Asus ROG Claymore II itu salah satu keyboard gaming yang dari awal memang tidak mencoba jadi “aman”. Ia datang dengan konsep modular yang kelihatan sederhana, tapi efeknya besar buat meja gaming: bagian utama dibuat ringkas ala layout 80 persen, lalu numpad terpisah bisa dipasang di kanan atau di kiri, atau dilepas total kalau kamu ingin ruang mouse seluas mungkin. Ide ini terasa “ROG banget”, karena fokusnya bukan cuma estetika, tapi benar benar mengejar fleksibilitas setup untuk genre game yang beda beda.
Di kelas premium, Claymore II juga mengusung switch optik ROG RX, koneksi wireless 2.4 GHz RF, polling 1000 Hz, respon 1 ms, serta baterai internal 4000 mAh. Jadi ini bukan keyboard modular yang komprominya besar, melainkan perangkat yang memang diposisikan untuk gamer yang sensitif terhadap respons input.
Desain modular yang bukan gimmick
Kalau kamu lihat sekilas, Claymore II seperti keyboard full size biasa. Tapi begitu numpad dilepas, kamu langsung paham mengapa desain ini punya value yang nyata: bagian inti jadi lebih pendek, gerakan mouse lebih bebas, dan kamu bisa menata posisi tangan kanan supaya lebih natural untuk FPS atau game kompetitif lain.
Layout 80 persen yang bisa berubah jadi full size
Bagian inti Claymore II pada dasarnya adalah layout 80 persen, sehingga area arrow cluster dan navigasi tetap ada, tetapi “blok angka” tidak permanen menempel. Saat butuh full size untuk kerja, spreadsheet, atau game yang banyak shortcut angka, numpad tinggal dipasang dan kamu dapat rasa full size lagi. Asus sendiri memposisikan ini sebagai format 80 persen dan 100 persen dalam satu produk.

Yang menarik, cara Asus mengemas konsep ini tidak terasa rapuh. Numpad bukan aksesori tipis yang sekadar menempel magnet, tetapi modul yang terasa seperti bagian dari keyboard utama, dengan sistem koneksi yang memang dibuat supaya stabil saat dipasang. Asus juga menyinggung adanya plate baja khusus untuk menjaga kekokohan modul numpad dan membantu mengurangi wobble.
Numpad bisa dipasang di kanan atau di kiri
Ini poin pembeda terbesar dari keyboard lain di kelas harga serupa. Untuk gamer kidal, streamer yang butuh macro pad di kiri, atau pemain MMO yang ingin tombol macro lebih dekat ke tangan kiri, numpad yang bisa dipindah sisi itu benar benar memudahkan. Numpad ini juga bisa dijadikan macro keypad, bukan cuma angka.
Di praktiknya, penempatan numpad di kiri sering terasa “lebih masuk akal” untuk game yang intens, karena tangan kiri bisa mengakses macro tanpa mengganggu area WASD, sementara tangan kanan tetap fokus mouse. Sebaliknya, untuk kerja dan penggunaan angka cepat, posisi kanan tetap yang paling natural.
Bahan, wrist rest, dan rasa premium yang konsisten
Claymore II punya wrist rest magnetik berbahan leatherette yang menempel rapi dan terasa nyaman untuk sesi panjang.
Keycap yang digunakan pada banyak varian juga sudah PBT doubleshot, yang biasanya lebih tahan licin dibanding ABS pada pemakaian lama.
Switch ROG RX: cepat, stabil, dan terasa “rapi”
ROG Claymore II memakai switch optik ROG RX. Karakter switch optik umumnya terkenal karena debounce delay sangat kecil, jadi input bisa terasa lebih “instan”. Asus menekankan performa 1 ms baik pada mode kabel maupun wireless.
RX Blue untuk yang suka clicky
Varian RX Blue punya karakter clicky dan tactile, dengan actuation point 1.5 mm dan force sekitar 65 g.

