RRQ Hoshi memasuki MPL ID Season 17 dengan beban nama besar yang tidak pernah kecil. Tim ini bukan sekadar peserta liga, melainkan wajah lama yang selama bertahun tahun lekat dengan reputasi kuat, fanbase besar, dan standar tinggi di panggung Mobile Legends Indonesia. Namun Season 17 berubah menjadi pukulan keras. Bukan hanya gagal bersaing di papan atas, RRQ Hoshi justru terdampar di peringkat 9 dengan catatan 1 menang dan 11 kalah, plus game W L 5 berbanding 22 menurut klasemen resmi MPL ID.
Musim yang Membuat Nama Besar RRQ Hoshi Terasa Berat
Kegagalan RRQ Hoshi di Season 17 terasa lebih menyakitkan karena datang setelah musim sebelumnya mereka juga gagal masuk playoff. Pada MPL ID Season 16, RRQ untuk pertama kalinya gagal lolos playoff sejak debut mereka di Season 1, sebuah catatan yang waktu itu sudah dianggap sebagai titik terendah tim berjuluk Raja dari Segala Raja.
Season 17 seharusnya menjadi panggung pembuktian. Roster baru, energi baru, dan harapan baru datang dari Kingdom yang ingin melihat RRQ kembali berdiri. Namun yang terjadi justru sebaliknya. RRQ bukan hanya gagal menembus zona playoff, tetapi menjadi tim yang terlalu cepat kehilangan napas dalam persaingan.
Hasil resmi pertandingan memperlihatkan laju yang sangat berat. RRQ kalah dari NAVI 0 berbanding 2 pada Week 1, lalu tumbang 0 berbanding 2 dari ONIC pada pekan yang sama. Setelah itu, mereka kembali kalah dari Team Liquid ID, Alter Ego, Geek Fam, EVOS, Bigetron, Dewa United, ONIC, EVOS, dan Geek Fam, sebelum menyisakan beberapa laga yang sudah tidak banyak mengubah rasa pahit musim ini. Satu satunya kemenangan RRQ datang ketika menaklukkan Bigetron 2 berbanding 0 pada Week 6.
Angka yang Tidak Bisa Dibantah
Melihat RRQ Hoshi di posisi 9 jelas bukan pemandangan biasa. Dalam klasemen resmi, RRQ hanya mengumpulkan 1 match point, rekor match 1 menang dan 11 kalah, net game win minus 17, serta game W L 5 berbanding 22. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran betapa sulitnya RRQ menjaga level permainan sepanjang reguler season.

Statistik tim juga memperlihatkan masalah yang tidak kecil. RRQ mencatat 274 kill, 401 death, 708 assist, 19 Lord, 41 Turtle, dan 106 turret. Jumlah death yang jauh lebih tinggi dari kill menjadi sinyal bahwa RRQ terlalu sering kalah dalam adu mekanik, salah posisi, atau gagal keluar dari tekanan lawan saat objektif besar mulai diperebutkan.
Dalam game modern Mobile Legends, angka death tinggi biasanya tidak berdiri sendiri. Ada masalah rotasi, call objektif, disiplin posisi, dan cara tim mengatur tempo. RRQ musim ini tampak sering berada satu langkah di belakang lawan, terutama saat masuk fase mid game menuju perebutan Lord pertama.
Roster Season 17 yang Gagal Menjawab Ekspektasi
RRQ Hoshi Season 17 datang dengan Khezcute sebagai coach, NMM sebagai asisten coach, Pauuu sebagai analyst, serta deretan pemain seperti SuperToyy di goldlane, Idok sebagai roamer, SuperKenn sebagai jungler, Rinz sebagai midlaner, Kuroky sebagai goldlane, SuperDann sebagai explaner, dan Yehezkiel sebagai midlaner.
Di atas kertas, komposisi ini masih punya bahan bagus. Ada nama muda, ada pemain yang pernah mendapat panggung besar, dan ada staf yang seharusnya mampu meracik ulang gaya main. Masalahnya, Mobile Legends tidak dimenangkan hanya dengan nama. Tim harus punya alur main yang jelas, eksekusi rapi, dan mental yang kuat saat tertinggal.
RRQ Season 17 seperti tim yang belum selesai dibentuk, tetapi sudah dipaksa masuk ke pertandingan besar tiap pekan. Lane kadang tidak cukup stabil, jungler sering kesulitan mendapat ruang, midlane belum selalu menjadi pusat kontrol, dan roamer tampak terlalu sering harus mengambil keputusan sulit dalam posisi map yang tidak enak.
Daftar Keblunderan Pemain Selama Season Ini
Bagian ini bukan untuk menjatuhkan satu nama, tetapi untuk melihat titik salah yang berulang dari cara RRQ bermain. Dalam satu musim seburuk ini, kesalahan tentu bukan milik satu pemain saja. Semua role punya bagian masing masing.
