Kontroversi besar bermula pada pertandingan Arena of Valor (AoV) wanita di SEA Games ke-33 yang digelar di Thailand pada bulan Desember 2025. Salah satu pemain kunci dari tim nasional Thailand, posting dengan nama panggilan Tokyogurl yang memiliki nama asli Warasin Naphat, tiba-tiba menjadi sorotan publik setelah terjadi dugaan pelanggaran serius terhadap aturan kompetisi esports resmi. Saat pertandingan Winner Bracket Final melawan Vietnam, performa dan perilaku Tokyogurl disebut-sebut tak biasa, yang kemudian menyulut investigasi wasit.
Wasit mencatat bahwa gerakan jari Tokyogurl di perangkat kompetisi tidak sejalan dengan aksi karakter di layar pertandingan, sebuah sinyal anomali yang memicu pemeriksaan lebih lanjut terhadap perangkat yang digunakannya. Dugaan kecurangan ini kemudian diverifikasi oleh tim teknis acara.
Dugaan Penggunaan Software Pihak Ketiga
Poin utama tuduhan terhadap Tokyogurl adalah penggunaan software pihak ketiga yang tidak diizinkan dalam kompetisi resmi. Dalam regulasi esports SEA Games, penggunaan software eksternal apapun yang bisa memberikan keuntungan strategis atau membuka kemungkinan kontrol pihak luar terhadap perangkat peserta adalah pelanggaran berat.
Menurut laporan investigasi, Tokyogurl diduga memasang software seperti aplikasi remote access pada perangkat pertandingan, yang memungkinkan seseorang di luar arena untuk melihat atau bahkan mengontrol permainan secara real-time. Dalam beberapa spekulasi komunitas, aplikasi seperti TeamViewer disebut sebagai salah satu metode yang mungkin digunakan dalam kasus ini, meskipun tidak secara resmi dikonfirmasi oleh pihak penyelenggara.
Software semacam ini pada dasarnya menghubungkan perangkat yang sedang digunakan di turnamen dengan perangkat lain yang berada di luar area kompetisi, yang membuka peluang bagi joki atau ahli strategi untuk memberikan arahan bahkan bermain langsung melalui koneksi jarak jauh. Metode ini dalam komunitas disebut sebagai ghost coaching dengan remote control, yang jelas dilarang dalam semua kompetisi esport skala internasional.
Mekanisme Curang: Remote Assistance dan Ghost Coaching
Remote Assistance adalah teknik di mana perangkat kompetisi dihubungkan secara tidak sah dengan perangkat lain melalui jaringan internet menggunakan software khusus. Cara ini memungkinkan pengguna lain di luar arena turut “melihat” atau bahkan mengendalikan permainan secara tidak langsung. Dalam turnamen profesional, segala bentuk koneksi pihak ketiga yang dapat memengaruhi jalannya pertandingan dilarang keras.
Jika memang terjadi remote control seperti tuduhan, ini berarti:
- Pemain bukanlah satu-satunya yang bermain di perangkatnya.
- Pihak lain bisa mengakses real-time informasi pertandingan (cooldown lawan, strategi tim lain, penempatan objektif).
- Arahan taktis bisa disampaikan secara langsung melalui kontrol avatar di dalam permainan.
Semua poin di atas secara teknis memberikan keuntungan kompetitif yang tidak adil dan jelas melanggar regulasi SEA Games serta aturan federasi esports internasional.
Bukti Teknis yang Menyebabkan Diskualifikasi
Wasit dan tim teknis kompetisi menemukan bukti anomali ketika gerakan jari dan perintah dalam permainan tidak sinkron. Hal ini biasanya menjadi indikator bahwa sesuatu sedang memanipulasi input yang seharusnya berasal dari pemain langsung. Tim teknis kemudian melakukan pemeriksaan terhadap perangkat, yang mengarah pada temuan adanya software ilegal atau modifikasi yang tidak sesuai aturan.
Rekaman dan Verifikasi Tim Teknis
Seluruh perangkat pertandingan pada turnamen esports seperti SEA Games selalu berada di bawah pengawasan teknis dan direkam untuk bukti audit. Dalam kasus ini, rekaman log login, aplikasi yang berjalan, hingga login history perangkat diminta untuk diaudit oleh federasi. Temuan awal menunjukkan bahwa ada aktivitas perangkat yang mencurigakan sebelum dan selama pertandingan dimulai.
