fbpx
GameFever ID
Review

[Review] Catherine: Full Body – Mimpi Buruk Cinta Segi Empat

Perubahan itu berat. Itulah yang dirasakan oleh Vincent Brooks. Saat pacarnya Katherine ingin segera dinikahkan, dia lebih berharap semuanya tetap pada tempatnya. Tanpa ada perubahan. Kesulitannya untuk membuat keputusan akhirnya berakhir dengan mimpi buruk yang kian menghantuinya tiap malam.

Salam pembuka di Catherine: Full Body.

Pada saat berita mulai bermunculan mengenai pria-pria muda yang meninggal dalam tidur. Vincent mulai berpikir apakah ini berhubungan dengan keadaaan mentalnya? Game ini mengangkat tema cinta, perubahan, seksualitas, perselingkuhan dan juga mengemasnya dalam sebuah game puzzle seru yang sarat dengan cerita dan pesan moral. 

Gameplay

Catherine sebenarnya game yang sudah cukup ternama. Pertama kali dirilis pada tahun 2011 lalu, game ini mendapatkan respon positif dari para pemainnya yang memuji pendekatan cerita mereka yang dewasa, artwork yang bagus dan gameplay puzzle yang seru juga menantang. 

Gameplay dalam Catherine terbagi 2, sehari-hari atau siang (adventure) dan malam (Nightmare). Kedua aspek gameplay ini berperan penting dalam progress ceritanya. Saat siang, game ini bermain layaknya sebuah visual novel. Vincent berinteraksi dengan karakter lain, bertukar pesan singkat, atau mendengar musik. Di fase ini pilihan yang kita ambil dapat menentukan karakter Vincent sendiri dan jalan cerita yang akan terjadi. Hal ini jadi krusial karena dapat menentukan ending dari gamenya.

Selamat datang di mimpi buruk anda!

Walaupun sarat dengan cerita layaknya sebuah visual novel, inti dari Catherine adalah usaha Vincent untuk selamat dari mimpi buruk yang dialami tiap malam. Hal ini diterjemahkan oleh Atlus dalam bentuk game puzzle unik yang cukup simple dimana Vincent diharuskan untuk memanjat sejumlah blok untuk mencapai pintu keluar. 

Puzzle

Setiap malam Vincent diharuskan untuk memanjat dan menavigasi sejumlah blok untuk mencapai titik tertinggi di stage tersebut. Di sini Vincent diharuskan untuk memanjat, mendorong dan menarik blok-blok untuk membuka jalan dan disaat bersamaan menghindari perangkap dan musuh. Kesulitan tiap stage ditambah sejalan dengan cerita. Perangkap dan musuh yang tersedia juga jadi makin banyak dari variasi dan jumlah. 

Terus panjat!

Dalam Catherine: Full Body tersedia dua jenis mode yang bisa kalian pilih, Classic dan Remix. Dalam mode Classic, setiap blok akan terpisah. Ini adalah mode normal yang sama dengan game sebelumnya. Dalam mode Remix, beberapa blok dibuat menempel satu sama lain dan bentuknya dibuat beragam. Ini memberikan tantangan tersendiri, cocok untuk para pemain yang menginginkan puzzle yang lebih kompleks. 

Mekanisme

Mekanisme puzzle dalam game ini terbilang simple. Kalian hanya bisa memanjat, mendorong, dan menarik blok-blok yang membentuk tiap stage. Tantangan dalam game ini adalah cara kita membuat pijakan untuk memanjat. Tidak ada tombol “skill” dalam game ini, jadi semua solusi yang bisa kalian lakukan dilakukan dalam bentuk Technique. 

Technique adalah trik-trik yang bisa kalian pelajari dari “domba-domba” lain yang kalian temui di Landings. Landings adalah tempat para domba yang bernasib sama dengan Vincent berkumpul setiap mereka berhasil menyelesaikan sebuah stage. Di sini, mereka berbagi Technique yang bisa kalian gunakan untuk menavigasi blok-blok dalam satu stage. Variasinya lumayan banyak, dari membantu kalian membuat pijakan di tepian, membangun piramida, membuat jembatan atau bahkan mengalahkan musuh menggunakan blok-blok perangkap. Ini ditambah dengan sistem checkpoint dan undo akan membuat permainan kalian sedikit lebih manusiawi. 

Para domba di Landings.

Hal yang sedikit berbeda dari sistem undo di Catherine: Full Body yaitu jumlah undo yang tidak dibatasi selama kalian mampu membeli atau mengumpulkan Mystic Pillow di stage yang dijalankan. Kalian juga tetap bisa mengulang stage-nya saat kalian kehabisan undo. Atlus terasa sekali ingin membuat game ini lebih aksesibel untuk para gamer yang enggan menjalankan aspek puzzle dari game ini dan ingin sekedar menikmati artwork, musik dan ceritanya saja. 

