fbpx
GameFever ID
News Review

[TGS 2019] Impresi Pertama Predator Hunting Grounds – Asymmetric Kembali ke Basic

Asymmetric survival mungkin sudah bukan hal yang jarang didengar dalam lingkup dunia video game. Game-game seperti Dead By Daylight, Identity V, dan Friday The 13th adalah contoh game yang menganut gaya permainan ala Asymmetric survival.

Formula ini terbilang unik di mana satu pemain akan berhadapan dengan banyak pemain lain yang biasanya lebih lemah. Dinamika yang terjadi dalam satu permainan adalah satu karakter jadi pemburu, lalu sisanya menjadi mangsa. Lebih seringnya sang pemburu ini tidak dapat disakiti atau dikalahkan, hanya bisa dihalangi atau dihentikan sementara.

Predators Hunting Ground ingin menghilangkan stigma itu dari genre tersebut. Developer ingin mengembangkan game ini lebih ke skill dan kemampuan tiap pemain yang membuat dinamika pemburu dan mangsa menjadi sesuatu yang bisa berubah kapan saja.

Kesan Pertama

Dalam sesi tes yang kami jalani di Tokyo Game Show 2019 kemarin, saya dan rekan-rekan saya diberikan kehormatan untuk mencoba langsung game ini. Di awal sesi saya pribadi masih sedikit ragu game ini akan bernasib lebih baik dari Evolve, tapi pemikiran saya berubah saat merasakan sendiri gamenya.

Salah satu alasan yang membuat sebuah game asymmetric survival menyenangkan adalah saat kedua pihak merasa kontrobusi mereka dalam permainan membuahkan hasil. Saat pemburu berhasil menaruh perangkap atau saat para mangsa berhasil menyelesaikan satu tugas tanpa ketahuan adalah momen-momen kecil yang membuat genre ini seru.

Menyeimbangkan dinamika kedua belah pihak ini adalah tantangan paling sulit di game asymmetric survival dan Illfonic nampaknya sudah mengarah ke jalan benar.

Permainan saya saat menjadi seorang Predator cukup berbeda bila dibandingkan dengan saat saya menjadi survivor atau dalam hal ini tentara pasukan khusus. Predator dapat menavigasi pohon-pohon dan menggunakan cloak-nya yang khas. Sedangkan para survivor hanya dilengkapi dengan persenjataan manusia.

Predator dimainkan dengan sudut pandang third person, sedangkan survivor bermain dengan sudut pandang first person. Tugas Predator adalah membunuh semua survivor, sedangkan para survivor harus menyelesaikan beberapa misi sebelum akhirnya dijemput helikopter. Perbedaannya terhenti disini dan semua yang terjadi dari awal-sampai akhir sebuah stage bisa berputar 180 derajat.

Predator bisa juga diburu.

Hal yang umum di game asymmetric survival adalah biasanya para survivor hanya punya satu cara untuk menang. Dalam Predator Hunting Grounds, survivor punya banyak cara untuk menang. Dari sini saja sudah terasa motivasi tiap pemain mungkin terpecah. Namun kebebesan ini bisa membuat tiap permainan terasa variatif. Alih-alih menyelesaikan tugas, para survivor malah bisa memburu balik sang predator.

Walaupun dilengkapi dengan berbagai peralatan mutakhir, Predator tetap akan berhadapan dengan empat orang. Satu kesalahan malah bisa berujung fatal. Hal ini langsung saya rasakan dalam tes.

Di sesi pertama predator berhasil menghabisi kami dengan sangat mudah. Pemain lainnya yang kebetulan rekan saya, berhasil dengan cerdik menggunakan cloak dan plasmacaster untuk memecahkan grup dari kejauhan. Setelah kami di habisi satu-persatu, permainan berakhir.

Sesi kedua dimulai dan kini kami jauh lebih proaktif. Semua pemain mulai bergerak sesuai formasi, tidak ada lagi yang berpencar. Semua yang kami lihat, kami laporkan. Baik di in-game menggunakan sistem ping atau sekedar berucap.

Permainan kedua jadi jauh lebih terkoordinasi dan alhasil kami malah berbalik memburu si Predator. Perubahan-perubahan ini memberikan variasi yang penting untuk game asymmetric survival seperti Predator Hunting Ground.

Tidak hanya memberikan motivasi kepada setiap pemain, setiap permainan akan terasa unik. Predator mungkin punya kekuatan canggih, tapi bertarung melawan empat kepala tetap memerlukan strategi terutama saat si pemburu punya nyawa yang bisa habis.

Kesimpulan.

Secara garis besar saya cukup terkesan oleh Predator Hunting Grounds. Dari perbedaaan sudut pandangnya sampai motivasi permainan yang dinamis. Semua hal ini memberikan saya pengalaman bermain coop yang seru.

Saya berharap banyak saat game ini rilis nanti. Semoga akan ada lebih banyak lagi variasi permainan baru yang berbeda dari game-game asymmetric survival lainnya.

Related posts

[TGS 2019] Mencoba Makanannya Para Pemburu di Hunter’s Bar dari Capcom

MongJi

[TGS 2019] 8bit Cafe, Tempat Nostalgianya Gamer Jadul

MongJi

[TGS 2019] Jalan-Jalan ke Artnia Cafe Square Enix di Shinjuku

MongJi

Leave a Comment