Fenomena “Alden Pose”: Dari Meme Lucu ke Kontroversi di Dunia Esports

Dalam era media sosial yang tengah merajai minat massa, selebritas tidak hanya dikenal lewat karya mereka—tapi juga viral melalui momen spontan dan tak terduga. Salah satu fenomena semacam itu adalah “Alden pose”, sebuah tren pose unik oleh aktor populer asal Filipina, Alden Richards. Artikel ini akan mengulas seluk-beluk tren tersebut, mulai dari asal-usulnya, reaksi sang aktor, penyebarannya ke ranah esports, hingga kontroversi yang melibatkan komunitas Mobile Legends di Indonesia.


Asal Usul “Alden Pose”

Fenomena “Alden pose” bermula dari sebuah foto lama Alden Richards yang menunjukkan dirinya menempelkan dua jari ke dahinya sambil menjulurkan lidah secara berlebihan. Ekspresi tersebut tampak spontan, konyol, sekaligus mengundang tawa. Foto itu kemudian menjadi bahan meme dan parodi di berbagai platform, khususnya TikTok, dengan banyak pengguna menggabungkannya dengan lagu “Kung Tayo” dari Skusta Clee.

Karena kemampuannya mencuri tawa netizen, pose tersebut dengan cepat berubah menjadi simbol baru yang meramaikan percakapan dunia maya. Meme ini menunjukkan bahwa humor bisa lahir dari hal paling absurd sekalipun, bahkan dari sebuah foto lama yang mungkin awalnya tidak dianggap spesial.


Reaksi Alden Richards dan Adaptasi Media Sosial

Tidak butuh waktu lama sebelum Alden Richards sendiri ikut merespons viralnya pose itu. Alih-alih merasa malu atau terganggu, ia justru memilih ikut bermain dalam tren yang melibatkan dirinya. Dalam sebuah unggahan di TikTok, Alden kembali melakukan pose ikonik tersebut namun dengan twist baru: ia mengaitkan pose itu dengan konten “Rating Pinoy Food”.

Dalam video tersebut, Alden menyeimbangkan gestur ikoniknya sambil mencicipi hidangan khas Filipina, dan bereaksi dengan menjulurkan lidahnya lebih jauh untuk menggambarkan rasa makanan. Caption yang ia tulis, “Walang makakapigil sa energy…”, semakin menegaskan bahwa ia menyambut tren ini dengan semangat.

Reaksi netizen pun beragam, mayoritas berupa tawa dan kebanggaan. Beberapa komentar yang muncul antara lain:

  • “THE OG DILA BOY”
  • “If you can’t beat them, join them”
  • “Meme king ka na hahhahaha”

Keputusan Alden menjadikan foto meme itu sebagai ikon profil Instagram resminya juga memperlihatkan sikap santai dan cerdas dalam menghadapi budaya meme. Ia berhasil membalikkan situasi yang awalnya bisa saja membuatnya malu, menjadi bagian dari strategi branding publik yang positif.


Mengapa “Alden Pose” Begitu Menarik?

Tren ini menjadi viral bukan hanya karena pose itu lucu, tetapi juga karena kepribadian Alden yang terbuka terhadap humor tentang dirinya sendiri. Sikapnya sesuai dengan budaya meme modern, di mana publik lebih menghargai figur yang bisa menertawakan dirinya alih-alih menjaga image terlalu sempurna.

Selain itu, adanya elemen musik melalui lagu “Kung Tayo” membuat konten semakin mudah diterima. Kombinasi audio-visual tersebut menciptakan paket komedi yang cepat dipahami dan gampang diulang, sehingga mendorong lebih banyak orang untuk membuat versi remix dan parodi.


Dampak Tren: Dari Meme ke Identitas Publik

Alden Richards tidak hanya menjadi wajah dari meme, tetapi ia juga berhasil menggunakannya untuk memperkuat identitas publiknya. Dengan ikut serta dalam tren, ia membangun citra yang lebih inklusif, ringan, dan humanis. Fans merasa lebih dekat karena Alden terlihat tidak keberatan bercanda dengan dirinya sendiri.

Hal ini membuktikan bahwa selebritas yang mampu menurunkan jarak formal dengan audiens seringkali lebih dicintai. Dalam hal ini, “Alden pose” bukan hanya sekadar tren lucu, melainkan simbol keterhubungan yang mempererat relasi antara Alden dan fans-nya.


Menyebrangi Ranah Hiburan ke Dunia Esports

Yang membuat fenomena ini semakin menarik adalah bagaimana “Alden pose” kemudian merambah ke ranah yang sama sekali berbeda: dunia esports, khususnya komunitas Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) di Filipina.

Sejumlah caster dan pemain profesional terlihat melakukan “Alden pose” dalam momen santai maupun perayaan pertandingan. Bahkan, salah satu jungler ternama asal Filipina, Kairi, yang kini membela ONIC Esports Indonesia, ikut meramaikan tren ini. Video memperlihatkan dirinya dan beberapa caster MPL PH Season 16 menirukan pose tersebut dengan penuh semangat.