Tentu saja, game ini tidak cukup menarik untuk mereka yang tidak gemar dengan puzzle. Untungnya, Atlus punya solusi untuk itu yang disalurkan dalam bentuk tingkat kesulitan Safety dana Easy. Dalam tingkat kesulitan ini pemain memiliki akses ke tombol autoplay dan skip. Autoplay akan membuat AI memainkan game-nya, sedangkan skip mengijinkan kita untuk melewati stage tersebut tanpa perlu memainkannya. 

Daytime

Saat tidak berusaha untuk bertahan hidup dari mimpi buruknya, kita akan menemukan Vincent duduk di Stray Sheep. Sebuah bar yang menjadi latar belakang  untuk bagian dari gameplay daytime. Di sini Vincent bisa bercengkrama dengan para NPC yang datang ke bar tersebut, membalas pesan dari karakter lain, memainkan Rapunzel Mini game.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan pada daytime.

Interaksi di sini biasanya mengharuskan kita untuk membuat pilihan tertentu, seperti jawaban pesan singkat dari karakter lain. Pilihan itu kemudian akan mempengaruhi karma meter. 

Karma Meter

Mengingat cerita jadi salah satu daya tarik game ini, moralitas jadi acuan saat gamenya dan menentukan ending game tersebut. Diberi nama Mysterious Meter, takaran ini dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang diambil oleh pemain saat menjawab pertanyaan atau membalas pesan di Stray Sheep. Di Landing, pemain juga nantinya harus melakukan confessional. Vincent akan diberikan satu pertanyaan yang tidak memiliki benar atau salah dan jawabannya akan mempengaruhi meter tersebut.

Karma Meter.

Dalam Catherine: Full Body, Hal ini akan mempengaruhi akses kita ke karakter baru yang diperkenalkan di sini, yaitu Rin. Pertanyaan yang ditawarkan tentu saja berkutat kepada hubungan, moral, seks dan hal-hal acak lain. Semua ini akan berujung pada ending di mana posisi Mysterius Meter kalian akan ikut menentukan ending yang didapatkan. 

Presentasi

Berbeda dengan sebelumnya, Catherine: Full Body menggunakan engine yang sama dengan Persona 5 dan bukan Gamebyro seperti di game pertamanya. Hal ini memberikan kesan yang lebih terang dan kontras yang lebih bagus dibandingkan game sebelumnya. Temanya yang dewasa masih jadi fokus utama dari segi artstyle. Walaupun sempat mendapatkan isu sensor, game ini tetap rilis penuh dengan semua karakternya tampak sesuai dengan artstyle yang dipakai. 

Tidak ada jawaban yang benar di dua pilihan.

Dari segi musik Shoji Meguro kembali jadi andalan Atlus. Komposer ternama itu kembali lagi menghadirkan alunan musik jazz yang familiar dari game pertamanya. Irama lagunya juga banyak dibuat gaya remix mengingat game ini merupakan versi remake dari game pertama. Troy Baker kembali lagi jadi pengisi suara utama untuk Vincent. Aktor pengisi suara kawakan itu sudah punya nama besar di industri video game dan jelas punya bayaran mahal. Tapi Atlus nampaknya berkomitmen untuk menghadirkan kualitas voice acting yang sama seperti game originalnya.

Kesimpulan

Untuk sebuah remake atau enhanced edition. Catherine: Full Body sudah sepantasnya dibeli. Untuk pemain lama, ada sekitar 500 stage yang bisa kalian pecahkan. Jumlah ini dua kali lipat dari game pertamanya. Untuk para pemain baru, keberadaan Safety Mode memberikan mereka kesempatan menikmati cerita di gamenya tanpa khawatir terhalang oleh aspek puzzle-nya.

Bingung dihadapkan langsung oleh tiga gadis.

Atlus jelas ingin membuat game ini lebih terbuka untuk khalayak ramai dan keberadaan Rin sebagai karakter baru juga memberikan sentuhan manis yang menyempurnakan temanya. Sekarang pilihannya tidak hanya “freedom” dan “order” saja. Tapi kalian juga bisa netral dan membuka cerita baru untuk Vincent dan masa depannya. 

Gamenya sendiri terhitung singkat, tapi nilai terbesar game ini terdapat dari ending-nya yang berbeda dan jumlah puzzle yang bisa dimainkan. Untuk sebuah game yang fokusnya terbelah menjadi dua, Atlus telah berhasil memberikan para pemainnya perpaduan yang pas. Cerita dan puzzle bercampur dengan sempurna di gamenya.  

Catherine: Full Body sudah tersedia di PlayStation 4 dan PlayStation Vita atau kalian bisa cek lebih lengkapnya di: https://www.epicsoft.asia/catherinefullbody.

Related posts

Tak Selalu Berhasil, 5 Inovasi Nintendo Ini Justru Tak Laku di Pasaran

MongJi

[Review] Plants vs. Zombies: Battle for Neighborville – Perang Besar Tiada Akhir

MongJi

Tanpa Loot Box, Call of Duty: Modern Warfare Bakal Terapkan Battle Pass

MongJi

Leave a Comment

Leave a review

  • Story
  • Gameplay
  • Presentasi