Di game yang butuh keypress tegas, sensasi clicky ini bisa menyenangkan. Tapi konsekuensinya, suara akan lebih terdengar, jadi kalau kamu sering main malam atau satu ruangan dengan orang lain, ini perlu dipertimbangkan.
Stabilitas stem dan minim wobble
Salah satu masalah di banyak keyboard mekanikal adalah wobble keycap yang bikin feel jadi kurang presisi, terutama saat spam tombol di game. Asus menonjolkan desain switch RX untuk menghadirkan keystroke yang konsisten dan minim wobble, dan itu sejalan dengan positioning Claymore II sebagai keyboard kompetitif premium.
Konektivitas dan performa input untuk gaming kompetitif
Bagian yang paling menentukan apakah keyboard wireless layak buat kompetitif adalah stabilitas koneksi dan latensi. Di sini, Claymore II memang tidak main main karena hanya fokus ke satu jalur wireless utama: 2.4 GHz RF dengan dongle, plus opsi kabel.
Wireless 2.4 GHz RF dan mode kabel
Dari spesifikasi resminya, koneksi Claymore II ada dua: USB dan RF 2.4 GHz. Tidak ada Bluetooth.
Keputusan ini terasa “gaming first”. Bluetooth memang enak untuk multi device, tapi sering tidak jadi pilihan utama untuk latensi terendah. Jadi untuk target pengguna Claymore II, fokus Asus masuk akal: one dongle, nyalakan, main.
Polling 1000 Hz, respon 1 ms, dan anti ghosting
Claymore II membawa polling rate 1000 Hz, N key rollover, dan anti ghosting penuh.
Dalam game seperti FPS, perbedaan polling rate itu lebih terasa saat kamu banyak melakukan micro movement, quick swap senjata, atau spam input tertentu. Ini bukan soal “lebih cepat dari reaksi manusia”, tapi soal input yang terasa konsisten dan tidak “ketahan” saat kamu menekan beberapa tombol bersamaan.
Latensi nyata dalam pemakaian
Pengujian pihak ketiga juga menempatkan Claymore II sebagai keyboard dengan wireless latency yang sangat rendah, dan bahkan mereka menegaskan keyboard ini tidak punya Bluetooth sehingga fokusnya memang di RF dan kabel.
Kalau gaya mainmu banyak di FPS kompetitif, rhythm game, atau game yang butuh timing rapat, Claymore II terasa dirancang untuk itu.
Kontrol media, hotkey, dan macro yang relevan buat gamer
Keyboard gaming premium yang bagus bukan cuma soal switch dan RGB, tapi juga soal workflow: macro, shortcut, dan kontrol cepat.
Hotkey di modul numpad plus volume wheel
Modul numpad Claymore II punya volume wheel dan empat tombol hotkey khusus. Hotkey ini bisa kamu isi shortcut aplikasi, macro in game, atau fungsi lain yang kamu butuhkan.
Ini detail kecil yang efeknya besar. Dalam sesi gaming, kamu bisa mengatur volume Discord, mute mic, atau menjalankan macro build item tanpa harus alt tab berulang.

Rekam macro langsung dari keyboard dan simpan profile
Asus menyebut adanya dukungan on the fly macro recording dan onboard memory untuk menyimpan beberapa profile.
Buat gamer yang sering pindah game, profile ini membantu. Satu profile untuk FPS, satu untuk MMO, satu untuk kerja. Tinggal switch, layout macro ikut berubah.
Armoury Crate sebagai pusat kontrol
Semua pengaturan tombol, macro, dan RGB mengarah ke Armoury Crate.
Kekuatan Armoury Crate biasanya terasa kalau kamu pakai ekosistem ROG lain, karena sinkronisasi perangkat jadi lebih gampang. Kekurangannya, bagi pengguna yang ingin software seringan mungkin, Armoury Crate tetap software “besar” dengan banyak modul.
RGB dan Aura Sync yang tetap jalan saat wireless
ROG tidak mungkin melepas RGB, dan Claymore II juga tidak pelit. Pencahayaan per key bisa diatur efeknya, lalu disinkronkan lewat Aura Sync, bahkan saat mode wireless.

