Ada tipe pemain yang kariernya seperti garis lurus, naik perlahan lalu stabil. Ada juga yang jalurnya berliku, sempat jatuh, sempat jadi bahan omongan, lalu balik lagi dengan versi yang jauh lebih matang. Di scene MLBB Indonesia, perjalanan ALekk adalah salah satu yang paling gampang memancing diskusi seperti itu.
Bukan karena ia selalu tampil mulus, tapi karena setiap fase kariernya terasa punya cerita sendiri. Dari akademi ONIC lewat panggung MDL, naik ke MPL bersama Alter Ego, sempat turun lagi ke tim MDL, lalu kembali membuktikan dirinya di level tertinggi. Namanya juga sering terseret label netizen yang pedas, mulai dari roamer beban sampai tudingan gelap soal sistem rotasi. Yang menarik, ALekk tidak memilih jalan aman dengan menghilang. Ia justru balik ke server panggung, bawa PR, bawa luka, dan pelan pelan mengubah cara orang menilai dia.
Kenalan Dulu: Siapa Sebenarnya ALekk
ALekk punya nama lengkap Alexander Owen, lahir 20 September 2004, dan dikenal sebagai roamer yang kini memperkuat Alter Ego.
Hal yang membuatnya cepat dikenali adalah gaya main yang cenderung berani mengambil keputusan dan tidak ragu membuka map untuk tim. Dalam catatan profil, ia juga kerap dikaitkan dengan hero roamer tebal seperti Gatotkaca dan Grock.
Awal Cerita: Dari ONIC Prodigy dan Nama Owennn
Sebelum orang mengenalnya sebagai ALekk, ia sempat memakai panggilan Owennn ketika membela ONIC Prodigy.
Fase ini penting karena ONIC Prodigy adalah jalur akademi yang keras. Pemain muda digembleng dengan tempo latihan tinggi, dituntut paham fundamental, dan harus siap hidup di bawah sorotan karena label ONIC itu berat. ONIC sendiri dikenal punya tim akademi yang bermain di MDL, sehingga banyak talenta muda ditempa lewat liga pengembangan sebelum diberi kesempatan di panggung lebih besar.
ALekk bermain bersama ONIC Prodigy pada rentang 2023 sampai 2024, dan salah satu panggung awalnya adalah MDL Indonesia Season 7 pada 2023.
MDL sebagai Sekolah Tahan Banting
MDL bukan sekadar liga cadangan. Banyak pemain justru membangun identitas di sana, karena pertandingan rapat, meta cepat berubah, dan tekanan pembuktian terasa tiap pekan. Di fase debutnya, ONIC Prodigy disebut mampu finis peringkat 4 pada MDL Indonesia Season 7.
Di titik ini, ALekk mulai dapat cap sebagai roamer yang mau kerja kotor. Roamer muda biasanya diuji di dua hal: disiplin rotasi dan ketahanan mental saat blunder. Karena roamer itu posisi yang paling gampang disalahkan. Sekali salah buka map atau telat cover, efeknya langsung terlihat, dan komentar publik biasanya lebih cepat daripada replay.
Naik ke MPL Alter Ego: Loncat Level yang Tidak Ramah Pemula
Setelah periode di ONIC Prodigy, ALekk kemudian pindah ke Alter Ego pada pertengahan 2024 dan debut di MPL Indonesia Season 14.
MPL itu liga yang ritmenya beda. Kesalahan kecil dihukum dengan objektif, snowball, dan draft yang lebih matang. Dalam catatan yang sama, Alter Ego disebut mampu mencapai Top 5 pada MPL Indonesia Season 14.

Kenapa Roamer Paling Cepat Kena Label
Ada alasan kenapa istilah roamer beban gampang sekali melekat. Roamer terlihat di semua layar. Dia yang pasang vision, dia yang buka war, dia yang harus jadi tameng saat teman mau farming. Ketika menang, pujian sering jatuh ke core. Ketika kalah, roamer yang paling sering jadi sasaran.
Di fase awal MPL, ALekk sempat jadi pemain yang diperdebatkan. Ada momen ia terlihat terlalu agresif, ada juga momen ia terlihat terlalu ragu. Netizen lalu membangun narasi populer berupa dark system, istilah yang biasa dipakai untuk menyindir sistem tim yang dianggap tidak adil dalam rotasi pemain. Di titik seperti ini, pemain muda biasanya punya dua pilihan: tenggelam, atau mengubah rasa sakit itu jadi bahan bakar.
