Corsair belakangan makin rajin main di segmen mouse wireless yang ringan dan fokus performa. KATAR Elite Wireless adalah contoh paling “to the point” dari pendekatan itu: bodi kecil yang gampang diajak claw atau fingertip, bobot 69 gram, koneksi ganda Slipstream dan Bluetooth, serta sensor MARKSMAN 26K yang angka kertasnya memang kelas atas. Dari luar terlihat simpel, tapi begitu dipakai buat tracking dan flick, karakternya langsung kebaca: ini mouse buat gerak cepat, bukan buat yang doyan banyak tombol.
Spesifikasi inti Corsair Katar Elite
KATAR Elite Wireless main di formula yang jelas: ringkas, ringan, tombol secukupnya, tapi core performance digenjot. Di halaman resmi, Corsair menonjolkan bobot 69 gram, sensor 26.000 DPI, koneksi SLIPSTREAM WIRELESS dan Bluetooth, serta polling 1000Hz. Di review Tom’s Hardware dan TweakTown, dimensinya juga dibahas cukup rinci, jadi kita bisa memetakan feel mouse ini sebelum bicara soal performa.
| Komponen | Detail |
|---|---|
| Sensor | Corsair MARKSMAN Optical |
| Maks DPI | 26.000 |
| Kecepatan tracking | 650 IPS |
| Akselerasi | 50G |
| Polling rate | 1000Hz (klaim halaman resmi), sampai 2000Hz (opsi di iCUE menurut review) |
| Konektivitas | Slipstream 2.4GHz, Bluetooth, wired via USB |
| Jumlah tombol | 6 tombol programmable |
| Bobot | 69 gram (tanpa kabel) |
| Dimensi | 115,8 x 64,2 x 37,8 mm |
| Baterai | hingga 60 jam Slipstream, hingga 110 jam Bluetooth |
| Kabel | USB-C ke USB-A, panjang sekitar 1,8 m |
| Pencahayaan | RGB logo, indikator DPI |
| Isi kotak | Mouse, dongle USB, kabel charge dan data |
Angka sensor, bobot, dan baterai di atas konsisten muncul di review TweakTown, sementara detail dimensi, opsi polling, dan cara iCUE mengatur profile juga dijelaskan cukup lengkap oleh Tom’s Hardware. Untuk klaim resmi seperti bobot, DPI, konektivitas, dan 1000Hz Hyper-Polling, Corsair menuliskannya di halaman produk.
Catatan soal polling rate: 1000Hz vs 2000Hz
Di halaman resmi, Corsair menampilkan “1000Hz Hyper-Polling”. Tapi di Tom’s Hardware disebut maksimum polling rate bisa 2.000 Hz dan dapat diubah lewat menu dongle di iCUE. TweakTown juga menyinggung dukungan 2.000Hz Hyper-Polling lewat Slipstream dan dongle.
Implikasinya simpel: secara praktik, kamu aman menganggap mouse ini setidaknya punya baseline 1000Hz, dan di beberapa firmware atau mode, bisa dinaikkan sampai 2000Hz lewat pengaturan di iCUE.
Desain bodi: kecil, tidak “ramai”, tapi ada identitas KATAR
KATAR Elite Wireless bukan tipe mouse yang mengejar bentuk ergonomis besar yang “mengunci” telapak. Bodinya lebih kompak, hump-nya relatif rendah, dan belakangnya menyempit. Tom’s Hardware menyebut bentuk ini cenderung cocok untuk claw dan fingertip, walau masih bisa dipakai palm grip kalau tanganmu tidak terlalu besar.
Di sisi lain, mouse ini bukan benar-benar ambidextrous murni karena tombol samping ada di kiri. Tom’s Hardware menyebut ia “bisa dipakai ambidextrous” tapi desainnya tetap condong untuk tangan kanan.
Finishing: enak disentuh, tapi mudah “nangkep” bekas jari
Ini bagian yang sering muncul di review. Tom’s Hardware menulis permukaan atas yang matte halus terasa nyaman, tapi gampang menampakkan fingerprint dan minyak. TweakTown juga menyampaikan keluhan serupa soal finishing yang cepat terlihat smudge.