Indikator baterai yang fungsional
Selain estetika, Claymore II juga punya indikator level baterai berbasis LED, jadi kamu bisa tahu kapan harus charge tanpa nebak.
Baterai, fast charge, dan port passthrough
Di keyboard wireless, baterai bisa jadi sumber drama. Claymore II setidaknya punya angka yang jelas dan fitur pengisian cepat yang terasa fungsional.
Daya tahan baterai: angka klaim dan angka pengujian
Dari sisi produsen dan listing, Claymore II diklaim bisa bertahan sekitar 43 jam dalam mode wireless dengan RGB menyala.
Pengujian pihak ketiga juga mencatat kisaran sekitar 43 jam saat backlight aktif, dan bisa naik sampai sekitar 144 jam saat backlight dimatikan.

Angka ini bukan yang paling tinggi di dunia keyboard wireless, tapi untuk keyboard modular dengan RGB per key yang terang, performanya masih masuk kategori aman.
Fast charge 30 menit untuk pemakaian panjang
Asus menyebut pengisian 30 menit bisa memberi sekitar 18 jam pemakaian dengan lampu dimatikan.
Buat rutinitas harian, ini fitur yang praktis. Kamu tinggal charge sebentar sebelum main malam, lalu keyboard siap dipakai.
USB A passthrough: ada, tapi ada syarat
Claymore II punya port USB A passthrough, tetapi Asus menjelaskan kamu perlu mematikan mode fast charge untuk memakai passthrough saat keyboard tersambung kabel.
Secara fungsi, passthrough ini enak untuk colok receiver mouse, flash drive, atau kabel charging perangkat lain supaya meja lebih rapi. Tapi karena ada “mode” yang perlu diatur, ini bukan passthrough yang selalu siap tanpa mikir.
Tabel spesifikasi Asus ROG Claymore II
Bagian spesifikasi ini penting supaya kamu bisa menilai Claymore II secara objektif, bukan cuma dari feel.
| Komponen | Detail |
|---|---|
| Model | ROG Claymore II |
| Layout | Modular 80 persen dengan numpad terpisah, bisa jadi 100 persen saat numpad terpasang |
| Switch | ROG RX Optical Mechanical, tersedia RX Red atau RX Blue |
| Koneksi | USB dan RF 2.4 GHz |
| Polling rate | 1000 Hz |
| Response time | 1 ms |
| Anti ghosting | N key rollover |
| Keycap | PBT doubleshot pada varian tertentu |
| Baterai | 4000 mAh |
| Klaim baterai | Sekitar 43 jam wireless dengan RGB menyala |
| Fast charge | 30 menit sekitar 18 jam pemakaian dengan lampu dimatikan |
| Port tambahan | USB A passthrough saat fast charge dimatikan |
| Dimensi (full) | Sekitar 462 x 155 x 39 mm |
| Berat | Sekitar 1156 g tanpa kabel |
Pengalaman pakai di berbagai genre game
Setelah memahami spek dan fitur, pertanyaan sebenarnya adalah: apakah semua ini terasa saat dipakai main?

FPS kompetitif: meja lebih lega, input terasa presisi
Dalam FPS, setup 80 persen tanpa numpad terasa paling “benar”. Kamu dapat ruang ekstra untuk mouse, terutama kalau kamu main dengan sens tinggi atau low sens tapi banyak sweeping. Karena keyboard ini memang fokus ke 2.4 GHz RF dan polling 1000 Hz, sensasi input terasa cepat dan konsisten.
MOBA dan battle royale: hotkey dan volume wheel lebih sering kepakai daripada yang kamu kira
Dalam MOBA atau battle royale, kamu sering perlu switching komunikasi, atur volume, mute, atau menjalankan shortcut tertentu. Di sini, volume wheel dan hotkey di modul numpad bisa jadi “alat kontrol” yang tidak mengganggu flow game.
MMO dan game yang butuh macro: numpad jadi macro pad yang masuk akal
MMO adalah panggung terbaik Claymore II. Numpad bisa kamu jadikan macro pad, lalu kamu pindahkan ke sisi kiri supaya lebih mudah dijangkau. Asus memang menonjolkan fungsi numpad sebagai macro keypad, bukan sekadar angka.
Perbandingan dengan keyboard di kelas harga serupa
ROG Claymore II jelas bukan keyboard “value”. Ia ada di kelas premium, dan di pasar internasional kamu masih bisa menemukan listing yang menaruhnya di angka ratusan dolar, contohnya ada listing yang menampilkan harga sekitar US$384.99 untuk varian RX Red.

