Arena baru dibuka, atmosfer baru dipanaskan, dan ONIC langsung diseret ke duel yang tidak memberi ruang untuk “pemanasan”. Di hari pertama Swiss Stage M7 MLBB 2026 pada Sabtu, 10 Januari 2026, ONIC Esports memulai langkahnya lewat laga pembuka melawan Boostgate Esports (BGT), tim asal Turki yang baru saja lolos dari jalur Wild Card. ONIC menang 1-0, tetapi cara menangnya jauh dari kata nyaman karena sempat ditekan keras dan nyaris kehilangan kontrol tempo permainan.
Laga pembuka yang langsung “ngetes mental” ONIC
Fakta bahwa ONIC ditempatkan sebagai match pertama di Swiss Stage bukan sekadar urusan jadwal, tapi juga pesan: turnamen ini tidak menunggu siapa pun siap. Di Day 1, ONIC vs BGT memang dijadwalkan jadi pembuka, dimainkan di MPL Arena XO Hall, Jakarta, pada pukul 14.00 WIB.
Yang membuat laga ini terasa lebih berat adalah format ronde awal Swiss Stage yang memberi margin kesalahan super tipis. Ronde 1 memakai best of 1, artinya cuma ada satu game untuk menentukan kamu masuk jalur menang atau terlempar ke jalur kejar-kejaran dari awal. Satu momen salah posisi, satu keputusan objektif yang telat, bisa langsung jadi tiket stres untuk ronde berikutnya.

Bo1 itu kejam karena tidak ada “game kedua” untuk membalas
Dalam best of 3, kamu masih bisa “mengatur ulang” setelah kalah satu game. Di best of 1, yang dibutuhkan bukan cuma draft bagus, tapi juga kepala dingin saat match berubah jadi berantakan. Itu yang terjadi di ONIC vs BGT: ONIC akhirnya menang, tapi harus melewati fase game yang sempat terasa tidak sesuai skenario.
Siapa Boostgate Esports, wakil Turki yang datang tanpa beban
Boostgate bukan tim yang datang untuk sekadar tampil. Mereka mengamankan slot Swiss Stage setelah lolos dari Wild Card, bahkan lewat seri yang ketat. Salah satu cerita besar sebelum Swiss Stage dimulai adalah bagaimana Boostgate menuntaskan penentuan dengan skor 3-2 saat menyingkirkan Virtus Pro, menunjukkan mereka punya ketahanan mental dan kemampuan adaptasi dalam seri panjang.
Konteks ini penting karena tim Wild Card sering dianggap “underdog”, tapi underdog yang baru menang perang panjang biasanya justru berbahaya. Mereka main lebih berani, lebih agresif, dan tidak terbebani ekspektasi. Di atas panggung, tim seperti ini sering jadi pemicu upset, atau minimal bikin unggulan kehabisan energi lebih cepat.
Identitas permainan BGT: berani ambil tempo, berani ajak ribut
Dari laporan jalannya laga, BGT mampu menekan ONIC sejak awal, membuat ONIC terlihat tergesa-gesa menghadapi wakil Turki tersebut. Ini tipikal permainan tim yang percaya diri: tidak menunggu late game, tapi memaksa lawan bereaksi terus-menerus.
Jalannya pertandingan: ONIC sempat “ketarik” ke tempo BGT
Game tunggal ini dimainkan di map Flying Clouds. Dari awal, pertandingan tidak berjalan mulus untuk ONIC. BGT menekan dan membuat ONIC terlihat buru-buru, seolah ingin cepat mengunci keadaan tapi justru membuka celah.
Dalam fase awal, BGT bukan cuma unggul dari sisi rasa percaya diri, tetapi juga sempat memimpin perolehan gold secara signifikan. Ada momen di mana selisih gold berada di kisaran 6 ribu, dengan angka 42k berbanding 48k, yang menggambarkan ONIC memang sedang berada di posisi “ngejar napas”.
Momen krusial: BGT punya peluang meruntuhkan base, tapi gagal mengeksekusi
Salah satu bagian paling menentukan adalah saat BGT sebenarnya punya peluang emas untuk menekan sampai ke base, namun eksekusi mereka tidak maksimal. Dalam laporan pertandingan, situasinya digambarkan sebagai momen di mana adrenalin justru membuat keputusan jadi kurang rapi.
Di level M-Series, momen seperti ini sering jadi pembeda antara “nyaris upset” dan “upset beneran”. Dan ONIC, seperti tim besar pada umumnya, punya satu keunggulan klasik: mereka bisa memanfaatkan satu kesalahan lawan untuk membuka pintu comeback.