Kalau kamu tipe yang peduli tampilan gear di meja, ini layak dipertimbangkan. Tapi kalau fokusmu murni performa, biasanya ini cuma gangguan visual, bukan gangguan fungsi.
Layout tombol: minimalis yang fungsional
KATAR Elite Wireless punya 6 tombol programmable: klik kiri kanan, dua tombol samping, tombol DPI, dan klik scroll. Tom’s Hardware menilai tombol-tombolnya posisinya rapi dan gampang dijangkau, termasuk tombol DPI yang bentuknya heksagon dan cenderung lebih besar dari rata-rata.
TweakTown menyebut kliknya terasa bagus, memakai switch Omron yang diklaim rated 60 juta klik. Tom’s Hardware bahkan menyebut mouse ini memakai Omron optical switches dengan desain spring-loaded “zero gap”, yang membuat tombol utama terasa sangat responsif, tapi jadi cenderung sensitif dan mudah kepencet saat kamu agresif menggerakkan mouse.
Kaki PTFE dan feel glide: ringan membuat semuanya terasa lebih cepat
Di bawah mouse ada feet PTFE dan kompartemen dongle. Tom’s Hardware menyebut feet-nya tidak besar, tapi karena bobot mouse sangat ringan, glide tetap terasa effortless di berbagai permukaan. TweakTown juga menyebut coverage feet PTFE-nya “generous” dan mendukung glide yang smooth.
Efek bobot 69 gram di sini signifikan. Bahkan kalau kamu pindah dari mouse 80 sampai 90 gram, rasa “drag” di tangan langsung turun. Ini yang bikin KATAR Elite Wireless terasa “lincah” di FPS.
“Mouse ringan itu bukan sekadar angka. Begitu kebiasaan wrist aim kamu ketemu bodi 69 gram yang stabil, flick terasa lebih gampang konsisten, dan capek di tangan berkurang tanpa kamu sadari.”
Sensor MARKSMAN 26K: angka kertasnya kencang, praktiknya rapi
Corsair membekali KATAR Elite Wireless dengan MARKSMAN 26K optical sensor. Di TweakTown, sensor ini dicatat punya 26.000 DPI, 650 IPS, dan 50G. Mereka juga menilai performa tracking responsif dan presisi, cocok untuk shooter cepat seperti Overwatch 2 sampai Apex.
Kenapa 650 IPS dan 50G tetap penting untuk gamer kompetitif
Kebanyakan pemain tidak butuh 26.000 DPI buat main, karena setting kompetitif biasanya di rentang rendah sampai menengah. Tapi parameter seperti IPS dan akselerasi menunjang ketika kamu flick kencang, angkat mouse cepat, atau melakukan tracking ekstrem pada target yang lompat-lompat. Di mouse yang implementasinya bagus, ini mengurangi risiko “sensor error” saat gerakan tiba-tiba.
TweakTown menyebut statistik sensor KATAR Elite Wireless sudah “well above” ekspektasi untuk mouse wireless, dan dikombinasikan dengan Slipstream, hasilnya minim isu latency atau koneksi.
Lift-off dan konsistensi tracking
TweakTown menyinggung iCUE memberi akses pengaturan seperti lift height. Buat gamer yang sering angkat mouse, lift-off distance yang pas itu bisa jadi pembeda antara aim rapi dan aim yang tiba-tiba “geser” saat reposition.
Konektivitas: Slipstream buat tanding, Bluetooth buat mobilitas
Corsair menempatkan KATAR Elite Wireless sebagai mouse yang fleksibel: ada SLIPSTREAM WIRELESS via dongle, ada Bluetooth, dan tetap bisa wired via USB. Tom’s Hardware juga menyebut di kotak ada dongle 2.4GHz dan kabel USB-C ke USB-A.
Slipstream 2.4GHz: fokus latency dan stabilitas
Di halaman resmi, Corsair mengklaim Slipstream memberi latensi “di bawah 1 ms”. TweakTown juga menyebut Slipstream dengan 2.000Hz Hyper-Polling membantu menekan latency dan membuat respons terasa instan.
