Milih game engine itu rasanya kayak milih partner kerja. Kalau cocok, semuanya ngalir. Kalau enggak, hal kecil aja bisa jadi drama harian, dari build error, shader aneh, sampai performa yang tiba tiba ngedrop pas mau rilis. Di 2025, pilihannya makin rame, tapi dua nama besar masih sering jadi “jalan cepat” buat banyak orang, sementara engine lain pelan pelan naik kelas dan makin relevan buat indie.
Kenapa urusan milih engine sering bikin galau
Banyak developer indie bukan butuh engine yang paling canggih, tapi yang paling pas buat cara kerja mereka. Masalahnya, engine itu bukan cuma soal fitur. Dia nentuin ritme produksi, cara tim komunikasi, sampai seberapa sering kamu “berantem” sama tooling.
Tiga hal yang paling sering bikin indie nyesel
Yang pertama, overkill. Kamu pengin bikin game 2D kecil, tapi milih engine yang berat karena kepincut visual demo. Akhirnya waktu habis buat ngurusin hal teknis yang sebenernya bukan inti game.
Yang kedua, salah baca ekosistem. Ada engine yang enak dipakai, tapi plugin pentingnya sedikit. Begitu kamu butuh fitur spesifik, kamu baru sadar harus bikin sendiri dari nol.
Yang ketiga, ngikutin tren tanpa ngikutin kebutuhan. Karena lihat game viral dibikin pakai engine tertentu, kamu ikut, padahal genre dan scope kamu beda jauh.
Peta singkat engine yang lagi rame di 2025
Kalau kamu lihat dari dua kacamata, hasilnya bisa beda. Kacamata pertama: engine apa yang paling banyak dipakai developer. Kacamata kedua: engine apa yang paling banyak dipakai game yang rilis dan laku.
Di survei GDC State of the Game Industry 2025, Unity dan Unreal sama sama jadi engine yang paling sering dipakai responden, masing masing 32 persen. Ada juga porsi yang pakai engine internal sekitar 13 persen, dan Godot ada di angka kecil sekitar 4 persen.
Kalau kamu geser ke data rilis game di Steam, laporan Video Game Insights nunjukin lebih dari setengah game yang rilis di 2024 dibuat dengan Unity sekitar 51 persen, lalu Unreal sekitar 28 persen, Godot sekitar 5 persen, GameMaker sekitar 4 persen. Tapi kalau lihat unit terjual, ceritanya beda, Unreal dan engine custom studio besar punya porsi besar, sementara Unity ada di sekitar 26 persen untuk unit terjual pada 2024.
Kenapa angka survei developer dan angka Steam bisa beda
Survei developer itu menangkap “alat kerja” yang dipakai banyak orang, termasuk prototipe, project kantor, dan project yang belum rilis. Steam lebih ngukur jejak yang kelihatan di pasar PC, dan datanya juga berat di game yang benar benar rilis.
Jadi jangan kaget kalau Unity kelihatan super dominan di jumlah game rilis, tapi Unreal kelihatan sangat kuat di sisi unit terjual, karena game skala besar sering pakai Unreal atau engine custom.
Cara bacanya biar enggak salah ambil kesimpulan
Kalau kamu indie yang targetnya cepet rilis, data “jumlah game rilis” itu relevan, karena nunjukin engine yang dipakai banyak tim kecil. Kalau kamu indie yang targetnya visual berat, production value tinggi, atau pengin masuk kategori yang “berasa AAA”, data “unit terjual” dan tren Unreal di game besar itu jadi sinyal penting.
Unity: si serba bisa yang masih jadi default banyak indie
Unity itu ibarat warung lengkap. Mau bikin 2D bisa, 3D bisa, mobile bisa, VR juga bisa. Dan yang paling terasa buat indie: kamu jarang merasa sendirian karena tutorial, forum, aset, sampai contoh project gampang dicari.
Unity paling cocok buat siapa
Kalau kamu solo dev atau tim kecil yang pengin “bisa bikin apa aja dulu”, Unity sering jadi pilihan aman. Apalagi kalau kamu butuh rilis lintas platform dan pengin workflow yang udah umum di industri. Di data Steam pun, Unity masih dominan di jumlah game yang rilis.