Titik balik: ONIC menyamakan gold, lalu berbalik unggul
Ketika BGT mulai mundur atau ragu mengambil langkah pamungkas, ONIC perlahan mengubah ritme. Selisih gold yang sempat sekitar 6 ribu bukan cuma tertutup, tapi berbalik menjadi keunggulan ONIC di titik 64,3k vs 60,8k. Dari posisi tertekan, ONIC tiba-tiba berada di kursi pengendali.
Di fase ini, kualitas bintang ONIC mulai “kelihatan bentuknya”. Di laporan pertandingan, nama Kairi, Skylar, dan SANZ disebut menonjol saat ONIC mulai merapikan teamfight dan mengubah duel yang tadinya liar menjadi lebih terstruktur.
Akhir game: tipis, panas, dan ONIC menutup dengan comeback
Kemenangan ONIC disebut sebagai epic comeback. Mereka menutup game dengan keunggulan kill yang tipis, 14-13, lalu mengamankan kemenangan 1-0 untuk masuk ke bracket high dengan rekor 1-0.
Kalau kamu melihat angka-angka ini, ada pesan yang tidak bisa ditutupi: ONIC menang, tetapi lawannya benar-benar memaksa ONIC mengeluarkan energi sejak ronde pertama.
Statistik yang bikin paham kenapa ini disebut “menang sengit”
Ada dua cara membaca laga seperti ini. Cara pertama, melihat skor akhir 1-0 dan bilang “ONIC aman”. Cara kedua, melihat detail dan sadar bahwa ONIC baru saja lolos dari lubang yang dalam.
Dalam laporan pertandingan, Kiboy menjadi MVP. Dari sisi KDA, SANZ mencatat 7/2/8, Kairi membukukan 5 kill dan 10 assist dengan 1 death, sementara Kiboy mengoleksi assist terbanyak 12.
Pada sisi lawan, Kazue menjadi figur yang paling mengancam dengan 7 kill dan 5 assist, meski tetap tidak cukup untuk mengunci kemenangan BGT.

Gold dan kill bukan sekadar angka, tapi peta emosi pertandingan
Angka total juga memperlihatkan betapa intensnya game. Dalam satu catatan pertandingan, ONIC disebut mencatat 18 kill berbanding 15 milik BGT, lalu unggul gold 94,2k dibanding 82,1k.
Namun yang paling “ngena” adalah perjalanan dari defisit 6k gold menjadi situasi berbalik unggul. Itu berarti ONIC bukan menang karena lawan menyerah, tapi menang karena berhasil merampas momentum dengan paksa.
Kiboy MVP, tapi kemenangan ini kerja bareng satu skuad
Kalau kamu cuma lihat status MVP, kamu bisa saja menyimpulkan game ini “dibawa” satu orang. Tapi di match seperti ini, MVP lebih tepat dibaca sebagai pemain yang paling sering muncul di momen penting.
Kiboy dinobatkan MVP, dan itu sejalan dengan perannya yang krusial dalam menstabilkan fight, mengatur ruang, serta menutup celah saat ONIC sempat goyah.
Di sisi lain, SANZ dan Kairi tampil sebagai tulang punggung damage dan eksekusi. SANZ dengan 7 kill, lalu Kairi dengan 10 assist, menunjukkan bahwa ketika ONIC mulai rapi, mereka bisa mengalirkan kontribusi dari berbagai arah, tidak bergantung pada satu jalur saja.