“Yang bikin panas bukan kata kata orang, tapi momen ketika kamu tahu kamu bisa lebih baik, tapi belum bisa nunjukin sekarang.”
Turun Lagi ke MDL: Reset yang Tidak Semua Orang Berani Jalani
Bagian paling menarik dari perjalanan ALekk adalah fase turun lagi. Secara karier, turun ke MDL setelah mencicipi MPL sering dianggap mundur. Tapi bagi sebagian pemain, ini justru ruang untuk memperbaiki detail tanpa dihajar ekspektasi panggung utama setiap pekan.
Di jejak perpindahan pemain, ALekk tercatat pernah bergabung dengan Alter Ego X, tim MDL di bawah organisasi Alter Ego, dengan periode bergabung sekitar pertengahan Februari 2025 sampai awal Agustus 2025.
Di periode yang sama, ada roster resmi Alter Ego X untuk MDL Indonesia Season 11 yang mencantumkan nama Owen sebagai salah satu pemain, menguatkan bahwa ia memang masuk struktur tim MDL tersebut.
MDL Season 11 dan Momen Pulang Bawa Bukti
Alter Ego X tercatat menjadi juara MDL Indonesia Season 11, dengan hasil turnamen yang menempatkan Alter Ego X di posisi 1.
Poin ini penting untuk ALekk, karena kembali ke MDL bukan sekadar parkir. Kalau kamu turun dan tidak membawa hasil, cap negatif makin tebal. Tapi jika kamu turun dan mengangkat piala, cerita berubah: kamu bukan dibuang, kamu sedang membangun ulang.
Di MDL, roamer bisa lebih leluasa memoles dua hal: timing dan komunikasi. Dua hal ini terdengar klise, tapi faktanya, roamer yang bagus bukan yang paling banyak inisiasi, melainkan yang paling tepat memilih kapan harus maju dan kapan harus mengorbankan diri.
Balik ke Alter Ego di MPL: Saat Pembuktian Tidak Bisa Ditawar
Setelah periode di Alter Ego X, ALekk kembali masuk Alter Ego di level MPL. Di roster MPL, ia tercantum sebagai roamer Alter Ego untuk Season 16.
MPL Indonesia Season 16 menjadi musim yang mengubah cara banyak orang memandang Alter Ego. Berdasarkan data hasil turnamen, ONIC menjadi juara dan Alter Ego finis di peringkat 2.
Moonton juga menyorot bahwa Alter Ego tampil menonjol dengan mencapai Grand Final dan mengamankan tiket ke M7.
Runner Up MPL Season 16: Bukan Sekadar Angka
Runner up itu sering dianggap hampir. Tapi di MPL, runner up bisa berarti kamu berhasil melewati rute playoff yang brutal, mematahkan beberapa match point, dan menang perang mental di seri panjang. Apalagi ketika tim datang dari musim sebelumnya yang tidak stabil, posisi dua besar terasa seperti cap bahwa tim ini hidup lagi.
ALekk juga disebut terpilih sebagai bagian dari Second Team MPL Indonesia Season 16, semacam pengakuan performa individu di musim tersebut.
Kalau kamu mau membaca perubahan ALekk, lihat cara ia memimpin tempo map. Roamer yang matang biasanya tidak terlihat heboh, tapi timnya terasa selalu punya ruang. Ada cover saat jungle invade, ada peel saat gold laner dikejar, ada keputusan cepat saat harus trade objektif.
Panggung Dunia: M7 dan Malam yang Tetap Menyisakan Luka
M7 World Championship 2026 berlangsung di Jakarta pada Januari 2026. Alter Ego menjalani perjalanan kuat sampai babak akhir. Mereka bahkan menyingkirkan Team Liquid PH sebelum final. Namun di Grand Finals, Alter Ego kalah dari Aurora Gaming PH dengan skor 4 lawan 0.
Kenapa Runner Up M7 Tetap Jadi Poin Besar
Kalah telak di final memang sakit, apalagi di kandang sendiri. Tapi status runner up dunia itu tetap menempatkan Alter Ego di peta tertinggi. Buat pemain seperti ALekk, ini juga menutup lingkar cerita: dari label roamer yang diragukan, sampai berdiri di final panggung dunia bersama timnya.
