gaya ergonomis tertentu
ROG menuliskan bentuknya right handed dan grip style palm serta fingertip.
Kalau kamu pengguna claw grip agresif dengan mouse kecil, bentuk dan bobotnya bisa terasa “kebesaran”.
Siapa yang paling cocok pakai ROG Chakram X Origin
ROG Chakram X Origin bukan mouse yang mencoba menyenangkan semua orang. Justru daya tariknya ada di identitas yang kuat: ergonomis kanan, tombol banyak, joystick unik, sensor kelas atas, dan opsi wired untuk polling ekstrem.
Kalau kamu gamer MMO MOBA ARPG yang suka mapping skill, atau pemain yang pengin mengurangi beban tangan kiri dengan joystick, ini salah satu mouse paling menarik di kelas premium. Joystick analog digital, 11 tombol programmable, serta profil onboard membuatnya terasa seperti alat kerja khusus, bukan aksesori tambahan.
Kalau kamu gamer FPS yang hanya mengejar bobot seringan mungkin, kamu mungkin akan lebih nyaman dengan opsi yang memang didesain ultralight. Tetapi jika kamu butuh mouse “all rounder” dengan kontrol ekstra dan kamu tidak masalah dengan bobot 123 g, Chakram X Origin punya paket fitur yang sulit ditiru kompetitor langsung.