Yang bikin Unity tetap menang di lapangan
Yang paling kerasa itu ekosistem. Asset Store dan ekosistem plugin bikin banyak masalah bisa selesai lewat solusi siap pakai. Untuk indie, ini bisa ngirit waktu berbulan bulan.
Unity juga enak untuk iterasi cepat, terutama kalau kamu tipe yang suka coba mekanik baru tiap hari. Kamu bisa bikin prototipe, uji feel, lalu buang kalau jelek tanpa ngerasa “project ini kebesaran”.
Hal yang perlu kamu waspadai di 2025
Banyak developer masih inget drama soal perubahan kebijakan biaya beberapa waktu lalu, dan efeknya bikin orang lebih hati hati soal risiko kebijakan perusahaan. Walau adopsinya kelihatan tetap kuat di survei dan rilis game, rasa “was was” itu nyata di obrolan komunitas.
Kalau kamu tipe yang pengin kontrol penuh dan enggak mau tergantung keputusan bisnis vendor, ini salah satu alasan kenapa Godot jadi opsi yang makin sering dilirik.
Kapan Unity terasa kurang pas
Kalau kamu pengin visual kelas atas dengan pipeline yang bener bener siap untuk lighting berat dan asset super detail, Unity bisa, tapi sering butuh effort lebih untuk nyamain feel “film like” yang Unreal banyak orang anggap lebih gampang dicapai.
Kalau kamu pengin ukuran build kecil, runtime ringan, dan tooling yang minimalis, Unity kadang terasa “kebanyakan” untuk project tertentu.
Unreal Engine 5: pilihan buat yang ngejar visual dan skala
Unreal itu terkenal karena kualitas rendering dan toolset yang niat banget untuk production besar. Tapi di 2025, Unreal juga makin sering dipakai tim kecil yang pengin bikin game keliatan mahal, walau timnya tipis.
Di sisi pasar, Unreal punya porsi kuat di unit terjual pada 2024 dan terlihat makin dominan di game ukuran besar.
Unreal cocok buat indie yang kayak apa
Kalau kamu bikin 3D dan pengin atmosfer, lighting, dan detail yang “wah”, Unreal sering jadi jalan cepat. Buat genre seperti action, RPG 3D, shooter, atau game dengan environment realistis, Unreal punya banyak pegangan.
Blueprints itu penyelamat atau jebakan?
Blueprints itu enak banget buat prototipe dan sistem gameplay tertentu. Kamu bisa bikin logic tanpa tenggelam dulu di C plus plus. Buat indie, ini bisa jadi booster, apalagi kalau tim kamu ada designer yang pengin ikut ngoprek.
Tapi jebakannya, kalau kamu bikin sistem makin besar tanpa struktur rapi, graph bisa jadi spageti. Jadi dari awal biasain bikin naming yang jelas, modular, dan kalau perlu pindahin bagian tertentu ke kode.
Tooling karakter makin gampang diakses
Epic juga terus dorong workflow karakter. Salah satu berita yang rame, MetaHuman Creator makin terintegrasi ke Unreal Engine, dan lisensinya dibuat lebih fleksibel, termasuk bisa dipakai juga di engine lain dan dijual lewat marketplace mereka. Ini bikin pipeline karakter realistis makin kebuka buat tim kecil yang dulu ngerasa itu cuma mainan studio besar.
Kelemahan Unreal yang sering bikin indie mundur pelan pelan
Yang paling sering: berat. Project Unreal bisa makan storage besar, build time panjang, dan hardware kamu harus siap. Kalau laptop kamu pas pasan, workflow bisa jadi tersiksa.
Lalu, kalau target kamu mobile ringan, Unreal bisa, tapi kamu perlu disiplin optimasi dari awal. Kalau enggak, performanya gampang jebol.
Godot: ringan, gratis, dan makin matang buat indie
Godot itu favorit buat orang yang suka engine yang simpel, cepat dibuka, dan terasa “punya komunitas”. Buat indie, daya tarik besarnya jelas: gratis, open source, dan kamu enggak ngerasa “nanti kalau kebijakan berubah gimana”.