Fans pun menyambut dengan komentar antusias, bahkan ada yang menyebut, “1…2…3… Alden Richards pose! Kairi had perfect games…”. Bagi mereka, pose itu seakan menjadi simbol kemenangan, perayaan, atau sekadar humor internal komunitas.


Kairi dan ONIC: Pose sebagai Bahasa Ekspresi

Kairi dikenal sebagai salah satu jungler terbaik di Asia Tenggara. Ketika ia melakukan gestur “Alden pose” bersama rekan atau caster, banyak yang menilai bahwa pose itu menjadi cara kreatif untuk mengekspresikan diri.

Meski berbeda konteks dengan pose Alden Richards yang menjulurkan lidah, gestur Kairi tetap dikaitkan dengan semangat yang sama: ringan, lucu, dan apa adanya. Fans segera membuat meme yang menyandingkan Alden dengan Kairi, menciptakan perpaduan unik antara pop culture dan esports.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana tren populer bisa masuk ke ruang kompetitif seperti Mobile Legends, tanpa kehilangan makna humor dan spontanitas.


Mengapa Pose Ini Diterima di Komunitas MLBB Filipina?

Ada beberapa alasan mengapa “Alden pose” begitu cepat diterima di kalangan MLBB Filipina:

  1. Dekat dan ringan – Pose ini mudah ditiru dan cocok digunakan dalam suasana santai.
  2. Simbol kekompakan tim – Dilakukan bersama, pose ini menciptakan rasa solidaritas dan kebersamaan.
  3. Budaya kreatif – Fans MLBB dikenal aktif membuat konten parodi dan meme, sehingga tren ini dengan cepat menjadi bahan remix yang populer.

“Dalam dunia esports yang kerap serius dan penuh tekanan, momen humor sederhana seperti pose ini menghadirkan keseimbangan—membuat tokoh-tokoh seperti Kairi terasa lebih nyata dan relatable.”


Kontroversi di Indonesia: Fans RRQ Merasa Dihina

Namun, cerita menjadi berbeda ketika tren ini sampai ke telinga fans Mobile Legends di Indonesia, khususnya pendukung tim RRQ. Sebagian fans menilai bahwa Kairi menggunakan “Alden pose” bukan sebagai humor, melainkan sebagai sindiran atau ejekan terhadap tim lawan.

Diskusi di media sosial, termasuk Reddit, menunjukkan adanya komentar yang mengaitkan pose Kairi dengan hinaan kepada RRQ. Beberapa fans bahkan melontarkan komentar bernada keras dengan mengatakan bahwa mereka ingin Kairi keluar dari MPL Indonesia agar RRQ bisa kembali mendominasi.

Salah satu komentar yang muncul di thread Reddit berbunyi:

“If you look at the profile of those hate comments they are fans of RRQ they want Kairi out so RRQ will dominate next MPL-ID.”

Reaksi keras ini memperlihatkan bahwa bagi sebagian fans, rivalitas antar tim bisa membuat interpretasi sederhana berubah menjadi kontroversi besar.


Rivalitas, Fandom, dan Toxicitas Online

Fenomena ini mengungkap wajah lain dari dunia esports: bagaimana fandom yang penuh semangat bisa berubah menjadi toxic ketika rivalitas memanas. Bagi fans Filipina, “Alden pose” adalah simbol keceriaan dan kebersamaan. Namun bagi sebagian fans Indonesia, terutama yang mendukung RRQ, pose tersebut diartikan sebagai bentuk penghinaan.

“Menarik sekaligus menyedihkan melihat bagaimana gesture humor seperti ‘Alden pose’ bisa berubah jadi simbol kebencian dalam konteks persaingan esports. Seharusnya itu menjadi momen untuk menyambung interaksi positif, bukan justru memperparah jurang ketegangan antar fandom.”

Kontroversi ini menunjukkan betapa rapuhnya batas antara humor dan provokasi dalam dunia kompetisi. Satu gestur bisa ditafsirkan dengan cara yang sangat berbeda tergantung pada konteks rivalitas.


Implikasi Lebih Luas dalam Kultur Esports

Fenomena “Alden pose” dalam MLBB memperlihatkan bagaimana budaya pop bisa masuk ke dunia kompetitif dengan dampak berlapis. Di satu sisi, tren ini memperkuat kedekatan antara pemain, caster, dan fans. Di sisi lain, tren yang sama bisa berubah menjadi bahan kontroversi dan pemicu konflik antar komunitas.

Pose sederhana ini akhirnya menjadi refleksi dari dinamika besar dalam esports: sebuah dunia yang penuh kreativitas, tetapi juga rawan gesekan akibat rivalitas fanatik.

Related posts

Bongkar Kekayaan RRQ, dari Hadiah Turnamen hingga Bisnis Keluarga Pak Qeon

Tyr Cup ROOC Jadi Bukti Ragnarok Mobile Bisa Serius Tanpa Jebakan Duit

IME Roleplay GTA V, Kota Virtual yang Bikin Pemain Indonesia Betah Main Peran