Verifikasi itulah yang kemudian menjadi dasar bagi panitia untuk menerapkan sanksi diskualifikasi kepada pemain tersebut karena dianggap sudah melanggar artikel 9.4.3 dari Esports Technical Handbook SEA Games.
Isi Artikel 9.4.3 Esport Technical Handbook Sea Games
Berdasarkan laporan resmi panitia SEA Games 2025 dan keterangan federasi terkait, artikel 9.4.3 dari Esports Technical Handbook SEA Games adalah bagian dari aturan teknis resmi kompetisi esports yang mengatur tentang pelanggaran terhadap penggunaan perangkat lunak atau perangkat keras yang tidak diizinkan selama pertandingan, termasuk segala bentuk software pihak ketiga atau modifikasi hardware yang dapat memberikan keuntungan tidak adil kepada peserta. Aturan tersebut dipakai sebagai dasar sanksi terhadap Tokyogurl karena penggunaan “unauthorised third-party software or hardware modification” pada perangkat kompetisinya.
Secara spesifik, berikut poin utama yang diungkap media terkait artikel 9.4.3 Esports Technical Handbook SEA Games 2025:
Definisi Pelanggaran 9.4.3
• Peserta dilarang menggunakan perangkat lunak pihak ketiga atau modifikasi hardware yang tidak diizinkan pada perangkat yang digunakan selama pertandingan resmi esports SEA Games.
• Ini mencakup segala aplikasi atau alat yang dapat mengakses, memodifikasi, atau memanfaatkan fungsi di luar perangkat lunak dan hardware standar yang disiapkan panitia, termasuk hal yang memungkinkan pihak lain untuk melihat atau mengontrol permainan secara jarak jauh.
Sikap Resmi Federasi dan Organisasi Terkait
Setelah pemeriksaan dilakukan, Federasi Esports Thailand (TESF) mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Tokyogurl terbukti melakukan pelanggaran teknis yang serius terhadap aturan kompetisi. Seluruh bukti teknis dianggap cukup kuat untuk mengambil keputusan tegas.
Tak hanya federasi nasional, penerbit game Arena of Valor untuk wilayah SEA, yakni Garena, juga memberikan sanksi terberat, yaitu larangan bermain seumur hidup di semua kompetisi AoV resmi. Kontrak profesional Tokyogurl dengan organisasi Talon Esports juga langsung dibatalkan sebagai konsekuensi dari pelanggaran tersebut.
Keputusan diskualifikasi ini kemudian membuat seluruh tim wanita Thailand memutuskan untuk mundur dari ajang SEA Games 2025 demi menjaga integritas tim dan nama negara.
Reaksi Tokyogurl dan Klarifikasi Pribadi
Tokyogurl sendiri sempat memberikan klarifikasi melalui media sosial sebelum akhirnya menonaktifkan akun-akunnya. Ia menolak tuduhan kecurangan dan mengklaim bahwa semua yang terjadi adalah kesalahpahaman. Dalam pernyataannya, dia mengatakan bahwa jika memang ia curang, hasil pertandingan pasti akan berbalik kemenangan, namun faktanya timnya kalah 0-3 dari Vietnam.
Tokyogurl juga menjelaskan bahwa koneksi internet dan kabel yang ada di perangkatnya bukan untuk aktivitas mencurigakan atau screen sharing. Ia menyatakan bahwa perangkatnya tetap dimainkan oleh dirinya sendiri dan tidak ada pihak lain yang ikut serta dalam pertandingan.
Selain itu, gestur kontroversialnya saat tertangkap kamera yang menunjukkan jari tengah bukan ditujukan pada lawan ataupun publik, melainkan kepada rekan setim sebagai ekspresi frustrasi atas tekanan pertandingan.
Dampak Bagi Dunia Esports dan Ajang SEA Games
Insiden Tokyogurl ini langsung menimbulkan polemik besar di komunitas esports regional hingga internasional. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana teknologi dan pengawasan dalam kompetisi esports bisa lebih ketat lagi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Selain itu, reputasi Thailand sebagai tuan rumah SEA Games juga mendapat sorotan karena insiden tersebut terjadi dalam ajang bergengsi. Federasi dan penyelenggara kini dituntut untuk meningkatkan standar audit dan pengawasan peralatan serta mekanisme kompetisi untuk memastikan keadilan bagi semua peserta.
Kejadian ini juga membawa dampak psikologis bagi pemain lain di tim nasionalnya. Beberapa rekan tim mengaku merasa hancur dan kecewa, karena kerja keras mereka selama persiapan kompetisi menjadi ternodai dan berakhir dengan penarikan tim secara keseluruhan.

