fbpx
GameFever ID
News Review

[TGS 2019] Impresi Pertama Monster Hunter: Iceborne – Lawan Rajang Seperti Bertemu Kawan Lama

Silaturahmi, itu perasaan aneh yang saya rasakan saat saya di hantam Rajang dengan serangan petirnya. Layaknya kawan lama, pertarungan yang saya lakukan di booth Capcom di Tokyo game show tahun ini terasa seperti sebuah reuni yang semestinya seharus sudah terjadi dari jauh-jauh hari.

Kami diberkahi sesi ekslusif oleh Capcom tahun ini untuk mencoba konten terbaru mereka yang akan turun Oktober nanti. Rajang, si monyet petir ini bisa kalian hadapi di Monster Hunter: Iceborne sebagai konten gratis untuk semua pemain pada Oktober mendatang.

Kesan Pertama

Di Monster Hunter Freedom 2, Rajang cuma perlu delapan menit untuk menghabisi saya sebanyak tiga kali di pertarungan pertama saya dahulu. Saya tentu saja membaik dan bisa dengan konsisten melawan sendiri monyet menyebalkan ini. Namun pertarungan pertama dulu akan selalu saya ingat. Setelah sekian lama absen dari seri Monster Hunter, saya menyambut pertemuan dengan Rajang ini dengan semangat.

Setelah memilih senjata dan armor, saya, rekan saya dan dua rekan jurnalis lainnya langsung terjun untuk menghadapi makhluk satu ini. Lalu perasaan itu datang. Seperti bertemu kawan lama, salam pertama saya kepada Rajang berupa Dragon Piercer ke pantatnya (bukan pilihan yg logis, mengingat dia begitu pendek), lalu silaturahminya dimulai.

Rajang tidak pernah berhenti bergerak.Layaknya Kirin, kita terus menerus diminta untuk mengejar makhluk ini. Keberadaan Clutch Claw sangat membantu untuk menutup jarak. Tidak hanya itu, skil-skill baru dari Clutch Claw juga memberikan potensi besar untuk membuka peluang membuka serangan atau sekedar mengindar.

Tidak sampai empat menit, pemain pertama tewas. Kemudian disusul oleh pemain kedua. Tidak lama kemudian giliran pemain ketiga yang menyusul tewas. Usaha kami dibabak pertama kandas dimenit ke-10. Saat babak kedua dimulai, kami mulai bermain dengan koordinasi yang lebih baik. Perangkap mulai dipasang, paralyze coating mulai dipakai dan semua perlengkapan yang tersedia mulai dipergunakan.

Babak kedua hanya bertahan selama 13 menit. Kami terpaksa harus meninggalkan booth tersebut dengan tangan hampa tanpa berhasil menaklukan Rajang. Tapi yang saya rasakan justru ketenangan. Fakta kalau saya dan teman-teman saya lainnya akan bernostalgia bersama Oktober nanti membuat kekalahan tadi tidak sepahit yang saya kira.

Dalam pertarungan tersebut saya merasakan perasaan nostalgia yang cukup banyak. Move-set Rajang masih mirip dengan apa yang saya hadapi dahulu. Beberapa hal baru yang saya lihat adalah tanganya memerah semakin lama dia berada dalam kondisi saiyan atau rage. Dalam kondisi itu hantamnya terasa meluas dan makin menyakitkan. Sedikit sulit untuk mengukurnya mengingat saya tewas ditempat bahkan saat tidak terkena langsung oleh hantamannya.

Saat Rajang masuk ke rage mode, gerakannya semakin cepat. Serangan nyaris datang tanpa henti, itu ditambah dengan badannya yang mengeras saat menjadi super saiyan memberikan tantangan lebih ke musuh yang sudah terlampau sulit untuk pemain pensiunan seperti saya.

Kesimpulan

Secara garis besar, pertarungan saya mengingatkan saya ke masa indah di kampus dulu. Semua ciri khas dari Rajang masih dipertahankan oleh Capcom. Mereka hanya menambah sedikit sentuhan baru untuk membuat Rajang lebih fresh dimata pemain lama, tapi tetap menjadi momok untuk para pemain baru.

Related posts

Capcom Berkomitmen Bangkitkan IP Lama

Aldurrr

Street Fighter V Bakal Dapat Konten dan Tambahan Karakter Baru

MongJi

Demo Resident Evil 5 dan Resident Evil 6 untuk Switch Sudah Tersedia di eShop

MongJi

Leave a Comment