SuperKenn dan Masalah Ruang Farming
SuperKenn berada di posisi yang sangat berat sebagai jungler. Ia harus menjadi pusat tempo, mengamankan Turtle, menjaga retri fight, membuka peluang pick off, sekaligus memastikan core item tetap jadi tepat waktu. Sayangnya, RRQ sering terlihat gagal memberi ruang aman untuk jungler mereka.
Keblunderan yang paling terasa adalah ketika SuperKenn tampak dipaksa masuk ke objektif tanpa setup lane yang cukup. Saat mid dan side lane tidak menang tekanan, jungler akan mudah dibaca. Lawan tinggal menunggu di area river, mengunci vision, lalu memaksa RRQ masuk ke perang yang tidak ideal.
SuperKenn juga beberapa kali terlihat terlalu cepat ikut war saat posisi belum siap. Hal seperti ini membuat RRQ kehilangan damage utama atau eksekutor objektif terlalu dini. Ketika jungler tumbang sebelum Lord atau Turtle selesai, tim langsung kehilangan daya tawar.
Idok dan Call Roaming yang Sering Terlihat Terlambat
Sebagai roamer, Idok membawa tugas yang tidak ringan. Ia harus membaca map, mengatur vision, membuka war, dan menjaga core dari ancaman pick off. Namun sepanjang musim, RRQ sering terlihat kalah informasi. Banyak momen ketika lawan sudah lebih dulu menutup area objektif, sementara RRQ baru datang saat posisi sudah sempit.
Keblunderan Idok bukan selalu soal mekanik. Masalah terbesarnya ada pada timing. Beberapa engage terasa datang terlalu terlambat, sementara beberapa inisiasi terlihat terlalu cepat tanpa backup damage yang siap. Akibatnya, RRQ seperti tim yang maju setengah hati, mundur juga terlambat.
Roamer dalam tim yang sedang kalah memang mudah tampak buruk. Namun di level MPL, keputusan kecil bisa mengubah satu game. Saat roamer salah buka map, satu lane bisa runtuh. Saat salah buka war, Lord bisa lepas.

Rinz dan Kontrol Mid yang Belum Konsisten
Midlaner adalah mesin rotasi. Jika mid kalah gerak, side lane ikut kesulitan. Rinz punya potensi, tetapi Season 17 memperlihatkan bahwa kontrol mid RRQ belum cukup kuat untuk menahan tekanan tim papan atas.
Keblunderan Rinz terlihat dari beberapa momen ketika RRQ tidak mampu mengamankan area river lebih dulu. Midlane yang seharusnya menjadi pintu rotasi justru sering membuat RRQ terlambat membantu side lane. Ketika wave clear tidak diikuti gerak cepat ke objektif, lawan mendapat ruang lebih bebas.
Selain itu, pool hero dan cara RRQ memanfaatkan midlaner juga patut disorot. Rinz tidak selalu mendapat posisi nyaman untuk menjadi pengatur tempo. Kadang ia seperti hanya dipakai untuk mengisi damage, bukan menjadi poros strategi.
SuperToyy dan Kuroky di Goldlane yang Belum Memberi Rasa Aman
Goldlane RRQ musim ini belum menjadi titik aman. SuperToyy dan Kuroky punya kemampuan, tetapi pergantian atau pembagian peran di area goldlane belum memberi kestabilan yang benar benar kuat.
Keblunderan terbesar dari sisi goldlane adalah kurangnya tekanan saat fase lane dan beberapa positioning yang membuat damage dealer sulit memberi output maksimal dalam war. Ketika goldlaner telat item atau terlalu sering terancam, RRQ kehilangan sumber damage utama di late game.
Dalam banyak game, RRQ membutuhkan goldlaner yang bisa menjadi jangkar saat tim tertinggal. Namun yang terlihat, goldlane belum cukup sering menjadi penyelamat. Bukan berarti pemainnya tidak layak, tetapi cara tim menyiapkan ruang untuk goldlaner juga belum rapi.
SuperDann dan Side Lane yang Kerap Kehilangan Kendali
Explaner punya peran penting dalam membuka map, menahan pressure, dan mengganggu backline lawan. SuperDann beberapa kali terlihat berani, tetapi keberanian itu belum selalu dibarengi timing yang presisi.
Keblunderan di sisi explaner terlihat ketika RRQ kehilangan kontrol side lane pada momen krusial. Jika explaner kalah wave atau terlambat masuk war, tim akan kehilangan badan depan. Akibatnya, roamer dan jungler harus mengambil risiko lebih besar.
SuperDann butuh sistem yang jelas. Ia bisa lebih berguna jika arah permainan tim sudah pasti. Namun saat RRQ sendiri belum punya pola kuat, explaner menjadi salah satu role yang paling sulit bersinar.
Keblunderan Coach dan Staf Strategi
Khezcute, NMM, dan Pauuu harus ikut masuk dalam sorotan. Roster boleh berganti, pemain boleh belajar, tetapi pola kalah berulang biasanya mengarah pada dapur strategi. RRQ Season 17 terlihat belum punya identitas permainan yang stabil.