Di rentang ini, kompetitornya bukan cuma soal “mekanik RGB”, tapi juga soal fitur wireless, software, build quality, dan kadang gimmick premium seperti low profile atau polling super tinggi.
Razer BlackWidow V3 Pro: tri mode dan ekosistem Synapse
BlackWidow V3 Pro punya koneksi 2.4 GHz dan Bluetooth plus kabel, jadi lebih fleksibel buat multi device.
Razer juga menulis klaim baterai sampai 200 jam saat backlight mati, dan menyediakan beberapa patokan baterai saat backlight aktif.
Kalau kamu butuh Bluetooth karena sering pindah ke laptop atau tablet, Razer menang di fleksibilitas. Tapi Claymore II menang telak di konsep modular numpad kiri kanan yang benar benar mengubah workflow.
Logitech G915: low profile, tipis, dan multi device
Logitech G915 punya karakter yang berbeda karena low profile. Ia menawarkan koneksi LIGHTSPEED dan Bluetooth, plus battery life sekitar 30 jam pada brightness maksimal.
Kalau kamu suka keyboard tipis dengan feel cepat untuk mengetik, G915 itu nyaman. Tapi untuk gamer yang suka key travel lebih “tradisional” dan ingin macro pad modular, Claymore II lebih unik.
Corsair K100 Air Wireless: premium tipis dengan polling ekstrem
Corsair K100 Air adalah keyboard ultra tipis yang punya multi device, koneksi SLIPSTREAM dan Bluetooth, dan baterai sampai 50 jam dengan RGB atau 200 jam tanpa backlight.
Menariknya, Corsair juga menonjolkan polling 8000 Hz saat kabel dan 1000 Hz saat wireless.
Soal harga, halaman resmi Corsair menampilkan harga promo US$169.99 dari harga awal US$329.99.
K100 Air cocok untuk yang mengejar desain tipis dan pengalaman mengetik low travel. Claymore II lebih cocok untuk gamer yang ingin rasa keypress lebih “mekanik penuh” plus modularitas.
Mountain Everest Max: modular numpad versi wired dengan panel display
Kalau bicara modular numpad, Mountain Everest Max termasuk rival konseptual yang paling dekat. Everest Max adalah keyboard modular full size dengan hot swap Cherry MX, polling 1000 Hz, dan punya fitur tambahan berupa media dock display serta display keys.
Bedanya jelas: Everest Max fokus ke mode kabel dan modularitas plus display, sementara Claymore II fokus ke wireless 2.4 GHz yang kompetitif dan ekosistem ROG. Jadi pilihannya tergantung prioritas: kamu butuh wireless serius atau kamu lebih suka modularitas ekstrem dengan display.
Catatan penting sebelum kamu memutuskan beli
ROG Claymore II adalah produk yang kuat, tapi tetap ada beberapa hal yang wajib kamu sadari dari awal supaya ekspektasi tidak meleset.
Tidak ada Bluetooth, fokusnya memang untuk gaming
Kalau kamu ingin satu keyboard untuk PC, laptop, tablet, lalu pindah perangkat dengan cepat, Claymore II bukan opsi paling nyaman karena spesifikasinya hanya USB dan RF 2.4 GHz.
Modular itu fleksibel, tapi juga berarti ukuran dan berat tetap premium
Dengan modul numpad, wrist rest, dan bodi yang solid, Claymore II bukan keyboard yang “ringan dibawa”. Beratnya di kisaran 1156 gram tanpa kabel.
Passthrough ada, tapi perlu mode yang tepat
Kalau kamu berharap USB passthrough selalu aktif setiap saat, ingat bahwa Asus mengaitkannya dengan mode fast charge, jadi kamu perlu memilih prioritas: charge cepat atau passthrough.
Di titik ini, Claymore II terasa seperti keyboard yang dibuat untuk gamer yang sudah tahu kebiasaannya sendiri: butuh meja lega untuk FPS, butuh macro pad untuk MMO, ingin wireless yang tidak terasa kompromi, dan suka konsep “setup bisa berubah sesuai game”. Kalau itu kamu, Claymore II punya argumen yang sulit ditiru kompetitor, karena modular numpad kiri kanan ini masih jarang ada di kelas premium.