Dari sisi keamanan, Corsair juga menuliskan bahwa Slipstream memakai enkripsi AES 128-bit. Ini memang bukan hal yang tiap gamer pikirkan, tapi untuk pemakaian di lingkungan ramai perangkat wireless, enkripsi dan pairing yang rapi tetap jadi nilai tambah.
Bluetooth: mode hemat untuk laptop dan kerja mobile
Bluetooth di KATAR Elite Wireless bukan sekadar bonus. Tom’s Hardware menjelaskan klaim baterai 110 jam itu berlaku di Bluetooth, sementara Slipstream turun ke sekitar 60 jam. Artinya, kalau kamu sering pindah antara PC gaming dan laptop, kamu bisa pakai Bluetooth untuk kerja dan hemat baterai, lalu switch ke Slipstream saat main.
Wired: charge sambil jalan
Di paket penjualan, Tom’s Hardware menyebut kabel USB-C ke USB-A sepanjang sekitar 1,8 meter. Buat sebagian orang, ini penting karena kamu bisa tetap main sambil isi daya tanpa harus “memaksa berhenti”.
iCUE: lengkap, tapi jangan kaget kalau terasa “ramai”
Di kelas mouse gaming, software adalah setengah pengalaman. Tom’s Hardware menulis iCUE otomatis mengunduh firmware update untuk mouse dan dongle, jadi minimal sekali sebaiknya dibuka. TweakTown juga menekankan iCUE dipakai untuk kustomisasi dan setup, termasuk mengatur polling rate lewat menu dongle.
Remap tombol, DPI stage, sampai surface calibration
Menurut Tom’s Hardware, iCUE punya menu terpisah untuk remapping biasa dan remapping berbasis memori onboard, pengaturan lighting, pengaturan DPI stage, plus tool surface calibration. Tom’s juga menyebut kamu bisa mengatur 5 DPI stage yang bisa ditoggle, plus opsi “sniper stage” untuk switching DPI cepat.
RGB yang ada, tapi tidak dibuat heboh
Tom’s Hardware menyebut ada dua “zona” yang terlihat, logo Corsair dan area DPI, tapi yang benar-benar bisa diatur efeknya adalah logo. Area DPI lebih berperan sebagai indikator stage DPI. TweakTown juga menyebut pada praktiknya RGB-nya lebih terasa sebagai satu zona di logo.
Kalau kamu berharap RGB jadi highlight utama, KATAR Elite Wireless bukan tipe itu. Ini mouse yang menaruh RGB sekadarnya.
Onboard profile: cukup, tapi bukan untuk yang hobi banyak preset
TweakTown menulis ada keterbatasan soal penyimpanan profil di mouse, hanya ada ruang untuk satu profil onboard. Jadi kalau kamu suka banyak game dengan mapping berbeda-beda dan ingin switch cepat tanpa buka software, ini bisa terasa membatasi.
Baterai: realistis, jelas bedanya Slipstream dan Bluetooth
Di dunia mouse wireless, angka baterai sering bikin salah paham karena mode koneksi berbeda konsumsi dayanya. Tom’s Hardware menjelaskan KATAR Elite Wireless dirating sampai 110 jam di Bluetooth dan sekitar 60 jam di Slipstream 2.4GHz. TweakTown menulis angka yang sama dan menyebutnya sebagai “continuous use”.
Kalau kamu main kompetitif tiap hari, 60 jam di Slipstream itu tetap panjang. Dan kalau pola pakai kamu campur kerja Bluetooth dan gaming Slipstream, total jarak antar-charge biasanya lebih nyaman.
Pengalaman main: karakter KATAR Elite Wireless paling keluar di FPS dan battle royale
KATAR Elite Wireless itu terasa dibuat untuk genre yang menuntut aim cepat, swipe besar, dan reposition sering. Tom’s Hardware menyebut mouse ringan seperti ini paling pas untuk game yang butuh quick flicking seperti FPS dan battle royale. TweakTown juga menilai bobot 69 gram sangat menyenangkan untuk shooter cepat, dengan tracking yang presisi dan koneksi yang nyaris tanpa masalah.