Ada juga sisi lain yang jarang dibahas: roamer di turnamen dunia menghadapi gaya main lintas region. Cara tim Filipina membuka map, cara tim Turki memaksa war, cara tim Malaysia mengatur tempo objektif. Roamer yang bertahan sampai final berarti bukan cuma kuat mekanik, tapi juga cepat belajar.
“Kalau kamu pernah jatuh di liga sendiri, lalu bisa berdiri di final dunia, berarti kamu sudah melewati level paling sulit: mengalahkan dirimu yang dulu.”

Gaya Main ALekk: Roamer yang Hidup dari Keputusan
ALekk sering diasosiasikan dengan hero roamer bertipe badan tebal seperti Gatotkaca dan Grock.
Ini memberi petunjuk gaya mainnya: ia cenderung jadi tameng yang membuka ruang. Tapi roamer modern tidak cukup hanya tebal. Ia harus bisa
- Baca arah rotasi lawan lebih cepat
- Menentukan apakah tim harus bertarung atau cukup ambil info
- Mengatur siapa yang jadi korban saat situasi buruk, dan siapa yang harus selamat untuk wave berikutnya
Di MPL, roamer sering terlihat seperti pemain yang tidak punya statistik. Tapi justru roamer yang matang itu mengontrol statistik tim tanpa terlihat mencolok.
Tabel Pencapaian dan Prestasi yang Menempel pada Perjalanan
Berikut rangkuman pencapaian yang relevan dengan fase karier ALekk, berdasarkan catatan turnamen dan profil yang tersedia.
| Periode | Kompetisi | Tim | Hasil |
|---|---|---|---|
| 2023 | MDL Indonesia Season 7 | ONIC Prodigy | Peringkat 4 |
| 2024 | MPL Indonesia Season 14 | Alter Ego | Top 5 |
| 2025 | MDL Indonesia Season 11 | Alter Ego X | Juara |
| 2025 | MPL Indonesia Season 16 | Alter Ego | Runner up |
| 2025 | Penghargaan Musim MPL Season 16 | Alter Ego | Second Team |
| Januari 2026 | M7 World Championship | Alter Ego | Runner up |
Kenapa Cerita ALekk Selalu Mengundang Perdebatan
Ada faktor yang membuat perjalanan ALekk terasa ramai dibanding banyak pemain lain.
Pertama, posisi roamer memang panggung yang paling kejam untuk pemain muda. Kamu tidak punya waktu untuk terlihat belajar. Orang ingin kamu langsung rapi, langsung paham tempo, langsung jadi otak war.
Kedua, ia mengalami fase naik turun yang jelas terlihat publik. Naik dari MDL ke MPL, lalu balik lagi ke MDL, lalu kembali ke MPL dengan hasil yang lebih kuat. Pola seperti ini otomatis memancing opini liar, terutama dari penonton yang melihat roster hanya dari permukaan.
Ketiga, hasil besar di MPL Season 16 dan M7 membuat semua label lama terasa diuji ulang. Kalau dulu orang menyebutnya beban, sekarang orang harus berhadapan dengan fakta bahwa timnya bisa sampai final MPL dan final dunia di era yang kompetisinya makin ketat.
ALekk di Alter Ego: Bukan Sekadar Nama di Roster
Di roster Season 16, Alter Ego menempatkan dua nama di posisi roam, alekk dan Ivann.
Situasi seperti ini sering berarti kompetisi internal yang sehat, juga ruang strategi yang fleksibel untuk coaching staff. Tapi untuk ALekk, ini juga menandakan satu hal: ia tidak lagi sekadar proyek. Ia sudah menjadi bagian dari rencana tim, karena tim berani menaruhnya di panggung besar yang dilihat jutaan orang.
Pada titik ini, cerita ALekk terasa seperti catatan tentang satu hal yang sering dilupakan penonton: pro player itu tumbuh, tapi tumbuhnya tidak selalu enak ditonton. Kadang harus lewat fase dibicarakan, harus lewat fase turun level, harus lewat fase memenangi ulang kepercayaan tim, baru akhirnya publik melihat versi terbaiknya.