Keblunderan pertama adalah draft yang sering terasa tidak memberi jawaban jelas atas gaya lawan. Ada game ketika RRQ seperti ingin main scaling, tetapi objektif awal terlalu mudah lepas. Ada juga game ketika komposisi terlihat bisa agresif, tetapi eksekusi di map justru pasif.
Keblunderan kedua adalah adaptasi antar pekan yang tidak cukup terasa. Ketika tim kalah berkali kali dengan pola serupa, penonton tentu menunggu perubahan besar. Namun RRQ seperti terlalu lama mencari formula. Kemenangan atas Bigetron di Week 6 sempat memberi harapan, tetapi langsung runtuh lagi setelah kalah dari ONIC, EVOS, dan Geek Fam.
Keblunderan ketiga adalah manajemen mental. RRQ membawa fanbase besar, sorotan besar, dan tekanan besar. Coach bukan hanya mengatur draft, tetapi juga menjaga pemain tetap berani mengambil keputusan. Musim ini, RRQ sering terlihat ragu. Dalam Mobile Legends, ragu setengah detik saja bisa membuat war hancur.
Apakah Roster Ini Patut Dipertahankan
Menurut saya, roster ini tidak layak dipertahankan secara utuh. Namun rombak total juga bukan jawaban paling sehat jika dilakukan hanya karena panik. RRQ perlu membedakan pemain yang gagal karena sistem dan pemain yang memang belum siap mengangkat standar tim sebesar RRQ.
SuperKenn masih bisa dipertahankan jika RRQ membangun struktur yang lebih jelas untuk jungler. Ia butuh roamer dan midlaner yang bisa memberi jalan, bukan sekadar menunggu ia menciptakan momen sendiri. Rinz juga masih bisa diberi kesempatan bila RRQ punya draft yang benar benar memaksimalkan kontrol mid.
Idok perlu dievaluasi lebih keras karena roamer adalah pusat keputusan. Jika RRQ ingin kembali menjadi tim yang disegani, mereka butuh roamer dengan call tegas, map awareness tajam, dan keberanian mengatur tempo sejak menit awal. Untuk goldlane, RRQ harus memilih satu nama utama yang benar benar dijadikan pilar, bukan terus mencari rasa nyaman di tengah musim.
SuperDann bisa bertahan sebagai bagian proyek, tetapi RRQ tetap butuh explaner dengan leadership kuat di dalam game. Explaner modern bukan hanya tahan lane, tetapi juga memberi arah kapan tim harus tabrak dan kapan harus tarik badan.

Rombak Total atau Bongkar Terukur
Pilihan paling masuk akal adalah bongkar terukur. RRQ perlu mengganti bagian yang berkaitan langsung dengan shotcall, identitas draft, dan kestabilan lane. Artinya, perubahan tidak cukup hanya satu pemain. Minimal harus ada evaluasi besar pada roamer, struktur coaching, dan satu role carry utama.
Coach juga tidak bisa lepas dari evaluasi. Jika Khezcute tetap dipertahankan, RRQ wajib memberi perubahan di staf pendukung, terutama pada analyst dan pendekatan draft. Namun jika manajemen merasa pola kalah ini sudah terlalu dalam, pergantian head coach bisa menjadi langkah yang masuk akal.
RRQ bukan tim kecil yang bisa puas dengan alasan adaptasi. Standar mereka adalah playoff, final, dan gelar. Ketika finis di peringkat 9 dengan 1 kemenangan dari 12 laga, evaluasi biasa tidak cukup. Harus ada keputusan berani, tetapi tetap memakai kepala dingin.
Luka Besar untuk Kingdom
Bagi Kingdom, Season 17 bukan cuma soal kalah. Ini soal melihat tim kebanggaan kehilangan aura di panggung yang dulu sering mereka kuasai. Kekalahan 0 berbanding 2 dari Geek Fam pada 10 Mei 2026 membuat RRQ dipastikan gagal ke playoff dan menjadi tim pertama yang tersingkir dari persaingan playoff musim ini menurut laporan pertandingan Week 7 Day 3.
Yang membuat luka terasa lebih dalam adalah cara RRQ kalah. Mereka tidak sekadar kalah tipis karena satu momen. Mereka kalah berulang, dengan masalah yang terlihat mirip dari pekan ke pekan. Map sering kalah, objektif sering lepas, war sering terlambat, dan draft tidak selalu membantu pemain keluar dari tekanan.
RRQ Hoshi masih punya nama besar, tetapi Season 17 memberi pelajaran keras bahwa nama besar tidak otomatis memenangkan pertandingan. Pemain harus membuktikan diri lagi. Coach harus berani mengganti cara kerja. Manajemen harus memilih antara mempertahankan wajah lama yang belum berhasil atau membuka pintu bagi susunan baru yang lebih lapar, lebih tegas, dan lebih siap menanggung beban jersey RRQ.