Di data Steam, Godot memang masih kecil dibanding Unity dan Unreal, tapi terlihat tumbuh dan makin sering dipakai di segmen game kecil.
Godot enak banget buat prototipe yang gesit
Kalau kamu pengin bikin game 2D dengan cepat, Godot itu nyaman. UI editor ringan, iterasi cepat, dan banyak orang suka karena “enggak ribet”. Untuk 3D, Godot juga makin oke, tapi kamu tetap harus realistis sama scope.
Scripting yang terasa ramah
GDScript itu gampang dipelajari, apalagi kalau kamu pernah pegang Python. Banyak indie suka karena bisa produktif cepat. Buat yang butuh performa atau integrasi tertentu, opsi C sharp juga ada, walau pengalaman tiap orang beda tergantung kebutuhan.
Realita yang perlu kamu terima di 2025
Godot berkembang cepat, tapi beberapa area masih jadi PR, misalnya tooling dan ekosistem plugin untuk kebutuhan tertentu. Dari prioritas resmi Godot juga kelihatan kalau mereka ngeliat Android sebagai area penting yang masih perlu ditingkatkan, dan mereka mengaitkannya dengan hasil community poll.
Kalau game kamu bergantung pada plugin iklan, analitik, atau layanan mobile tertentu, kamu perlu cek dulu apakah ekosistemnya udah aman buat production.
GameMaker dan teman teman 2D: fokus, cepat, dan sering lebih “jadi”
Kadang solusi terbaik itu bukan yang serba bisa, tapi yang fokus. Kalau game kamu 2D, GameMaker masih jadi salah satu pilihan yang banyak dipakai buat ngejar rilis cepat, apalagi untuk action 2D, platformer, sampai game arcade.
Di data Steam, GameMaker ada porsi sekitar 4 persen dari game yang rilis di 2024.
Kenapa engine 2D yang fokus sering menang buat indie
Karena kamu enggak buang waktu ngurusin hal yang enggak kamu pakai. Workflow asset, collision, sampai animasi biasanya udah disiapin dengan cara yang “langsung nyambung” buat 2D.
Buat beberapa tim, ini lebih penting daripada punya seribu fitur tapi cuma kepakai sepuluh.
Jangan lupa opsi lain kalau kamu bikin game tertentu
Kalau kamu bikin visual novel, engine seperti RenPy itu sering jadi pilihan karena workflow narasi dan branchingnya enak. RenPy juga kebaca sebagai salah satu engine yang muncul di laporan Steam itu sebagai kategori tersendiri.
Kalau kamu bikin game yang super sederhana dan pengin publish cepat di web, Construct sering jadi opsi menarik. Intinya, genre dan target platform itu ngaruh banget.
Roblox Studio dan platform UGC: kalau kamu ngejar komunitas lebih dulu
Ada tipe indie yang bukan ngejar “jualan di Steam dulu”, tapi ngejar komunitas dan iterasi bareng player. Di sinilah platform UGC seperti Roblox kerasa kuat.
Kapan ini jadi pilihan paling masuk akal
Kalau game kamu hidup dari konten berulang, sosial, dan kamu pengin loop update cepat berdasarkan feedback, platform begini bisa jadi jalan pintas. Kamu dapat distribusi dan discovery yang beda dibanding rilis game premium biasa.
Trade off yang harus kamu siapin
Kamu lebih terikat sama aturan platform, cara monetisasi platform, dan batasan teknisnya. Jadi kamu perlu nyaman dengan “main di halaman orang”, bukan punya rumah sendiri.
Cara milih engine sesuai tipe indie kamu
Sekarang bagian yang paling kepake. Anggap ini bukan aturan saklek, tapi peta biar kamu enggak kebanyakan mikir.
Kamu solo dev yang pengin rilis secepatnya
Fokusnya: workflow cepat, tooling jelas, dan komunitas besar. Unity sering aman karena serba ada, sementara Godot enak kalau kamu pengin ringan dan enggak mau pusing lisensi. Data Steam juga nunjukin Unity kuat banget di volume rilis, yang biasanya dekat sama realita tim kecil.