FPS kompetitif: flick lebih enteng, micro-adjust lebih gampang
Buat Valorant, CS, atau Overwatch, kombinasi bodi kecil, bobot ringan, dan sensor yang rapi bikin micro-correction terasa lebih natural. Di mouse yang lebih berat, kamu sering “melawan inersia” saat stop mendadak setelah flick. Di sini, stop dan koreksi terasa lebih gampang.
MOBA dan MMO: bisa, tapi jangan berharap banyak tombol
Tom’s Hardware mengingatkan: dengan 6 tombol, KATAR Elite Wireless terasa terlalu basic untuk MMO dan sebagian MOBA yang butuh banyak bind. Ini bukan kekurangan “kualitas”, lebih ke arah “kelas produk”: Corsair memang tidak menargetkan KATAR Elite Wireless sebagai mouse multi tombol.
Produktivitas: enak buat laptop, tapi klik utama bisa terasa sensitif
Tom’s Hardware menulis tombol utama terasa “trigger-happy”, gampang kepencet dengan tekanan kecil. Buat kerja, sebagian orang suka klik ringan, sebagian lain justru lebih nyaman klik yang sedikit lebih berat agar tidak salah klik.
Perbandingan dengan produk serupa: mana yang paling dekat karakternya?
KATAR Elite Wireless paling cocok dibandingkan dengan mouse wireless yang ringkas dan fokus performa, bukan yang besar ergonomis. Di bawah ini perbandingan dengan empat nama yang sering jadi bahan pertimbangan di kelas portable wireless gaming.
Sebelum masuk tabel, satu hal penting: KATAR Elite Wireless unggul di sisi baterai rechargeable dan koneksi Bluetooth plus dongle. Banyak pesaing di segmen portable masih memakai baterai AA atau AAA, yang awet tapi perlu stok baterai.
| Model | Bobot | Konektivitas | Baterai | Sensor dan DPI |
|---|---|---|---|---|
| Corsair KATAR Elite Wireless | 69 g | 2.4GHz dongle, Bluetooth, wired | 60 jam (2.4), 110 jam (BT) | Marksman, 26.000 DPI |
| Logitech G305 LIGHTSPEED | 99 g | 2.4GHz dongle | 250 jam, 1x AA | HERO, 12.000 DPI |
| Razer Orochi V2 | Kurang dari 60 g (tanpa bobot baterai) | 2.4GHz, Bluetooth | hingga 425 jam (2.4), hingga 950 jam (BT), AA atau AAA | 18.000 DPI |
| SteelSeries Aerox 3 Wireless | 68 g | 2.4GHz, Bluetooth 5.0 | 200 jam | TrueMove Air |
| Cooler Master MM731 | 59 g | 2.4GHz, Bluetooth, wired | Variatif tergantung mode dan konfigurasi | 19.000 DPI |
Untuk KATAR Elite Wireless, bobot, baterai, dan konektivitas ditegaskan oleh Corsair serta dipertegas oleh review Tom’s Hardware dan TweakTown.
Untuk Logitech G305, Logitech menyebut bobotnya 99 gram. Best Buy merinci sensor HERO 12.000 DPI dan baterai 250 jam dengan satu AA.
Untuk Razer Orochi V2, Razer menampilkan klaim baterai hingga 950 jam di Bluetooth dan 425 jam di HyperSpeed. Windows Central menyebut bobotnya kurang dari 60 gram, sensor 18.000 DPI, mendukung Bluetooth dan 2.4GHz, sekaligus menegaskan tidak ada RGB dan tidak ada koneksi wired.
Untuk SteelSeries Aerox 3 Wireless, SteelSeries menyebut bobot 68 gram, baterai 200 jam, koneksi 2.4GHz dan Bluetooth 5.0, serta rating IP54 untuk AquaBarrier.