“Game pertama itu bukan soal gaya, tapi soal selamat dulu. Menang tipis tetap menang, apalagi di Bo1 yang bisa mematahkan ritme sejak awal.”
BGT tidak kalah kualitas, mereka kalah satu langkah di momen terakhir
Boostgate menunjukkan kenapa mereka bisa lolos dari Wild Card. Mereka berani menekan unggulan, berani ambil kontrol awal, dan sempat berada di posisi yang secara realistis bisa mengakhiri game lebih cepat.
Masalahnya, di panggung M7, satu eksekusi yang nanggung bisa menjadi boomerang. Ketika peluang meruntuhkan base tidak dimaksimalkan, ONIC mendapatkan waktu yang mereka butuhkan untuk menemukan “titik tenang”.
Kalau BGT bisa membawa pelajaran dari laga ini, mereka masih punya kesempatan karena Swiss Stage tidak langsung mengeliminasi tim yang kalah di ronde pertama. Mereka turun ke bracket low dengan rekor 0-1, tetapi jalan mereka belum tertutup.
Arti kemenangan 1-0: ONIC masuk bracket high, tapi belum boleh merasa aman
Swiss Stage di M7 memakai sistem Swiss, di mana tim yang menang akan menghadapi tim lain yang juga menang, sementara tim yang kalah bertemu sesama tim yang kalah. Targetnya jelas: tim yang meraih tiga kemenangan akan melaju, dan tim yang menelan tiga kekalahan akan gugur.
Itulah sebabnya start 1-0 itu penting. ONIC langsung berada di jalur high, yang secara psikologis membuat mereka “lebih bernapas”. Tetapi ada konsekuensi: ronde berikutnya biasanya bertemu lawan yang juga sedang panas karena sama-sama menang.

Jadwal Swiss Stage dan ritme turnamen yang padat
Swiss Stage berlangsung 10 sampai 17 Januari 2026, kemudian berlanjut ke Knockout Stage.
MPL Indonesia juga menampilkan jadwal Day 1 dengan ONIC vs BGT sebagai match pukul 14.00, lalu rangkaian pertandingan lain berjalan sampai malam. Dari sisi penonton, ini maraton. Dari sisi pemain, ini ujian fokus karena kamu bukan cuma dituntut menang, tapi juga menjaga stamina dan adaptasi patch di hari-hari berikutnya.
XO Hall dan efek “main di kandang” yang tidak selalu nyaman
Bermain di Jakarta membawa energi luar biasa, tetapi juga membawa tekanan. Ketika kamu jadi tim tuan rumah, ekspektasi publik seringkali melompat lebih tinggi dibanding realita match.
Venue Swiss Stage dan Knockout Stage awal berlangsung di MPL Arena XO Hall. Setelah itu, fase lanjut Knockout dan Grand Final berpindah ke Tennis Indoor Senayan.
Di panggung seperti ini, game pertama selalu aneh. Kadang pemain butuh satu game untuk “menyetel” komunikasi, panggung, delay emosi, dan segala hal kecil yang tidak muncul saat scrim. Kemenangan ONIC yang harus diraih lewat comeback bisa dibaca sebagai tanda bahwa adaptasi panggung sudah terjadi, meski tidak dengan cara yang mulus.

PR kecil ONIC setelah menang: rapikan early game, jaga tempo objektif
Menang di ronde pertama itu bagus, tapi ONIC jelas melihat ada bagian yang perlu dibereskan. Dari laporan pertandingan, ONIC sempat terlihat terlalu buru-buru dan tertekan di awal.
Di Swiss Stage, hal seperti ini bisa jadi masalah berulang kalau tidak ditambal cepat. Karena begitu kamu masuk ronde-ronde yang mulai panjang, lawan tidak cuma kuat, tapi juga punya waktu lebih banyak untuk membaca pola kamu.
Kenapa kontrol emosi early game jadi kunci di Swiss Stage
BGT memberi contoh bagaimana tim non-favorit bisa memaksa unggulan masuk ke tempo yang salah. Kalau ONIC bisa menahan dorongan untuk “membalas cepat” dan lebih fokus ke objektif, mereka bisa menghindari skenario harus comeback seperti ini lagi.
Dan di turnamen yang padat, comeback memang heroik, tapi tidak selalu sehat. Kamu menguras fokus, membuka ruang misplay, dan memberi lawan kepercayaan diri bahwa ONIC bisa digoyang.
Setelah ini, ONIC akan bertemu sesama tim 1-0
Dengan kemenangan 1-0, ONIC masuk bracket high ronde berikutnya, sementara Boostgate turun ke bracket low.
Secara pola Swiss, ONIC kemungkinan besar akan dipasangkan melawan tim lain yang sama-sama 1-0. Artinya, intensitas tidak turun, malah naik. Di titik ini, ONIC tidak butuh kemenangan yang “cantik”, mereka butuh kemenangan yang rapi, karena di Swiss Stage yang penting adalah mengumpulkan tiga menang secepat mungkin sebelum skenario 2-2 memaksa kamu main hidup-mati di ronde terakhir.
Kalau game pertama saja sudah sedramatis ini, maka Swiss Stage M7 baru saja memberi sinyal paling jelas: di Jakarta, tidak ada laga pemanasan, bahkan untuk ONIC.