Kamu tim kecil yang ngejar 3D “berasa mahal”
Unreal sering unggul, terutama kalau kamu pengin lighting dan kualitas visual tinggi dengan pipeline yang udah siap. Di sisi unit terjual, Unreal juga kelihatan kuat untuk game yang performnya besar.
Kalau kamu tetap milih Unity untuk 3D berat, pastiin kamu punya waktu buat tuning rendering dan performa dari awal.
Kamu bikin 2D yang gameplaynya padat
Pertimbangkan GameMaker, Godot, atau Unity 2D tergantung cara kerja kamu. Kalau kamu pengin tool 2D yang fokus dan cepat, engine 2D khusus sering bikin progress lebih kelihatan tiap minggu.
Kamu target mobile casual
Unity masih sering jadi pilihan karena ekosistem mobile dan dukungan lintas platform yang umum dipakai. Tapi kalau kamu mobile dan pengin super ringan, Godot bisa menarik, asal kebutuhan plugin mobile kamu aman.
Kamu pengin game multiplayer online yang serius
Engine itu baru setengah jalan. Kamu juga butuh network stack, backend, matchmaking, dan monitoring. Unreal dan Unity sama sama punya jalur masing masing, tinggal kamu nilai mana yang tim kamu bisa handle. Kalau kamu masih awal, bikin prototype multiplayer kecil dulu, jangan langsung bikin MMO versi kamu.
Daftar Game Populer per Engine sebagai patokan anda
Berikut contoh game yang dibuat pakai engine engine yang tadi kamu bahas, aku rangkum dalam tabel biar gampang kebayang.
| Engine | Contoh game populer yang dibuat dengan engine ini |
|---|---|
| Unity | Hollow Knight Among Us Cuphead Genshin Impact |
| Unreal Engine | Fortnite (UE 5.1) VALORANT (upgrade ke UE 5.3) Sifu (UE4) |
| Godot | Cassette Beasts Dome Keeper Backpack Battles |
| GameMaker | Undertale Hotline Miami Hyper Light Drifter |
| Ren’Py | Doki Doki Literature Club Katawa Shoujo Long Live the Queen |
| Construct | Airscape: The Fall of Gravity BalanCity The Next Penelope There is no game! |
| Roblox Studio | Adopt Me! MeepCity (game Roblox) Blox Fruits (game Roblox) |
Checklist cepat sebelum kamu start develop dengan engine
Ini bagian yang sering dilupain, padahal paling ngaruh. Sebelum kamu commit berbulan bulan, coba lakuin uji pendek tapi niat.
Bikin prototype satu minggu yang beneran mirip game kamu
Jangan cuma bikin karakter bisa jalan. Bikin satu loop gameplay inti. Misalnya combat, farming, puzzle, apa pun yang jadi identitas game kamu. Dari situ baru keliatan, engine ini bikin kamu produktif atau bikin kamu kesel.
Uji pipeline art dari awal
Coba import asset dari tool yang kamu pakai, misalnya Blender. Coba animasi. Coba UI. Banyak project hancur bukan karena engine jelek, tapi karena pipeline artnya bikin capek.
Simulasikan build ke target platform kamu
Kalau target kamu PC dan Steam, build test ke PC itu wajib. Kalau target kamu mobile, test di device beneran, bukan cuma di editor. Data Steam dan survei developer cuma peta besar, tapi nasib kamu ditentuin sama build kamu sendiri.
Cek komunitas dan plugin untuk masalah yang kamu yakin bakal ketemu
Kalau game kamu butuh save system kompleks, localization, controller support, atau integrasi tertentu, cari dulu. Lihat apakah solusinya ada, aktif, dan dipakai orang.
Hitung risiko non teknis, termasuk perubahan kebijakan
Kalau kamu sensitif soal biaya dan kebijakan vendor, masukin itu ke pertimbangan. Survei industri nunjukin Unity dan Unreal masih dua teratas di pemakaian developer, tapi pilihan terbaik buat indie itu sering bukan yang paling populer, melainkan yang paling cocok buat cara kamu kerja.