Untuk Cooler Master MM731, halaman produk Cooler Master menampilkan bobot 59 gram, DPI 19.000, dan dimensi fisik.
Logitech G305 LIGHTSPEED: raja value, tapi bukan yang paling ringan
G305 sering jadi rekomendasi budget karena performanya bagus dan baterainya luar biasa awet. Best Buy menyebut sensor HERO 12.000 DPI dan baterai 250 jam dengan satu AA. Tapi Logitech juga menulis bobotnya 99 gram, jadi feel-nya jelas lebih “berisi” dibanding KATAR Elite Wireless.
Kalau kamu tidak masalah pakai baterai AA dan lebih mengutamakan value, G305 masih susah dikalahkan. Tapi kalau kamu cari sensasi mouse ringan untuk flick cepat, KATAR lebih “ngena” dari menit pertama.
Razer Orochi V2: portable monster, baterai gila, tapi tanpa wired
Orochi V2 itu konsepnya mobile banget. Razer mengiklankan baterai hingga 950 jam via Bluetooth dan 425 jam via HyperSpeed.
Kalau kamu sering bepergian dan ingin mouse yang bisa “lupa di-charge” berbulan-bulan, Orochi V2 menggoda. Tapi buat gamer yang ingin opsi charge sambil main via kabel, KATAR terasa lebih aman.
SteelSeries Aerox 3 Wireless: mirip bobot, lebih banyak fitur tampilan dan proteksi
Aerox 3 Wireless Onyx disebut punya bobot 68 gram, baterai 200 jam, koneksi 2.4GHz dan Bluetooth 5.0, plus proteksi IP54. Ini model yang lebih “showy” karena RGB-nya 3 zona dan shell berlubang, sementara KATAR lebih kalem dan minimalis.
Pilihan jatuh ke selera: kalau kamu ingin tampilan dan proteksi ekstra, Aerox menarik. Kalau kamu ingin bodi solid sederhana dan rechargeable yang praktis, KATAR tetap punya daya tarik.
Cooler Master MM731: paling ringan di daftar ini, bentuknya juga beda
Cooler Master menyebut MM731 punya bobot 59 gram dan DPI 19.000. Dari arah desain, MM731 condong ke ergonomis kecil, sementara KATAR lebih “netral ringkas” yang gampang dibawa fingertip atau claw.
Buat pemain yang mengejar bobot serendah mungkin, MM731 terlihat unggul di angka. Tapi feel di tangan tetap akan ditentukan bentuk, finishing, dan preferensi grip.
Siapa yang paling cocok pakai CORSAIR KATAR Elite Wireless?
KATAR Elite Wireless itu jelas bukan mouse untuk semua orang, dan itu justru poinnya. Ia seperti alat yang dibuat untuk satu gaya main, lalu dieksekusi serius.
Pemain FPS yang main cepat dan sering angkat mouse
Review Tom’s Hardware dan TweakTown sama-sama menekankan bahwa mouse ringan seperti ini paling bersinar di FPS dan battle royale. Kalau kamu tipe low sens yang sering swipe lebar, bobot 69 gram terasa membantu.
Pengguna claw dan fingertip yang ingin bodi ringkas
Dimensi dan bentuk KATAR Elite Wireless membuatnya nyaman untuk claw dan fingertip, dengan dukungan yang cukup tanpa terasa “memaksa telapak”. Ini pas untuk gamer yang tidak suka mouse besar.
Gamer laptop yang butuh Bluetooth tapi tetap ingin dongle untuk tanding
Bluetooth untuk kerja, Slipstream untuk main, lalu bisa charge via USB saat diperlukan. Paket fitur ini yang membuat KATAR terasa fleksibel, dan angka baterainya juga jelas dipisah per mode pemakaian.
Hal yang perlu kamu ingat sebelum checkout
Finishing yang mudah menangkap bekas jari adalah keluhan yang berulang di review. Tombol utama juga bisa terasa terlalu sensitif buat sebagian orang. Dan kalau kamu tipe yang ingin banyak profil onboard, TweakTown mencatat hanya ada ruang satu profil tersimpan di mouse.